14 Juli 2019
Ada banyak hal yang mampu kita pelajari, atau setidaknya mampu menjadi pengingat kembali bagi kita dalam menjalani kehidupan dan kebersamaan di alam semesta ini, ketika kita menikmati setiap alur cerita film-film hasil produksi “Marvel Studios”.
Bukan hanya ceritanya yang memikat, atau teknologi animasinya yang memukau. Tapi bagaimana setiap karakter yang dibentuk dan diciptakan begitu kuat dan mengesankan. Tapi bagiku, setiap kali menonton film barunya, selalu aku fokuskan, pesan apa yang akan disampaikan di dalam cerita tersebut. Ya, tantunya banyak yang kita bisa simpulkan. Tapi menurut pengalamanku, selalu ada hal besar dan khusus yang diangkat dalam setiap judul.
Seperti halnya di “Infinity War”, Tanos digambarkan sebagai orang yang begitu realistis mempunyai tujuan yang bisa dipertanggungjawabkan alasannya. Tujuan dia baik, demi sesuatu yang menurut dia baik. Bahkan digambarkan di situ, walau harus mengorbankan sesuatu yang paling dia cintai pun, dia lakukan. Tapi apa yang dia lakukan untuk mencapai tujuan itu tidak benar. Banyak hal yang dikorbankan. Harus ada kepedulian saat mencapai sebuah tujuan, bukan hanya fokus pada titik finish tapi proses menjadi yang utama.
Dalam “Captain America” Tanos mengalami kekalahan. Tapi kali ini fokus pada Captain America, dan fokus yang bisa dipelajari adalah, bagaimana kita mampu mengalahkan orang lain yang mempunyai kekuatan besar, jika kita tidak mampu mengalahkan diri sendiri? Captain America mendapatkan kekuatan besar ketika dia mulai mampu melawan bayang-bayang masa lalau (kepahitan) yang pernah dialaminya. Banyak orang merasa tidak mampu maju dan berkembag karena terganggu oleh luka masa lalu. Banyak orang yang merasa selalu gagal, karena dia belum mengalami pemulihan. Pemulihan atas bayang-bayang masa lalu atau pun luka masa lalu.
Mungkin ada kaitannya, sepeninggal Stan lee. Seseorang yang punya peran sebagai penulis semua cerita dalam tokoh ini. “Endgame” menjadi film yang paling ditunggu beberapa waktu lalu. Benar juga, cerita lebih mengharu biru. Menyentuh.
Setiap tokoh digambarkan secara detail bagaimana mereka menjalani kehidupan pribadinya masing2. Penonton diajak untuk berpikir dan melihat kembali bagaimana pentingnya diri dalam menjalani setiap waktu yang diberikan. Waktu begitu berharga. Mereka diajak kembali melihat apa yang sudah mereka lakukan selama menjalaninya. Entah secara pribadi, maupun dalam keluarga atau pasanganya. Hampir semua merasa ingin mengulang kembali dan mengubah segala yang salah menjadi yg lebih ideal. Captain America dan Tony Stark mengorbankan segalanya demi memperbaiki akibat dari kesalahan masa lalu. Kita diajak berfikir bahwa waktu adalah sesuatu yang tak ternilai harganya. Dan jangan sampai menyesal nantinya. Karena semua tidak bisa diulang.
“Far From Home” juga menggambarkan realita kehidupan sekarang. Banyak orang mempercayai dan meyakini sesuatu yang sebenarnya hanya sebuah ilusi semata. Banyak orang hanya mempercayai apa yang nampak di depan mata. Naluri Peter Parker yang mampu menghadapi semuanya. Setiap orang dibekali naluri. Walau tidak semua menyadari, apalagi menggunakannya. Sehingga benar apa yang dikatakan tokoh Mysterio bahwa mudah sekali membuat orang meyakini sesuatu yang sebenarnya semu dan tidak nyata (Hoax). Kita harus sadar, apa yang kita lihat, apa yang banyak orang yakini belum tentu hal yang sebenarnya. Banyak cara iblis yang nampak seperti malaikat memanipulasi apapun. Bahkan di akhir cerita kematian Mysterio, masih juga berusaha untuk memberikan pemahaman palsu. Yang dia yakini pasti akan disukai oleh banyak orang.
