20 Des 2012

Jikalau kau tanya, "apakah mataku yang indah, atau bibirku yang manis, atau pikiranku yang cerdas, atau suaraku yang merdu ataupun tubuhku yang gemulai yang membuat mu jatuhkan hati tetap padaku?" jawabku bukan apa dari antaranya.  Tapi bagaimana  tatapmu yang mampu teduhkan gerahku dengan senyum bibirmu yang selalu menghiburku, dari positifnya pikirmu yang membangun harapanku dan ucapmu yang mampu menenangkan gundahku serta tubuh yang kau pastikan terjaga dari selainku.

Read Users' Comments (0)

24 Feb 2017

Banyak postingan di media sosial, tentang opini atau pun fakta yang berkaitan dengan lawan politik atau bicara tentang pasangan pilihannya. Postingan yang lunak maupun fulgar semua seakan bernada menjatuhkan. Bukan tidak sengaja, semua memang sudah diatur sedemikian rupa, berharap apapun yang ditulis akan memberikan dampak perubahan pemikiran dari pendukung lawan berbalik ke dukungannya. Semua tulisan, foto, atau pun video dengan disertai data lengkap, atau hanya berupa analisa pribandi yang jauh dari sifat ilmiah begitu gampang kita temui di halaman dinding dan pemberitaan. Semua menjadi senjata untuk saling menyerang. Saling menjatuhkan, dan bahkan terkesan mulai saling mengolok-olok.
Fenomena seperti ini hampir selalu ditemukan dalam setiap moment serupa pilkada di belahan dunia mana pun.
Entah berharap dukungan lawan akan berubah, atau hanya sekedar memperolok kekuarangan lawan, yang pasti semua sudah nampak sebagai perang terbuka untuk saling mengubah tanggapan dan pilihan.
Perubahan tanggapan dan pilihan seseorang memang bisa dipengaruhi oleh data ilmiah dan data yang valid. Setiap orang pasti akan berubah bila melihat kenyataan bahwa apa yang dipikirkan dan diyakini itu ternyata salah. Tapi itu jika kita memilih berdasarkan akal sehat dan pemikiran yang logis.
Dari jaman mulai orang mengenal peradaban dan pengetahuan, pemahaman agama dan ilmu pengetahuan memang hampir tidak sejalan. Terutama tentang apa pun yang terjadi, dan kejadian atas penciptaan dunia. Setiap orang meyakini keduanya benar, tapi bermuara dari hal yang berbeda. Logis dan iman. Logis dimulai dengan teori yang ilmiah, tapi iman tidak butuh pembuktian. Bahkan teori tentang bentuk bumi pun sampai sekarang masih ada yang berkeyakinan berbeda. Ada yang bulat, bahkan ada yang mati-matian mengatakan datar. Banjir yang terjadi baru baru ini pun ada yang beranggapan bahwa itu karena kemarahan sang pencipta atas ciptaanya. Bukan dari dampak kesalahan banyak orang, apalagi tentang siklus lima tahunan.
Seperti yang saya pernah katakan, keyakinan yang tanpa akal sehat, akan menjadi komoditi yang menjanjikan digunakan untuk penggalangan segmen pasar perpolitikan. Terutama di indonesia. Yang sebagian besar masih menggunakan iman kepercayaan tanpa akal sehat. Sehingga apa pun yang mereka yakini benar, ketika menemukan fakta kebenaran baru yang bertolak belakang, iman yang bicara, bukan logika dan akal sehat.
Para elit politik memanfaatkan hal ini sebagai tonggak yang kuat bagi pendukung pasangan yang diusung. Serangan apapun, yang menjelaskan fakta ataupun data, tak akan mampu mengubah pilihan mereka karena ini adalah panggilan iman.
Jadi upaya memberikan opini itu tidak sepenuhnya mampu menjelaskan. Penggunaan data ilmiah tak akan bisa menggoyah apalagi mengoyak selaput kuat yang menyelubungi pikiran mereka.
Jadi percuma kita saling memberikan data ataupn cerita, jika pada akhirnya hanya bermuara pada keretakan satu sama lain. Ini seperti mendebatkan keyakinan masing-masing. Keyakinan yang sudah ditanam dari sejak kita keluar dari rahim bunda. Mustahil dan hampir tak akan berhasil. Percuma jika kita terus memadukan sesuatu yang riil dengan dunia yang masih bayangan dan katanya.
Cacian, fitnah, olokan, dan hal-hal lain akan terus menghiasi dinding-dinding pikiran dan media sosial kita.
Asudahlah, percuma aku lanjutkan tulisan jika logika tak kau gunakan...

Read Users' Comments (0)

