10 Maret 2018

Sudahlah, berusaha untuk nampak sempurna dari segalah unsur diri sendiri itu tidak mudah. Susah, dan bahkan mungkin mustahil untuk diwujudkan. Seandainya pun bisa pastilah sangat melelahkan. Karena pada dasarnya kita tercipta tidak sempurna.
Kita tidak bisa jadi 100% sebagai bagian dari keluarga, dan di sisi lain menjadi total 100% di dalam bagian pekerjaan di kantor, ditambah lagi kita berusaha maksimal 100% menjadi bagian komunitas teman-teman.
Bisa dianalogikan bagian diri kita selayak sebuah sarung yang berusaha untuk menutupi tubuh yang pada kenyataanya lebih besar dari ukuran sarung itu sendiri. Ketika ditarik ke atas, akan terbukalah bagian bawah, dan juga ketika di tarik ke bawah, bakalan terjadi hal yang sama.
Setidaknya yang harus kita pahami, kita bisa menentukan kapan dan kemana sarung itu harus ditarik. Bukan terus ke atas, tanpa mempedulikan bagian bawah, atau pun sebaliknya. Semua harus berimbang. Tanpa ada yang diistimewakan.
Kesempurnaan diri adalah kemampuan mewujudkan kecerdasan kita dalam memaknai setiap waktu yang kita miliki. Setinggi apapun cita-cita dan harapan, sedalam apapun mimpi yang kita jalani, kita harus tetap sadar, bahwa kita sedang ada di kehidupan yang "sadar". Bukan terus terobsesi dengan keinginan sendiri, dan kita harus menyadari ada orang lain yang membutuhkan kita. Membutuhkan kita hadir diantara mereka. Bukan hanya sekedar kehadiran fisik, tapi tatapan yang dalam, tawa yang lepas, dan perhatian yang hanya terfokus pada tema yang sama dalam waktu dan tempat yang sama.
"tapi semua ini aku lakukan untuk mereka. Aku habiskan waktu demi mereka!"
Benar. Mereka tidak mungkin terlepas dari kebutuhan yang sekarang kamu kejar. Tapi coba tengok, berapa persen obsesimu yang hanya untuk diri sendiri dan berapa persen untuk mereka? Sesekali buatlah daftar keinginan yang ada dikepalamu, seberapa banyak, tertulis nama mereka di deretan daftar keinginan dan cita-citamu?

Read Users' Comments (0)

0 Response to "10 Maret 2018"

Posting Komentar