15 April 2019
Menahan diri, menggali lagi, mencari lagi, dan baru meyakini.
Setiap orang mempunyai sensitifitas yang berbeda-beda. Dalam hal ini yang saya maksud adalah sensitifitas dalam menanggapi saat mendapatkan informasi tentang sesuatu hal. Tanggapan setiap orang akan diwujudkan dalam hal yang berbeda-beda pula. Marah, ngumpat, maki, nyinyir, atau hal lain sesuai dengan tingkatannya masing-masing. Tentunya sesuai level tingkatan sensitifitas yang saya bilang di awal.
Di sisi lain, informasi datang silih berganti. Tanpa ada jeda dan tanpa ada yang mampu mengendalikan. Jejaringan sosial mempunyai andil besar dalam gencar dan cepatnya semua hal itu tesebar. Tidak ada jaminan atau pihak tertentu yang memastikan bahwa apapun yang muncul di “gadget” kita adalah sebuah kebenaran.
“Cerdas dan Jeli” menjadi satu-satunya lentera kita dari kesesatan informasi. Tanpa kecerdasan dan kejelian, kita akan hanya menjadi bunyi tanpa makna, tanpa nada, apalagi harmoni yang mencerahkan.
Maka dari itu lebih baik, gunakan akal (yg bener-bener) sehat. Dalam menyikapi dan menanggapi sesuatu. Bukan membabi-buta memakan setiap berita. Tanpa memikirkan fakta hanya karena serasa enak sesuai dengan apa yang kita yakini.
Setiap orang mempunyai sensitifitas yang berbeda-beda. Dalam hal ini yang saya maksud adalah sensitifitas dalam menanggapi saat mendapatkan informasi tentang sesuatu hal. Tanggapan setiap orang akan diwujudkan dalam hal yang berbeda-beda pula. Marah, ngumpat, maki, nyinyir, atau hal lain sesuai dengan tingkatannya masing-masing. Tentunya sesuai level tingkatan sensitifitas yang saya bilang di awal.
Di sisi lain, informasi datang silih berganti. Tanpa ada jeda dan tanpa ada yang mampu mengendalikan. Jejaringan sosial mempunyai andil besar dalam gencar dan cepatnya semua hal itu tesebar. Tidak ada jaminan atau pihak tertentu yang memastikan bahwa apapun yang muncul di “gadget” kita adalah sebuah kebenaran.
“Cerdas dan Jeli” menjadi satu-satunya lentera kita dari kesesatan informasi. Tanpa kecerdasan dan kejelian, kita akan hanya menjadi bunyi tanpa makna, tanpa nada, apalagi harmoni yang mencerahkan.
Maka dari itu lebih baik, gunakan akal (yg bener-bener) sehat. Dalam menyikapi dan menanggapi sesuatu. Bukan membabi-buta memakan setiap berita. Tanpa memikirkan fakta hanya karena serasa enak sesuai dengan apa yang kita yakini.




0 Response to "15 April 2019"
Posting Komentar