17 Maret 2017

.....: Enak jamanku to?
.....: Apa?!
.....: Mbahmu kiper!
Jawaban yang selalu tiba-tiba ingin aku ucapkan ketika mendengarkan istilah perbandingan jaman sekarang dan jaman dahulu, zaman dimana ketika kekuasaan benar-benar dikuasai oleh sebuah rezim.
Masa dimana segala sesuatu penuh dengan manipulasi dan kepura-puraan.
Bagaimana tidak. Masih ingat pada masa itu, hal-hal yang dulu serasa wajar dan dimaklumi, ternyata sekarang menjadi sesuatu yang jauh dari kepantasan. Masa lalu menjadi kenangan indah, hanya pada taraf indahnya masa remaja dan jernihnya sungai yang menjadi satu-satunya tempat kami menghabiskan waktu-waktu yang panjang.
Kesadaran tentang bobroknya sistem dan pelayanan pemerintahan muncul ketika kesadaran itu disuarakan dengan lantang dan mengancurkan dinding penguasa saat itu.
Lagu nina bobo yang terus dinyanyikan untuk rakyat saat itu bener-benar mampu membangun mimpi-mimpi yang tak pernah berhenti. Mimpi yang menidurkan kesadaran rakyat akan hak tentang sesuatu yang layak. Bahkan layak pun sudah dimanipulasi dan dipoles dengan standar yang bersandar pada titik nadir.
Semua nampak tragis dan nelangsa, kalau dibicarakan.
Bagaimana tidak tragis, karena ulah monopoli keputusan pemerintah tentang uang beras bagi pegawai negeri dengan memotong harga beli beras dengan kualitas baik, tapi mengirimkan beras dengan hampir 25%nya berisi kutu, dan bahan pemutih sebagai alat kamuflase supaya terlihat layak untuk dikumsumsi menjadi pemandangan dan pengalamanku dari sejak lahir sampai masuk remaja. Tak aku sadari semua serasa berjalan biasa saja. Dan hampir separuh dari masa pertumbuhanku dipasok dengan protein hewani dari kutu yang mungkin tidak sengaja terkirim oleh bersama beras2 itu.
Masih jelas di benak, bagaimana seluruh air di parit belakang rumah mendadak menjadi putih ketika ibu sedang mencuci beras sebelum dimasak. Warna yang dihasilkan dari banyaknya pemutih yang waktu itupun tak aku sadari bahwa itu adalah pemutih.
Lebih konyol lagi, layaknya istri seorang pegawai negeri di sebuah desa, ibuku dituntut aktif dalam kegiatan yang berkaitan dengan kegiatan desa, atau bahkan sampai kegiatan tingkat kabupaten. Dari kegiatan perkumpulan ibu-ibu PKK sampai kegiatan mempersiapkan skenario konyol bila akan ada kunjungan dari kepala daerah atau setingkatnya. Menyulap kebun kosong warga menjadi apotik hidup dalam semalam. Dengan cara mengumpulkan tanaman yang sudah hidup dalam pot. Menaman se-pot2 nya. Atau membantu membuat kolam ikan dengan melubangi tanah dan melapisinya dengan plastik. Seakan menjadi agenda rutin yang sudah saling dipahami. "asal bapak senang" itulah visi yang dipegang saat orde itu berjalan. Memanipulasi, dan merekayasa itu agenda yang pasti.
Setelah lulus SMA, kuliah hanya menjadi acara untuk mencari status. Toh, nanti lulus kuliah, cukup gampang untuk mencari kerja. Asal ada koneksi dan uang. Posisi langsung kepegang.
Sudah banyak kok contoh!
Tono anak tetangga, sekolah tidak terlalu pitar, bahkan termasuk naik kelas saja sukar. Bisa diterima ke sekolah bergengsi ikatan dinas milik pemerintah karena ada fulus yang dipersiapkan. Semua serba gampang untuk berlaku curang.
Bicara soal kesehatan. Ada puskesmas, gedung yang dipunyai tidak pernah berubah dari saya lahir sampai mau kuliah. Dan praktik bidan beralih di rumahnya. Karena memang lebih layak, karena memang setiap tahun mampu dia renovasi rumah. Dan entah dia dapat dari mana biayanya.
Hiburan, satu-satunya adalah televisi yang hanya mempunyai satu siaran, itu pun berisi tayangan hasil manipulasi sebuah keberhasilan pembangunan. Dengan slogan-slogan tentang tanah kita adalah tanah surga. Tapi surga bagi sebagian yang mampu menguasainya.
Tidak semua mendapatkan surga itu, terutama bagi keluarga teman SD ku. Seluruh keturunan tidak punya hak apapun di negeri ini, karena leluhurnya pernah menjadi simpatisan sebuah partai yang dilarang oleh penguasa saat itu.
Beruntung bapaknya tidak ikut dibantai saat itu. Mungkin Tuhan belum berkehendak. Karena hanya Tuhan yang mampu menyelamatkan nyawa seseorang yang dianggap dan dicap PKI dari pembantaian masal saat itu. Tanpa pengadilan, tanpa penjelasan. Rakyat dipakai menghabisi rakyat. Pikiran mereka yang polos dan tangan mereka yang bersih, dipaksa menumpahkan darah saudaranya sendiri.
Orde yang dimulai dengan tumpahnya bergalon-galon darah. Pasti mampu melaksanakan pemerintahan yang tegas. Sangat tegas. Sehingga mampu menyumbat suara yang sumbang dan tidak senada dengan irama yang pemerintah nyanyikan. Mahasiswa, politikus, pengamat, ulama, atau siapaun akan tiba-tiba hilang jika dia mencoba bernyanyi. Bernyanyi lagu yang tak direstui oleh sang penguasa. Hilang tinggal nama. Dan hilang dengan kisah yang berbeda-beda.
Mana mungkin bisa dibandingkan dengan sekarang. Zaman juga berbeda, kebebasan berbicara kadang malah kebablasan. Masalah rezeki dan penghasilan, adalah hasil dari rencana dan usaha kita masing-masing. Begitu pula masalah keyakinan. Kebahagiaan itu bersumber dari cara kita mengelola rasa syukur dengan apa yang kita punya dan yang ada di sekitar kita. Bukan pada apa yang orang lain atau pemerintah lakukan.
Setiap zaman, ada enak dan tidaknya. Tapi paling tidak, kesadaran hukum dan keterbukaan atas hak dan kewajiban sebagai warga negara, kini sudah mulai ada daripada sebelumnya. (Sebagian teks hilang)

Read Users' Comments (0)

17 Maret 2017

Bahagia itu Sederhana.
Bahagia itu memang sederhana, tapi tidak sesederhana seperti yang kita bayangkan.
Kalau bicara konsep dan definisi sebuah kalimat seperti di atas. Mungkin memang cukup sederhana. Tapi ketika kita masuk ke ranah pelaksanaan, tidak sesederhana yang kita pikirkan.
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi, makna dari sederhana itu sendiri. Dari dalam mau pun dari luar diri kita sendiri.
Teringat ketika masih duduk di bangku kuliah. Terutama di kost, kebahagianan itu sebatas mie goreng instant, dengan kuah sedikit dan tambahan nasi hangat agar lebih kenyang. Kebahagian ketika kebutuhan yang mendasar terpenuhi, dan tidak terlalu menunggu lama. Kebahagiaan adalah, ketika pulang dari tukang loak, membeli beberapa komponen dari radio rusak, dan mengisi hari-hari dengan berusaha membuat radio kembali menyala. Nyala kembali, itulah kebahagiaan. Kebahagiaan, adalah ketika pulang kuliah, naik bus yang berdesakan, dan kondektur lupa meminta ongkos. Itu pun bahagia. Bahagia yang harus diceritakan ke teman-teman bahkan.
Begitu sederhana, begitu murah, dan begitu gampang untuk ukuran kita yang saat ini mengubah standar kesederhanaan saat ini.
Terus, mengapa kita kadang jarang menemukan kebahagiaan, walau pun kita sudah jauh dari kesederhanaan. Logikanya kalau sederhana aja bahagia, apalagi lebih dari sederhana?
Lah itu kan logika matematika, kenyataanya banyak orang merasa tidak pernah menemukan bahagia, walaupun dia mampu membeli apapun yang dia mau. Karena kebahagian memang bukan hasil dari apa yang mampu kita bayar.
Tapi banyak juga yang berusaha mencari, walaupun dengan cara apapun untuk menemukan kebahagiaan sudah dia lakukan. Karena memang bahagia bukan hasil dari pencarian.
Kebahagian itu hasil ciptaan.
Iya, kita mampu menciptakan bahagia kita sendiri tanpa apapun atau siapapun. Kebahagiaan yang murni. Hasil kolaborasi, rasa syukur dengan bahan dasar apapun yang kita punya. Bahkan kalaupun kita tidak punya apapun, rasa syukur mampu membuat kita bahagia.

