10 Nov 2018

Sepanjang film diputar, keharuan yang aku rasakan seperti biasa. Seperti film-film menyentuh hati lainnya. Keharuan terasa naik turun seiring dengan jalan cerita. Tapi tidak seperti ketika diujung cerita. Saat surat itu dibacakan. Rasa sesak yang memenuhi dadaku dan ganjalan besar di tenggorokan itu, tak mampu kugambarkan dan semakin menghambat setiap hela nafasku.
"Yah, papa nangis, baru ini papa nangis habis lihat film!" Kata salah satu anakku.
Memang, bisa dikatakan inilah satu-satunya film yang membentuk keharuan besar, justru ketika aku keluar dari bioskop. Entahlah, ak sendiri tidak tahu pasti. Bagian mana, sisi cerita tersebut yang mampu mengalahkan pertahananku untuk tetap terlihat "tegar" oleh sedihnya sebuah cerita film di depan anak-anakku. Aku kalah, iya aku akui memang aku kalah. Mungkin selain karena cerita itu diambil dari kisah yang nyata. Semua yang tertuang dari seluruh cerita memberikan inspirasi dan membuat aku terlihat sangat "kerdil".
Aku merasa kerdil. Merasa jahu dari selayaknya seorang ayah, yang mempunyai harapan besar pada setiap anak-anaknya. Seorang ayah yang bukan hanya sekedar memberikan pelajaran lewat kata-kata. Tapi sebuah tindakan yang juga luar biasa besar, sebesar harapannya sendiri. Menjadi cermin bagaimana anak harus berbenah diri.
Aku merasa kerdil. Merasa jauh dari selayaknya seseorang yang telah merasa mampu memahami kebenaran. Yang bukan hanya sekedar memahami, tapi bagaimana menerapkan dan mempertahankan sebuah kebenaran di atas segalanya. Walau apa pun yang akan terjadi dan walaupun terpaksa perlu pengorbanan diri.
Aku merasa kerdil, dan merasa jauh dari selayaknya orang yang paham akan arti sebuah kepedulian. Yang bukan hanya sebatas kepedulian yang tanpa pamrih dan alasan. Kepedulian yang bukan hanya terlihat di permukaan dan pengen dilihat. Kepedulian yang hanya mau melakukan saat merasa mampu melakukan.
Tidak ada unsur yang condong pada nilai politik tertentu. Atau menonjolkan agama tertentu. Aku perhatikan, tidak ada satu adegan pun di film tersebut yang menggambarkan sebuah ritual salah satu agama. Walau sekedar doa makan sekali pun. Bahkan tidak nampak simbol-simbol keagamaan yang ditonjolkan di sana.
Film ini menggambarkan bagaimana memegang prinsip kebenaran yang universal. Hal itulah yang semakin memberikan nilai lebih.
Nilai yang lebih pada pengertian bahwa, bagaiman peran keluarga dalam membentuk karakter generasi-generasi berikutnya. Keluarga harus mampu memberikan bukan hanya sekedar pengertian, tapi sebuah prinsip yang ditanam dengan contoh yang nyata. Sehingga akan berdampak pada setiap pribadi anak dan akhirnya mampu membangun kebesaran dan kemajuan negara. Sehingga setiap generasi layak disebut sebagai pahlawan bagi generasi berikutnya.

Read Users' Comments (0)

0 Response to "10 Nov 2018"

Posting Komentar