04 Jan 2018
"Ojo Cedak Kebo Gupak". Sebuah falsafah jawa lama, yang dulu sangat akrab dan kita pahami betul makna dan penjelasannya.
Sebuah nasihat yang bisa diterjemahkan dalam bahasa indonesia "jangan dekat kerbau yang kotor, nanti kita ikut kotor"
Filosofi yang dalam, dengan menggunakan analogi tentang kerbau. Kerbau yang dahulu digambarkan selalu berada di kubangan yang kotor, karena lingkungan yang kotor juga. Bahkan kerbau dipilih, bukan hanya kekotorannya. Kerbau pun banyak digunakan sebagai analogi kebodohan. Mampu bekerja hanya pada tatanan intruksi, minim inisiatif, dan jauh dari kreativitas.
Kerbau yang kotor dan bodoh, menjadi objek yang digambarkan mampu menularkan ketidakbaikannya kepada orang lain. Sehingga tidak sepantasnya untuk di dekati.
Zaman berubah, pemikiran semakin berkembang. Semenjak dipahaminya bahwa diri pribadi seseorang bukan hanya mampu menjadi obyek peniru, atau pem"beo" orang lain. Dan semenjak disadarinya setiap pribadi mempunyai keistimewaan. Tidak perlu sirisaukan lagi tentang menularnya hal apapun termasuk kekotoran dan kebodohan tadi. Mungkin bagi beberapa pemikiran yang lemah, mengkhawatirkan adanya kontaminasi atas orang lain terhadap dirinya, dan akan mengamini falsafah di atas. Tapi bagi orang yang sudah menyadari tentang kehidupan dan meyakini betul tentang apa yang benar dan salah. Dia justru akan membawa kerbau itu jauh dari kubangan, memandikan, dan mengajarinya. Terlebih, dia akan memanfaatkan segi kebaikan dan ketulusan yang dimiliki oleh sekawanan kerbau yang (dulunya) kotor dan bodoh.
Sebuah nasihat yang bisa diterjemahkan dalam bahasa indonesia "jangan dekat kerbau yang kotor, nanti kita ikut kotor"
Filosofi yang dalam, dengan menggunakan analogi tentang kerbau. Kerbau yang dahulu digambarkan selalu berada di kubangan yang kotor, karena lingkungan yang kotor juga. Bahkan kerbau dipilih, bukan hanya kekotorannya. Kerbau pun banyak digunakan sebagai analogi kebodohan. Mampu bekerja hanya pada tatanan intruksi, minim inisiatif, dan jauh dari kreativitas.
Kerbau yang kotor dan bodoh, menjadi objek yang digambarkan mampu menularkan ketidakbaikannya kepada orang lain. Sehingga tidak sepantasnya untuk di dekati.
Zaman berubah, pemikiran semakin berkembang. Semenjak dipahaminya bahwa diri pribadi seseorang bukan hanya mampu menjadi obyek peniru, atau pem"beo" orang lain. Dan semenjak disadarinya setiap pribadi mempunyai keistimewaan. Tidak perlu sirisaukan lagi tentang menularnya hal apapun termasuk kekotoran dan kebodohan tadi. Mungkin bagi beberapa pemikiran yang lemah, mengkhawatirkan adanya kontaminasi atas orang lain terhadap dirinya, dan akan mengamini falsafah di atas. Tapi bagi orang yang sudah menyadari tentang kehidupan dan meyakini betul tentang apa yang benar dan salah. Dia justru akan membawa kerbau itu jauh dari kubangan, memandikan, dan mengajarinya. Terlebih, dia akan memanfaatkan segi kebaikan dan ketulusan yang dimiliki oleh sekawanan kerbau yang (dulunya) kotor dan bodoh.




0 Response to "04 Jan 2018"
Posting Komentar