Read Users' Comments (0)

13 Juli 2017

Suatu waktu, ketika ak bermain dengan angan dan pikiran. Ku coba mengaitkan dan menganalogikan tentang bagaiman hubungan manusia dengan penciptanya. Seperti selayak hubungan mereka dengan pasangan hidupnya di dunia. Banyak cara mereka mengekspresikan rasa cintanya tersebut. Kedalaman Keduanya cinta itu, bisa saja diukur dari kuantitas waktu yg diberikan pada yg dicintanya. Memberikan sepenuhnya pikiran dan hati. Bahkan melakukan apapun yg dikehendaki oleh sang kekasih. Dan seakan selalu ingin habiskan waktu untuk bermesraan, bercanda, dan tak pernah lupa terus menyapa di setiap waktu yg dimilikinya. Kemesraan yg seharusnya memang dinikmati sendiri, tanpa peduli orang melihat atau tidak. Tak ada keinginan untuk dipuji, apalagi sengaja untuk memamerkannya.
Walau ak pernah juga melihat, ketika salah satu pasangan mencoba menyisakan tanda pada tubuhnya (biasanya tanda merah di leher) atas kemesraan yang dialaminya semalam. Orang akan memandang sinis, dan nyinyir atas apa yg dilakukan. Karena memang seharusnya kemesraan itu milik mereka, dan bukan untuk diperlihatkan.
Begitu juga halnya, ketika ada seseorang yang sengaja menyisakan hasil hub mesra dengan Penciptanya (biasanya di jidat, atau yg lain). Bisa jadi reaksi orang akan sama.
Menurutku, memang seharusnya hanya sampai pada batas mereka berdua yang tahu, bagaimana cara mereka menikmati hub tersebut. Yang terpenting, bagaimana menunjukan hasil positip yang dapat terlihat dan dirasakan orang lain, atas hubungan yang terbina. Seperti halnya berumah tangga. Jaga kamarmu tetap senyap, walaupun seakan kamu ingin berteriak. Walaupun sebenarnya menjerit pun syah bagimu ketika bermesraan. Begitu juga caramu mencintaiNya.

Read Users' Comments (0)

28 N0v 2017

Seharusnya kalau menjalani dengan tulus, penganut agama itu ;
Tidak akan pernah merisaukan akan urusan dunia. Karena katanya dunia itu fana.
Tidak pernah khawatir dengan hari esok, karena katanya telah dijanjikan hal yang indah esok hari.
Tidak takut akan kepercayaan lain berkembang. Karena harusnya dia yakin, dia dalam kebenaran sejati.
Tenang dengan segala hal, karena dia punya Tuhan yang berkuasa dalam apapun juga.
Memang seharusnya, kedamaian dan ketenangan menjadi bagian hidup mereka di dunia yang fana ini.

Read Users' Comments (0)

04 Des 2017

Boro-boro sempurna ya ma?
Dari kata bagus saja masih belum bisa dibilang pantes.
Tapi dari 13 tahun lalu, kan kita sudah niat dan janjikan di depan altar. Bahwa kita terus harus saling menjaga dan memahami satu sama lain.
Akan terus kita jaga jari kita saling untuk menggengam, dalam tidur dan jaga. Dalam suka atau pun duka. Dalam untung atau malang.
Semua demi mampunya kita memaknai arti kesempurnaan cinta. Wkwkwk muluk ya ma?
Ngga ma, Ngga harus kaya drama korea atau filem-filem cinta. Tapi mensyukuri semuanya, akan membuat kita tak terberaikan. Itu cukup.
Kita bisa ketawa dan menikmati sisa waktu kita. Dan masih bisa melihat buah hati kita riang ria, adalah kesempurnaan yang tak terwakilkan.
Iya kan ma?
Akan aku buang hal muluk yang sering terlintas di kepala kita . Walau kadang susah, dan sering tiba-tiba datang. Tapi kita kan sering diajari bahwa dengan doa segala sesuatu bisa indah pada waktunya. Iya kan ma? Oke ma, i love you ma.

Read Users' Comments (0)

11 Des 2017

"Ben dosa dewe" itulah kata yang sering kita ungkapakan saat kecil dulu dimana kita dalam posisi terdzolimi dan tidak mampu berbuat apa-apa.
Ben dosa dewe dalam bahasa indonesia mempunyai arti, "biar dia tanggung dosanya sendiri"
Sebuah kata yang bukan hanya bermakna lugas, tapi juga mempunyai nilai rasa pasrah. Nilai rasa yang begitu meyakin bahwa sistem kehidupan adalah tabur-tuai. Keyakinan bahwa karma berjalan dengan baik. Keyakinan di mana Dia yang di sana, tidak akan tinggal diam ketika melihat hambanya disakiti.
Bukan hanya sekedar lugas. Kepolosan hati kita bahwa kita tidak punya hak untuk membalas apapun dosa yang dilakukan orang lain, bahkan pun dosa pada diri kita. Keyakinan segala sesuatu akan mendapatkan balasannya, karena keyakinan kita dalam posisi yang benar-benar "benar".
Sangat sederhana, tapi justru iman tetap menjadi kuat ketika kesederhanaan masih mendominasi cara berpikir kita tentang hukum, dosa, dan kuasa Yang Esa. Kesederhanaan atas keyakinan hukum yang telah Ia ciptakan.
Justru berbanding terbalik ketika kita perjuangkan kebenaran (menurut versi diri masing-masing) berjuang demi diri kita saat hak kita dirampas. Perjuangan yang dirancang oleh pikiran hanya berbuah dendam dan mematikan iman sejati tentang konsep ajaran yang kita yakini di awal. Meragukan keyakinan bahwa jika kita benar, pasti akan menang dan jika kita baik, pasti akan berakhir senang.
Dan bukan justru memutar otak dengan segala cara, sampai terkesan kita meragukan kekuasaan Dia Yang Maha Kuasa.serta Meragukan keimanan kita tentang kasih Dia yang tidak berkesudahan.
" semua akan indah pada waktunya" sebuah kalimat yang manis untuk diucap, dan merdu untuk di dengar. Tapi sering terabaikan. Bahkan hanya menjadi jargon tanpa kita pegang dalam keseharian.
"Ben dosa dewe" seandainya semua orang masih mempunyai keyakinan sepolos masa lalu. Tidak akan perlu ada konflik terbuka, debat, adu fisik, caci maki, atau pun saling mencurigai, dan hal-hal lain buah dari kebencian.
Seharusnya semua mayakini diri dalam kebenaran dan membiarkan diri pada perlindungan dari Tuhanya sendiri. Biarkan Dia yang kuasa, menggunakan kekuasaaNya.
Percayalah, selain damai di bumi, tak akan adalagi yg mampu memanfaatkan situasi dan warna keimanan yang beragam sebagai komoditi politik dan tujuan duniawi.

