30 Nov 2019
JUALAN
“Jiaah, di toko online ada yang lebih murah lo. Beneran, aku pernah lihat. Kalau barang kaya gitu mah, harga ngga sampai segitu” kata salah satu temen menanggapi sebuah tawaran barang dari salah satu temanku yg lain.
Padahal sejak awal, temanku yang jualan itu, tidak pernah menawarkan ke dia. Entahlah, apa sebabnya. Sejak awal jualan, temenku itu paling anti nawarkan barangya padanya. Mungkin selain karena memang dia jarang beli, pasti karena komentar-komentar “pedas” yang selalu muncul ketika mulai ada penawaran penjulan dari temanku itu. Pedas dan tidak pada tempatnya. Dari soal kualitas, harga, bahkan sampai warna. Dia selalu tanya yang tidak ada. Dan tidak lupa nyinyir yang tersedia.
Awalnya sih aku ngga terlalu memikirkan tanggapan itu. Tapi rasanya memang sudah masuk kategori tidak pantas.
Seperti biasa, setiap temanku berseloroh tentang perbandingan harga dengan toko online. Selalu menghasilkan jeda keheningan sesaat. Ak sendiri bingung harus menanggapi apa. Hening dan mengasilkan suara “halu” seekor jangkrik.
“Ampun deh, mulai lagi dia” dalam hati aku berkata.
“Di toko online ada yg jual 54 ribu lo!” Dia menambahkan ucapannya. ....
Tiba-tiba aku merasakan keheningan lebih dari sebelumnya. Sunyi sekali... suara jangkrik berubah menjadi dengingan panjang di telingaku. Pening. Rasa yang sama ketika aku menuju pada emosi tak terkendali. Kejengkelanku memuncak. Dan hampir mengaburkan pandanganku. Satu-satunya cara aku mengendalikan diri, dengan meninggalkan mereka untuk sesaat. Ku basuh muka di “wastafel” tolilet. Sedikit membantu.
62 ribu, harga yang ditawarkan temanku atas barang itu.
Di masa sekarang, hampir semua bisa jadi penjual. Penjual apa saja, kapan saja dan di mana saja. Dengan menggunakan media sosial maupun pertemanan di dunia nyata. Tapi di sisi lain, semua orang juga bisa menjadi pembeli yang mampu membandingkan harga satu dengan yang lain. Semua ada digenggaman. Sangat mudah. Tapi apakah kita akan memilih memberikan sedikit rezeki atau berkat yang kita punya ke pada orang yang tidak kita kenal, daripada teman kita sendiri hanya karena mempertahankan beberapa lembar ribuan dari selisih harga itu?
Tidakkah pernah kita menyadari, banyak harapan yang mungkin dibangun dari beberapa rupiah yang kita berikan. Entah apapun itu. Yang pasti ketika mereka menawarkan barang jualannya. Mereka bukan sedang memanfaatkan kita sebagai teman. Tapi sedang berharap pada orang yang paling dekat dengan dirinya atas usahanya itu.
Kesadaran kita kadang juga lalai, kalau sebenarnya kita itu lebih sering mementingkan diri sendiri daripada teman. Ketika kita mendengar salah satu teman yang mungkin menjadi apa pun. Spontan pikiran kita lebih pada “keuntungan apa yang bisa saya dapatkan dari apa yg dia lakukan saat ini!” Seperti contoh kalau teman buka kafe “ wah, harga teman nih!” Kalau tahu teman punya usaha karaoke “asik, gratis!” Atau apa pun itu. Tanpa pernah berpikir, semua yang dilakukan mereka dibangun dari keringat dan mungkin juga air mata.
Sering kali mental kita hanya dibangun sebagai penerima, daripada pemberi berkat. Kita tahu semua bahwa membantu membuka jalan rezeki orang lain, adalah membuka jalan berkat juga buat kita sendiri.
Kalau tidak mampu membantu membeli, diam adalah pilihan terbaik.
Tak terasa hampir sepuluh menit aku menatap mukaku sendiri di cermin. Peristiwa tadi seakan mengingatkan aku sendiri. Mengingatkan akan hal-hal sederhana. Bagaimana aku harus mengubah caraku berfikir dan memandang dengan sisi yang benar atas usaha atau apapun sejenisnya dari teman dan orang di sekitar.
