18 April 2019
“Kenapa nak, Kok cemberut?” Tanyaku kepada anakku yg besar sepulang dari main sepak bola di lapangan dekat rumah.
“Mereka curang!” Tanpa memberi penjelasan, langsung masuk ke kamarnya.
Sebenarnya aku tidak memerlukan penjelasan tentang pernyataan dia. Karena seperti biasanya, dan seperti dugaanku, kalau dia pulang dan kalah main. Pasti dia selalu seperti itu. Pernah sih, ak mencoba menanyakan prihal kecurangan apa yg dialaminya. Tapi kayanya dia sudah cukup puas dengan mengatakan “curang” tanpa harus menjelaskan.
Aku biarkan situasi itu. Sengaja aku biarkan agar dia mulai belajar menerima kekalahan. Biarkan dia mulai mengerti bahwa setiap kompetisi selalu ada yang menang dan kalah. Selain karena memang dia masih anak-anak. Dia juga masih pada masa pembelajaran dalam kehidupan.
Wajar sih buat anak-anak, Mempunyai reaksi seperti itu ketika menerima kekalahan. Aku pun pernah mengalami saat aku juga masih kecil.
Belum bisa menerima kekalahan memang identik dengan anak-anak dan orang dewasa yang kekanak-kanaan. Namun hal itu berlangsung tidak lama. Hanya sekedar menjaga sesuatu yang ada dalam dirinya. Entahlah apa itu namanya.
Tapi sekarang anakku sudah gede. Sudah mampu menerima sebuah kekalahan. Sudah mengerti bahwa banyak hal yang bisa dipelajari dari sebuah kekalahan. Daripada terus mengutuk dan mencari kambing yang berwarna hitam.
“Mereka curang!” Tanpa memberi penjelasan, langsung masuk ke kamarnya.
Sebenarnya aku tidak memerlukan penjelasan tentang pernyataan dia. Karena seperti biasanya, dan seperti dugaanku, kalau dia pulang dan kalah main. Pasti dia selalu seperti itu. Pernah sih, ak mencoba menanyakan prihal kecurangan apa yg dialaminya. Tapi kayanya dia sudah cukup puas dengan mengatakan “curang” tanpa harus menjelaskan.
Aku biarkan situasi itu. Sengaja aku biarkan agar dia mulai belajar menerima kekalahan. Biarkan dia mulai mengerti bahwa setiap kompetisi selalu ada yang menang dan kalah. Selain karena memang dia masih anak-anak. Dia juga masih pada masa pembelajaran dalam kehidupan.
Wajar sih buat anak-anak, Mempunyai reaksi seperti itu ketika menerima kekalahan. Aku pun pernah mengalami saat aku juga masih kecil.
Belum bisa menerima kekalahan memang identik dengan anak-anak dan orang dewasa yang kekanak-kanaan. Namun hal itu berlangsung tidak lama. Hanya sekedar menjaga sesuatu yang ada dalam dirinya. Entahlah apa itu namanya.
Tapi sekarang anakku sudah gede. Sudah mampu menerima sebuah kekalahan. Sudah mengerti bahwa banyak hal yang bisa dipelajari dari sebuah kekalahan. Daripada terus mengutuk dan mencari kambing yang berwarna hitam.




0 Response to "18 April 2019"
Posting Komentar