Read Users' Comments (0)

15 Des 2017

Salah satu cara jitu hidup bahagia adalah, berhentilah menganalisis, berkomentar, atau pun menilai kehidupan orang lain.
Nikmatilah hidupmu sebagai dirimu pribadi, tanpa harus membandingkan dengan orang lain.
Setel kendo pikiranmu, biar tidak darah tinggi. Jangan memendam pikiran dalam kecemasan supaya tidak kena tipes atau maag akut.
Berpikirlah positif dan jangan khawatir supaya tidak diabetes.
Jangan cemburu, dendam atau iri hati, supaya kangker tidak menjamahmu.
Berdoalah untuk membangun iman mu yang pasrah, bukan iman yang penuh kecemasan, kemarahan, kedengkian.
Apapun itu, sumbernya dari diri kamu sendiri.

Read Users' Comments (0)

04 Jan 2018

"Ojo Cedak Kebo Gupak". Sebuah falsafah jawa lama, yang dulu sangat akrab dan kita pahami betul makna dan penjelasannya.
Sebuah nasihat yang bisa diterjemahkan dalam bahasa indonesia "jangan dekat kerbau yang kotor, nanti kita ikut kotor"
Filosofi yang dalam, dengan menggunakan analogi tentang kerbau. Kerbau yang dahulu digambarkan selalu berada di kubangan yang kotor, karena lingkungan yang kotor juga. Bahkan kerbau dipilih, bukan hanya kekotorannya. Kerbau pun banyak digunakan sebagai analogi kebodohan. Mampu bekerja hanya pada tatanan intruksi, minim inisiatif, dan jauh dari kreativitas.
Kerbau yang kotor dan bodoh, menjadi objek yang digambarkan mampu menularkan ketidakbaikannya kepada orang lain. Sehingga tidak sepantasnya untuk di dekati.
Zaman berubah, pemikiran semakin berkembang. Semenjak dipahaminya bahwa diri pribadi seseorang bukan hanya mampu menjadi obyek peniru, atau pem"beo" orang lain. Dan semenjak disadarinya setiap pribadi mempunyai keistimewaan. Tidak perlu sirisaukan lagi tentang menularnya hal apapun termasuk kekotoran dan kebodohan tadi. Mungkin bagi beberapa pemikiran yang lemah, mengkhawatirkan adanya kontaminasi atas orang lain terhadap dirinya, dan akan mengamini falsafah di atas. Tapi bagi orang yang sudah menyadari tentang kehidupan dan meyakini betul tentang apa yang benar dan salah. Dia justru akan membawa kerbau itu jauh dari kubangan, memandikan, dan mengajarinya. Terlebih, dia akan memanfaatkan segi kebaikan dan ketulusan yang dimiliki oleh sekawanan kerbau yang (dulunya) kotor dan bodoh.

Read Users' Comments (0)

03 Feb 2018

Batu Bersusun
Masih ingat, sekitar tahun 1988, saat duduk di bangku SMP. Untuk pergi ke sekolah, Jalur dari rumah menuju sekolah SMP N 1 miri melewati jalan setapak, sawah, dan bahkan menyeberangi sungai. Selama setahun jalur itu menjadi jalur satu-satunya untuk menuju sekolah. Bukan karena tidak ada jalur lain, tapi untuk jalan kaki, jarak yg paling memungkinkan adalah jalur yang menyeberangi sungai. Sampai saat ini pun, ak ngga yakin, berapa km jaraknya. Namanya Sungai itu, Mbanjar. Ngga tau, mungkin karena melewati dukuh Banjar, maka sungai itu disebut sungai mbanjar.
Sekali waktu, kami. Saya bersama Agus Edi Wiyono, dan satu temen, yang saya lupa namanya. Melewati jalan yang sebenarnya bukan setapak. Cukup lebar, tapi tidak memungkinkan kendaraan melewati jalan tersebut.
"batu bersusun"
Itu pemandangan yang sering kami lihat saat itu. Persis seperti yg sekarang lagi heboh di sukabumi. Memang sih, tak setinggi yang ada di sana. Tapi cukup banyak. Tapi hanya sekali kami membicarakan. Entahlah,

Read Users' Comments (0)

06 Feb 2018

Move on
Membiarkan masa lalu tetap menjadi masa lalu adalah kebijakan yang tidak mudah dilakukan bagi sebagian orang.
Merelakan sesuatu yang sudah lama berlalu, tidak akan mampu dilakukan tanpa dasar kesadaran yang penuh. Kesadaran di mana ada hal baru, suasana baru, dan segala sesuatu yang baru yang memerlukan sikap yang baru dari kita.
Segalanya telah berubah. Perpisaha yang telah terjadi, pastilah didasari juga dengan alasan yang telah disepakati. Entah karena tak lagi sejalan, atau karena tak mampu lagi berjalan beriringan. Yang pasti perpisahan adalah perpisahan. Jalan terbaik untuk hal yang lebih baik.
Jangan pernah membayangkan sesuatu yang membawa kembalai pada masa yang tidak sama dengan masa sekarang. Apalagi berharap dia akan menjadi bagian satu sama lain kembali. Karena dia telah tergatikan oleh yang lain. Yang lebih sesuai dengan masa sekarang.
Biarkan semua terpendam, tenggelam dilautan, dimana terakhir terbuang. Biarkan dia tetap tenang di museum dan hanya mampu di jadikan pajangan. Biarkan dia jauh, jauh dan mampu bertatapan.
Sudahlah...... Biarkan becak dan Jakarta hidup dengan jalannya masing-masing.

Read Users' Comments (0)