Bukan hanya ceritanya yang memikat, atau teknologi animasinya yang memukau. Tapi bagaimana setiap karakter yang dibentuk dan diciptakan begitu kuat dan mengesankan. Tapi bagiku, setiap kali menonton film barunya, selalu aku fokuskan, pesan apa yang akan disampaikan di dalam cerita tersebut. Ya, tantunya banyak yang kita bisa simpulkan. Tapi menurut pengalamanku, selalu ada hal besar dan khusus yang diangkat dalam setiap judul.
Seperti halnya di “Infinity War”, Tanos digambarkan sebagai orang yang begitu realistis mempunyai tujuan yang bisa dipertanggungjawabkan alasannya. Tujuan dia baik, demi sesuatu yang menurut dia baik. Bahkan digambarkan di situ, walau harus mengorbankan sesuatu yang paling dia cintai pun, dia lakukan. Tapi apa yang dia lakukan untuk mencapai tujuan itu tidak benar. Banyak hal yang dikorbankan. Harus ada kepedulian saat mencapai sebuah tujuan, bukan hanya fokus pada titik finish tapi proses menjadi yang utama.
Dalam “Captain America” Tanos mengalami kekalahan. Tapi kali ini fokus pada Captain America, dan fokus yang bisa dipelajari adalah, bagaimana kita mampu mengalahkan orang lain yang mempunyai kekuatan besar, jika kita tidak mampu mengalahkan diri sendiri? Captain America mendapatkan kekuatan besar ketika dia mulai mampu melawan bayang-bayang masa lalau (kepahitan) yang pernah dialaminya. Banyak orang merasa tidak mampu maju dan berkembag karena terganggu oleh luka masa lalu. Banyak orang yang merasa selalu gagal, karena dia belum mengalami pemulihan. Pemulihan atas bayang-bayang masa lalu atau pun luka masa lalu.
Mungkin ada kaitannya, sepeninggal Stan lee. Seseorang yang punya peran sebagai penulis semua cerita dalam tokoh ini. “Endgame” menjadi film yang paling ditunggu beberapa waktu lalu. Benar juga, cerita lebih mengharu biru. Menyentuh.
Setiap tokoh digambarkan secara detail bagaimana mereka menjalani kehidupan pribadinya masing2. Penonton diajak untuk berpikir dan melihat kembali bagaimana pentingnya diri dalam menjalani setiap waktu yang diberikan. Waktu begitu berharga. Mereka diajak kembali melihat apa yang sudah mereka lakukan selama menjalaninya. Entah secara pribadi, maupun dalam keluarga atau pasanganya. Hampir semua merasa ingin mengulang kembali dan mengubah segala yang salah menjadi yg lebih ideal. Captain America dan Tony Stark mengorbankan segalanya demi memperbaiki akibat dari kesalahan masa lalu. Kita diajak berfikir bahwa waktu adalah sesuatu yang tak ternilai harganya. Dan jangan sampai menyesal nantinya. Karena semua tidak bisa diulang.
“Far From Home” juga menggambarkan realita kehidupan sekarang. Banyak orang mempercayai dan meyakini sesuatu yang sebenarnya hanya sebuah ilusi semata. Banyak orang hanya mempercayai apa yang nampak di depan mata. Naluri Peter Parker yang mampu menghadapi semuanya. Setiap orang dibekali naluri. Walau tidak semua menyadari, apalagi menggunakannya. Sehingga benar apa yang dikatakan tokoh Mysterio bahwa mudah sekali membuat orang meyakini sesuatu yang sebenarnya semu dan tidak nyata (Hoax). Kita harus sadar, apa yang kita lihat, apa yang banyak orang yakini belum tentu hal yang sebenarnya. Banyak cara iblis yang nampak seperti malaikat memanipulasi apapun. Bahkan di akhir cerita kematian Mysterio, masih juga berusaha untuk memberikan pemahaman palsu. Yang dia yakini pasti akan disukai oleh banyak orang.




0 Response to "14 Juli 2019"
Posting Komentar