“Jiaah, di toko online ada yang lebih murah lo. Beneran, aku pernah lihat. Kalau barang kaya gitu mah, harga ngga sampai segitu” kata salah satu temen menanggapi sebuah tawaran barang dari salah satu temanku yg lain.
Padahal sejak awal, temanku yang jualan itu, tidak pernah menawarkan ke dia. Entahlah, apa sebabnya. Sejak awal jualan, temenku itu paling anti nawarkan barangya padanya. Mungkin selain karena memang dia jarang beli, pasti karena komentar-komentar “pedas” yang selalu muncul ketika mulai ada penawaran penjulan dari temanku itu. Pedas dan tidak pada tempatnya. Dari soal kualitas, harga, bahkan sampai warna. Dia selalu tanya yang tidak ada. Dan tidak lupa nyinyir yang tersedia.
Awalnya sih aku ngga terlalu memikirkan tanggapan itu. Tapi rasanya memang sudah masuk kategori tidak pantas.
Seperti biasa, setiap temanku berseloroh tentang perbandingan harga dengan toko online. Selalu menghasilkan jeda keheningan sesaat. Ak sendiri bingung harus menanggapi apa. Hening dan mengasilkan suara “halu” seekor jangkrik.
“Ampun deh, mulai lagi dia” dalam hati aku berkata.
“Di toko online ada yg jual 54 ribu lo!” Dia menambahkan ucapannya. ....
Tiba-tiba aku merasakan keheningan lebih dari sebelumnya. Sunyi sekali... suara jangkrik berubah menjadi dengingan panjang di telingaku. Pening. Rasa yang sama ketika aku menuju pada emosi tak terkendali. Kejengkelanku memuncak. Dan hampir mengaburkan pandanganku. Satu-satunya cara aku mengendalikan diri, dengan meninggalkan mereka untuk sesaat. Ku basuh muka di “wastafel” tolilet. Sedikit membantu.
62 ribu, harga yang ditawarkan temanku atas barang itu.
Di masa sekarang, hampir semua bisa jadi penjual. Penjual apa saja, kapan saja dan di mana saja. Dengan menggunakan media sosial maupun pertemanan di dunia nyata. Tapi di sisi lain, semua orang juga bisa menjadi pembeli yang mampu membandingkan harga satu dengan yang lain. Semua ada digenggaman. Sangat mudah. Tapi apakah kita akan memilih memberikan sedikit rezeki atau berkat yang kita punya ke pada orang yang tidak kita kenal, daripada teman kita sendiri hanya karena mempertahankan beberapa lembar ribuan dari selisih harga itu?
Tidakkah pernah kita menyadari, banyak harapan yang mungkin dibangun dari beberapa rupiah yang kita berikan. Entah apapun itu. Yang pasti ketika mereka menawarkan barang jualannya. Mereka bukan sedang memanfaatkan kita sebagai teman. Tapi sedang berharap pada orang yang paling dekat dengan dirinya atas usahanya itu.
Kesadaran kita kadang juga lalai, kalau sebenarnya kita itu lebih sering mementingkan diri sendiri daripada teman. Ketika kita mendengar salah satu teman yang mungkin menjadi apa pun. Spontan pikiran kita lebih pada “keuntungan apa yang bisa saya dapatkan dari apa yg dia lakukan saat ini!” Seperti contoh kalau teman buka kafe “ wah, harga teman nih!” Kalau tahu teman punya usaha karaoke “asik, gratis!” Atau apa pun itu. Tanpa pernah berpikir, semua yang dilakukan mereka dibangun dari keringat dan mungkin juga air mata.
Sering kali mental kita hanya dibangun sebagai penerima, daripada pemberi berkat. Kita tahu semua bahwa membantu membuka jalan rezeki orang lain, adalah membuka jalan berkat juga buat kita sendiri.
Kalau tidak mampu membantu membeli, diam adalah pilihan terbaik.
Tak terasa hampir sepuluh menit aku menatap mukaku sendiri di cermin. Peristiwa tadi seakan mengingatkan aku sendiri. Mengingatkan akan hal-hal sederhana. Bagaimana aku harus mengubah caraku berfikir dan memandang dengan sisi yang benar atas usaha atau apapun sejenisnya dari teman dan orang di sekitar.




0 Response to "30 Nov 2019"
Posting Komentar