10 Maret 2018

Sudahlah, berusaha untuk nampak sempurna dari segalah unsur diri sendiri itu tidak mudah. Susah, dan bahkan mungkin mustahil untuk diwujudkan. Seandainya pun bisa pastilah sangat melelahkan. Karena pada dasarnya kita tercipta tidak sempurna.
Kita tidak bisa jadi 100% sebagai bagian dari keluarga, dan di sisi lain menjadi total 100% di dalam bagian pekerjaan di kantor, ditambah lagi kita berusaha maksimal 100% menjadi bagian komunitas teman-teman.
Bisa dianalogikan bagian diri kita selayak sebuah sarung yang berusaha untuk menutupi tubuh yang pada kenyataanya lebih besar dari ukuran sarung itu sendiri. Ketika ditarik ke atas, akan terbukalah bagian bawah, dan juga ketika di tarik ke bawah, bakalan terjadi hal yang sama.
Setidaknya yang harus kita pahami, kita bisa menentukan kapan dan kemana sarung itu harus ditarik. Bukan terus ke atas, tanpa mempedulikan bagian bawah, atau pun sebaliknya. Semua harus berimbang. Tanpa ada yang diistimewakan.
Kesempurnaan diri adalah kemampuan mewujudkan kecerdasan kita dalam memaknai setiap waktu yang kita miliki. Setinggi apapun cita-cita dan harapan, sedalam apapun mimpi yang kita jalani, kita harus tetap sadar, bahwa kita sedang ada di kehidupan yang "sadar". Bukan terus terobsesi dengan keinginan sendiri, dan kita harus menyadari ada orang lain yang membutuhkan kita. Membutuhkan kita hadir diantara mereka. Bukan hanya sekedar kehadiran fisik, tapi tatapan yang dalam, tawa yang lepas, dan perhatian yang hanya terfokus pada tema yang sama dalam waktu dan tempat yang sama.
"tapi semua ini aku lakukan untuk mereka. Aku habiskan waktu demi mereka!"
Benar. Mereka tidak mungkin terlepas dari kebutuhan yang sekarang kamu kejar. Tapi coba tengok, berapa persen obsesimu yang hanya untuk diri sendiri dan berapa persen untuk mereka? Sesekali buatlah daftar keinginan yang ada dikepalamu, seberapa banyak, tertulis nama mereka di deretan daftar keinginan dan cita-citamu?

Read Users' Comments (0)

19 Maret 2018

Tidak terbantahkan memang, penyesalan selalu datang di saat segala sesuatu telah terjadi. Penyesalan bisa ditimbulkan bukan hanya karena kita mengabaikan sesuatu, tapi juga bisa disebabkan oleh ketidakpedulian atau ketidakpekaan diri atas apa yang sedang dialami atau dijalani.
Entahlah, apakah yang sedang aku rasakan termasuk pada penyesalan yang diakibatkan oleh ketidakpekaan atau hal yang lain. Yang pasti, semenjak kepergian Coolly, aku merasa ada sesuatu yang berubah. Rasanya ada yang kurang, ketika bangun pagi dan membuka pintu rumah. Tak ada lagi yang serta-merta menyambut ku di depan pintu. Semenjak malam itu, ketika aku lupa memberikan makan malam ke padanya, Sabtu pagi tak lagi ku temui mata yang girang menyambutku. Aku sendiri tidak yakin, apakah kepergian dia karena kelalaianku memberikan makan, atau ada sesuatu yang terjadi dengannya. Yang pasti, ketiadaan dia mengubah semuanya. Mengubah kebiasaan pagi dan soreku. Dan yang paling membuatku menyesal, mengubah cara pandangku terhadap kebiasaan Coolly sebagai induk dari delapan anak-anaknya yang masih kecil.
Selama ini aku tidak terlalu peduli, bagaimana repotnya mengurus kedelapan anaknya. Sedangkan kewajibanku hanya memberi makan dia. Hal yang sederhana, tapi hampir selalu lalai dan selalu harus diingatkan. Aku tidak bisa bayangkan, bagaimana repotnya Cooly. Selain menyusui kedelapan anaknya. Dia harus terus menjaga kehangatan dan kebersihan. Yang ajaib dari Coolly. Coolly tidak pernah menyisakan kotoran apapun di lantai. Entah setitik darah pun dalam proses kelahiran sampai lengkap kedelapan anaknya keluar, dia bersihkan darah yang mengotori lantai dengan jilatan-jilatanya. Bahkan selama dua minggu ini, dia tidak pernah lupa membersihkan semua kotoran anaknya yang jatuh kelantai, bahkan yang ada di tubuhnya. Ini hal yang baru yang aku pahami. Walaupun sejak kecil aku mengenal jenis mereka. Setahuku, mereka hanya tidak akan perna membuang kotorannya sendiri di rumah, bahkan kencing. Mereka akan menjauh dari perumahan hanya untuk kencing dan membuang kotorannya. Itu saja. Tapi ternyata...
Saat ku gantikan pekerjaanya atas semua anak-anaknya. Ada perasaan yang tak karuan dalam hati. Dada serasa sesak, bukan karena kerepotan yang harus ku hadapi. Tapi penyesalan atas ketidak pedulianku terhadap kerepotan yang dia alami. Sehari sepeninggalan dia, lantai kotor dengan kotoran anak-anaknya. Basah dengan kencing. Delapan anak adalah delapan kotoran. Terus selama ini ke mana kotoran-kotoran itu? Sebegitu berat yang dihadapi Coolly. Tapi saat dia menuntut hak makan malam, aku Lalai! Aku tidak bisa bayangkan, dia melakukan ini semua dengan perut yang kosong karena kelalaianku.
Jika masih diberi kesempatan, dan dia bisa kembali, aku janji tidak akan pernah melewatkan semua hak mu. Dan kalau pun ada hal lain yang terjadi dengannya, dan tak akan kembali. Ak akan berusaha merawat dan mencarikan perawat dari semua anak-anakmu.

Read Users' Comments (0)

05 Mei 2018

Wanda vs Tanos
Penggambaran yang cukup apik dan begitu menyentuh terutama pada realita dalam menjalani kehidupan. Dimana digambarkan dua sosok yang berlainan karakter, tapi keduanya harus mengorbankan seseorang yang sangat mereka cintai.
Tanos, sebagai gambaran bagi orang yang begitu lebih mefokuskan diri pada tujuan dan ambisi dalam mencapai sesuatu. Selama didasari oleh teori yang masuk akal. Selama apa yang dilakukan adalah hal yang bagus menurut dia, akan tetap dilakukan sampai pada titik puncak pencapaiannya. Fokus luar biasa, target jelas. Tujuan tak terbantahkan kebenarannya dalam teori. Karena sebegitu fokusnya dan ditopang dengan ambisi yang luar biasa. Dia lupa bahwa ada banyak hal yang harus dikorbankan. Dia bukan tidak peduli, tapi bagi dia. Setiap tujuan yang tinggi, perlu pengorbanan. Bahkan anaknya sendiri yang paling dia cintai pun harus dikorbankan. Tak akan pernah mungkin dia peduli atas korban yang bergelimpangan atas tindakannya.
Wanda. Bisa dibilang berbanding terbalik dengan tanos. Tak ada ambisi pribadi. Bagi dia, kelangsungan peradaban dan sesama adalah yang harus diutamakan. Walaupun pada akhirnya dia juga harus mengorbankan orang yang begitu dicintainya. Tapi pengorbanan bukan untuk ambisi pribadi. Tidak mudah berada pada situasi seperti itu. Karena seandainya pun dia tidak mengorbankan suami tercintanya. Banyak alasan yang bisa dia pakai. Banyak pilihan yang menurut nilai wajar dilakukan.
Kedua sosok itu menjadi idola bagi setiap pribadi. Pribadi yang punya cara berfikir yang senada. Apakah cinta menjadi segalanya? Atau cita-cita adalah yang utama?

Read Users' Comments (0)

08 Mei 2018

Rasanya senang sekali melihat teman, saudara, atau siapapun terlihat bahagia. Kebahagiaan yang di tuangkan dalam tulisan, foto, meme atau pun gambar. Semua simbol kebahagiaan itu selalu muncul di beranda sosial media, hampir tiap saat.
Entah hanya sekedar mencurahkan suasana hati atau ucapan syukur atas pencapaian selama menjalani hidupnya. Dengan kalimat atau dengan berbagai pose foto yang mewakili situasi dan perasaan mereka masing-masing.
Kebahagiaan bisa digambarkan dengan beragam. Media sosial menjadi wadah yang sangat mudah dalam mencurahkan berbagai perasaan.
Rasanya adanya media sosial, kita mampu membagi setiap kegiatan ataupun hasil yang positif sebagai inspirasi bagi orang lain. Menjadi contoh bagaimana memaknai hari. Atau jangka lebih panjangnya, dalam memaknai kehidupan. Iya, kehidupan. Kan kehidupan memang dibangun dari pazel-pazel peristiwa yang kita susun. Bentuk besar dari gambaran yang kita susun ditentukan oleh fokus bagian mana yang kita gunakan untuk mewarnai lukisannya.
Makanya, sekali lagi saya senang ketika melihat pazel-pazel yang ditorehkan oleh teman, saudara atau siapa pun di media sosial. Setidaknya mereka mampu memilah, mana yang harus difokuskan dan layak didokumentasikan dalam sejarah hidupnya. Dalam coretan hariannya. Dalam statu-status facebooknya.
"Halah, itu kan cuman pamer!, itu kan cuman di foto doang! Hih, norak deh pamer kemesraan di medsos!, ngga usah ceramah!, ngga usah pura-pura!"
Mungkin segala respon negatif atas apa yang kita tampilkan akan bermunculan. Karena kita tidak mampu memaksakan orang yang telah berkecimpung dalam "dunia negatif" berpikiran positif pada segala sesuatu yang di depannya. Setidaknya teruslah menebar kebaikan. Teruslah menebar keteduhan. Teruslah bicara yang mencerahkan. Tunjukan kemesraan dengan pasangan, pacar atau teman-teman sekitar. Tapi dalam porsi yang wajar dan seharusnya.
Berhentilah memaki, menghujat, atau bahkan menulis segala kelu-kesah, keputusasaan. Karena segala yang tragis dan buruk. Akan hanya menjadi tontonan bagi orang lain selayak realty show di televisi.

Read Users' Comments (0)

09 Mei 2018

Suatu pagi seorang teman tertarik dengan aroma kopi yang baru saja aku sedu. Seraya mendekat. " buaah..., apaan ini? pahit banget!" Sambil mengekspresikan wajah seakan ingin menunjukan betapa anehnya rasa kopi yang baru saja disruputnya.
"Itu kopi" jelasku. Walau aku tahu tak ada sedikitpun ekspresi dia akan menerima penjelasanku, bahwa itu memang benar-benar kopi. Bahkan dia hampir tak sedikit pun melirik alat penggiling kopi dan sisa biji kopi di meja, dimana tempat aku biasa duduk dan membuat kopi.
"Kopi kok kaya gitu, ngga ada enak-enaknya!"
Tak ada hal yang menarik atau niat buatku untuk menjelaskan lebih lanjut. Apalagi mencoba meyakinkan, bahwa ini benar-benar kopi. Kopi yang aku giling sendiri. Tanpa campuran apapun. Hanya satu hal yang membuat aku bertahan untuk tidak mendebatkan, rasa apa yang pantas bagi sebuah kopi. Karena setiap orang punya pengalaman masing-masing. Banyak orang berfikir, kebenaran adalah sesuatu yang selama ini dia pahami hasil dari yang dia alami. Sebagian besar dari mereka tidak pernah, keluar dari batas dimana dia beraktifitas. Aktifitas yang membuahkan pemahaman. Mengulang dan terus mengulang hal yang sama. Tanpa mampu membandingkan mana citarasa yang sejati dan yang manipulasi.
Pemahaman soal rasa kopi bagi sebagian orang yang tidak pernah mencoba aslinya kopi, pasti menganggap rasa kopi adalah rasa hasil editan campuran dari berbagai rasa yang lain. Konsep bahwa kopi itu seperti layaknya kopi yang bertebaran di toko-toko dalam bentuk sachetan. Yang pada kenyataan sudah menghianati cita rasa sejatinya kopi itu sendiri.
Kopi memang pahit. Dan itulah cita rasanya. Kalaupun bisa terwakilkan kepahitannya oleh manipulasi kopi sachetan. Tapi tidak dengan kemantapannya.
Begitu pun sebagian orang memahami sebuah kebenaran sejati. Kadang kalau kita hanya membiarkan diri terkurung pada zona dimana luas pikiran kita tidak lebih lebar dari batok kelapa. Dan tetap membiarkan pergaulan dan "dolan" kita tak lebih jauh dari ayam tetangga. Bagaimana mungkin kita mampu memahami sebuah kebenaran itu sebuah kesejatian. Kalau kita sendiri salah dalam meyakini. Keyakinan yang mencakup segapa hal. Entah itu ketayakinan berpikir, keyakinan berpolitik, atau pun keyakinan menjalankan urusan agamanya.
Kalau kita meyakini, sesuatu yang ternyata orang lain mentertawakan. Cobalah sesekali lompati batas dimana kamu berdiri dan dimana km selalu memandang segala sesuatu. Bergerak dan masuklah posisi mereka. Siapa tahu, ada pemahaman baru. Siapa tahu ada citarasa baru. Atau pencerahan baru. Atau bahkan kamu ikut tertawa seperti yang selama ini mereka lakukan padamu. Tapi kalau pun memang tempat dimana awal kamu berdiri adalah kebenaran, pasti akan semakin kuat kan keyakinanmu?

Read Users' Comments (0)

09 Mei 2018

Yeeey, besok "loooong week end"!
"Lah, kok bisa?" Bagi beberapa orang pasti pada mikir begitu. Karena di kalender, tanggal merah kan hanya di hari kamis. Kenapa looong week end?
Yeeey....ini looong week end untuk saya dan teman2 sekantor. Karena ada "pembulatan" hari libur. Wkwkw, ngarang aja! Udah, ngga udah bahas soal itu.
Biasanya setiap liburan akhir pekan yang panjang, orang pasti merencanakan untuk mengunjungi suatu tempat. Untuk sekedar mengisi hari libur, atau memang untuk "merefreshingkan" diri. Refreshing mempunyai arti, melakukan proses penyegaran kembali. Setelah (mungkin) kehilangan kesegarannya karena beberapa hari melakukan segudang aktifitas yang menyita pikiran dan tenaga. Mengunjungi tempat yang indah atau tempat yang tidak biasa, menjadi salah satu pilihan orang melakukan aktifitas refreshing.
Menurut pengamatanku, ada dua tipe orang dalam mengunjungi sebuah obyek wisata atau tempat-tempat tertentu.
Tipe pertama adalah, orang merasa puas dengan mengunjungi tempat baru, dan terus mencari tempat-tempat yang belum pernah dikunjunginya. Jumlah tempat kunjungan menjadi prioritas bagi kepuasannya. Soal menikmati obyek bukan menjadi target yang penting untuk dilakukan. Yang penting sudah sampai lokasi, lihat sekitar, foto dan upload. Selesai. Orang tipe seperti itu juga mempunyai kecenderungan, jarak tempuh lokasi mempunyai andil yang penting dalam definisi, tempat rekreasi yang "keren" menurut dia. Semakin jauh, dan semakin mahal ongkos menuju ke sana. Serasa semakin terasa memuaskan. Karena target yang ingin dicapai adalah. Tempat baru, jauh, mahal dan tidak semua orang mampu melakukannya. Walau kadang kala, kunjungan ke tempat wisata tidak lebih dari satu jam, lalu melanjutkan ke tempat yang lain. Karena keburu mengejar target tempat wisata yang sudah direncanakan. Kebayang kan, bagaimana rasanya, mengunjungi pantai tanpa berenang di sana, tanpa melihat matahari baru, atau matahari yang hampir kehabisan masa waktu tugasnya. Bagmana nikmatnya menggunjungi gunung tanpa menikmati aroma malam, dan wajah cantiknya yang disuguhkan di pagi harinya.
Biasanya tipe orang seperti ini, malas kalau diajak ke tempat yang sama, yang pernah dia kunjungi.
"Jangan sewot lah" kan setiap orang punya cara sendiri dalam menikmati liburannya. Oke, oke... ini bukan sewot!
Tipe yang kedua. Orang tipe seperti ini, selain beralasan ongkos lebih murah, dia tidak telalu mementingkan tempat. Tapi lebih bagaimana menikmati tempat yang ada. Tidak mementingkan berapa obyek yang bisa dia kunjungi dalam satu tahun. Tidak ada target, harus ke eropa, atau ke luar negeri. Refreshing baginya adalah bagaimana menikmati tempat itu seutuhnya. Minimal 24 jam. Menikmati setiap waktu dari titik terendah sampai titik tertinggi dari indahnya tempat tersebut. Bagi dia mengunjungi tempat yang sama bukanlah hal yang tabu. Tapi kelebihan dari tipe orang tersebut adalah, dia akan merasakan kerinduan suasana yang telah dilalui sepanjang tempat tersebut. Dan justru akan membawa kembali dia ke tempat yang sama. Lah, itu termasuk kelebihan atau kekurangan ya? Ngga tau lah. Sama seperti tipe yng pertama, orang seperti ini juga mempunyai kecenderungan mengabadikan moment liburannya. Dan meng-upload ke media sosial. Walau ada sedikit perbedaan hal yang mendasari tindakan tersebut.
Sekali lagi, tidak usah nyinyir. Setiap orang punya cara sendiri dalam berlibur.
Tidak usah mencari tahu, anda termasuk tipe yang mana. Apalagi mencari tahu, saya tipe yang apa. Wkwkwk
Selamat menikamti liburan!

Read Users' Comments (0)

11 Mei 2018

Ngga ah, jangan paksa aku berkomentar soal teroris. Selain terlalu sensitif, teroris itu sebutan dari kita yang berseberangan dengan paham mereka.
Bagi mereka mereka itu "perjuangan". Iya, perjuangan. Berjuang untuk siapa?
Itu pun juga tergantung, dari siapa yang memandang. Karena selain ideologi, ada pihak tertentu yang memancing di keruhnya air masalah ini. Ada yg diuntungkan, ada yang menghendaki. Ada yang suka dengan keruhnya situasi.
Tapi yang pasti bagi mereka itulah panggilan jalan hidup mereka. Perjuangan yang hanya kematian yang mampu menghentikan.
Lah kok bisa?
Ya bisa lah!
Semua pahlawan yang berjuang melawan penjajahan belanda, bagi pihak belanda mereka adalah "ekstrimis" juga. Ekstrimis yang kerap mengganggu nyenyaknya tidur saat subuh hampir tiba. Tapi merekalah pahlawan yang berjuang bagi negara kita.
Terus, berarti mereka benar?
Tunggu dulu. Dari mana dulu kebenaran itu dilihat.
Yang pasti kalau dari sisi kemanusiaan, dari sisi hati nurani yang murni. Tidak ada tindakan menyakiti orang lain itu dibenarkan.
Terus. Mereka benar berdasarkan apa?
Lebih baik tanya sendiri. Atau tanya orang disekitarmu, karena kelihatannya mulai banyak yang memahami jalan pikiran mereka dalam bertindak. Memaklumi. Dan mulai timbul rasa dukungan atas apa yang sekarang masih kita sebut "Teroris" itu.
Tapi bagiku lima prajurit yang telah "pergi" itulah pahlawan. #kamibersamapolri

Read Users' Comments (0)

05 Juni 2018

Di suatu petang, di saat cahaya matahari mulai temaram digantikan lampu bolam 15 W yang tergantung di sermbi sebuah surau.
Anak muda : mbah, ajari aku menuju kebenaran hidup.
Kakek tua : apakah kamu punya agama nak?
Anak muda : pasti lah mbah, aku memeluknya sejak aku masih belum mengenal apapun. Dan aku menjalankan ibadahku tanpa lalai.
Kakek tua : tunjukan buah imanmu yang sudah bisa nampak dan dirasakan orang sekitarmu!
Anak muda : (diam)
..............
Anak muda : tapi mbah, aku sudah sering bersedekah. Apakah yang kurang?
Kakek tua : hitunglah berapa kali kamu bersedekah tanpa ada yg tahu dan tanpa pujian siapa pun. Kecuali Tuhanmu!
Anak muda : (diam)
...........,
Anak muda : setidaknya aku selalu berbuat baik pada orang. Mbah.
Kakek tua : coba pilahkan, mana perbuatan baik yang tanpa kamu dasari dengan harapan balasan kebaikan buat km!
Anak muda : (diam)
...........
Anak muda : oke mbah. Paling tidak, aku tidak pernah lupa berdoa dan menyembah tuhanku.
Kakek tua : sesekali datalah, berapa persen isi doamu, pujiankah, ucapan syukur, atau hanya daftar permintaan tentang keinginanmu!
Anak muda : (diam)
..........

Read Users' Comments (0)

06 Juni 2018

kekuatan diri yang baik bukanlah hanya sekedar mampu menganalisa segala kelemahan dan kekurangan atas segala yang telah terlewati, apalagi mencaci-makinya. Tetapi bagaimana kita mampu menggunakan semua itu menjadi pengurai masalah dan pematik berbagai gagasan

Read Users' Comments (0)

15 Juni 2018

Sukses
Bagi sebagian orang sukses menjadi kata yang masih jauh dari realitas hidupnya. Entah karena tolak ukur yang digunakan yang salah, atau memang belum memahami makna sukses itu sendiri.
Dalam KBBI dituliskan kata "sukses" mempunyai arti berhasil. Kata hasil dengan awalan ber. Atau mempunyai makna lain yaitu menghasilkan sesuatu. Sesuatu itu apa? Tentunya sesuatu itu tergantung dari tujuan awal melakukan. Dan target apa yang ingin dihasilkan.
Lah, jadi sukses bisa melekat pada apapun dong?
Iya, benar sekali. Kesuksesan seseorang tidak diukur dari target dan tujuan dari orang lain. Orang bisa mengatakan si A yang pulang dengan mobil mewah, adalah orang yang paling sukses dalam hidupnya. Belum tentu juga. Belum tentu tujuan dan keinginan hidupnya adalah apa yang sekarang dimilikinya. Makanya, kadang atau bahkan sering kali orang merasa tidak sukses, karena keinginan dia selalu dinamis. Sudah ada ini, belum punya itu. Sudah didapatkan itu, pengen ono. Dan akan terus begitu.
Sering kali kita lihat orang terlihat sukses dari diri kita sendiri. Karena ukuran tujuan kita, kita pakai untuk ukuran pencapaian orang lain. Begitu juga orang lain memandang kita.
Mungkin kita tidak punya hal mewah yang dimiliki orang lain. Tapi orang lain bisa jadi merasa iri dengan keharmonisan kita menjalani kehidupan berkeluarga.
Terus gimana dong?!
Tidak ada orang tidak sukses. Selama orang itu punya tujuan, dan ada upaya sebesar keinginannya. Pasti kita sukses. Kita kebelakang untuk buang hajat bisa dikatakan sukses. Yaitu sukses buang hajat. Bayangkan kalau setiap pagi kita gagal melakukan hal itu. Parah kan akibatnya?!

Read Users' Comments (0)

16 Juni 2018

Banyak orang bilang, ucapan dan tindakan adalah doa.
Banyak pula orang meyakini, pikiran yang diyakini dengan hati, mampu mewujudkan segala sesuatu.
Tapi tidak semua sadar, bagaimana dasyatnya kekuatan yang ditimbulkan kalau kita memadukan kesemuanya. Hati, pikiran, tindakan, dan ucapan. Kesemuanya mampu menjadi selayak batu-batu yang dimiliki oleh Tanos dalam film yang sempat ramai dibicarakan.
Terlihat sederhana, tapi tidak sesederhana ketika pelaksanaan. Justru kadang ucapan doa kita positif, tindakan kita juga positif, tapi pikiran kita tetap susah diajak berbaik sangka.
Ketika pikiran dan ucapan sudah satu arah, tidak ada tindakan karena hati mempunyai keraguan yang berlebih.
Dan begitu terus dan berulang2. Bagaimana mungkin kita mampu menggunakan kekuatan itu.
Tahu saja tidak cukup. Kesadaran saja juga belum penuh. Realisasi dari apa yg kita pikir, dengan dasar hati yang sewarna lewat kata dan tindakan. Itulah keilahian yang mampu memindahkan gunung dan menghentikan matahari.

Read Users' Comments (0)

21 Juni 2018

Sesekali menengok ke belakang, mamang perlu. Tetapi memuja seluruh kebahagiaan dan kedamaian masa lalu hanya menunjukan pengingkaran atas nikmat hari ini. Bahkan bisa jadi hanya terkesan menunjukan kegagalan kita dalam melalui proses menuju hal yang lebih baik.
Bukan hanya ranah apa yang sudah dan belum kita miliki. Tapi konsistensi kita dalam mengartikan makna kebahagiaaan dan cara menikmati kebahagiaan itu sendiri.

Read Users' Comments (0)

05 Juli 2018

Sudah, sudah, sudahlah, matikan lagu itu.
Jangan kau putar atau jangan kau mainkan lagi
Atau setidaknya kecilkan, kecilkanlah
Sekecil rasa percaya diriku ketika mendengar lirik-liriknya
Beri aku waktu untuk menengok ke belakang.
Beri aku ruang untuk sekedar melihat apa yang sudah aku lakukan
Seberapa pantas aku menyandang semuanya.
Seberapa layak aku terukir dihari dan hati kalian
Sudah, sudahlah, matikan lagu itu.
Atau setidaknya, kecilkan, kecilkanlah
Karena kadang aku merasa lebih menjadi hakimmu dari pada penunjukmu.
Lebih sering meminta untuk dimengerti dari pada memahamimu
Lebih sering mengeluh dari pada mensyukuri.
Lebih sering mengeluh dari pada menayukuri.
Sudah, sudahlah, matikanlah lagu itu.
Atau setidaknya, kecilkan, kecilkanlah
Karena patriot itu pejuang.
Karena patriot itu tak merisaukan seberapa yang akan didapatkan.
Karena patriot memberikan lebih dari yang seharusnya.
Adakah semuanya ada padaku.
Sudah, sudahlah, matikan lagu itu.
Atau setidaknya, kecilkan, kecilkanlah
Aku sadar, aku adalah cermin ketaatanmu
Aku adalah cermin ketulusanmu
Aku adalah cermin daya juangmu
Aku adalah cermin keimananmu
Aku adalah cermin rasa empatimu
Aku adalah cermin kelemahlembutanmu
Sudah, sudahlah, matikan lagu itu.
Atau setidaknya, kecilkan, kecilkanlah
Beri waktu sedikit lagi
Beri ruang sejengkal lagi
Akan ku ubah diri seperti yang kalian dendangkan
Akan ku ubah diri seperti yang kalian harapkan.
Akan ku ubah diri seperti dunia telah catatkan.
Bahwa aku adalah guru.

Read Users' Comments (0)

28 Juli 2019

(Seorang suami sangat serius membaca ulasan di sebuah media sosial)
Suami : wah, gawat! Negara di ujung tanduk. Pengangguran di mana-mana. Rakyat pada kelaparan. Haga makin melambung dan daya beli makin turun. Ini bukti pemerintah tidak pecus! Harus ganti! Tetap harus ganti!
Istri : sudahlah pa, cepetan panasin mobilnya. Mobil kalau masih baru harus hati-hati. Lagian juga keburu siang. Kalau siang mall ramai. Ak harus beli baju dan makan lobster di tempat biasa. Nanti kalau kesiangan, tempat itu penuh!
Suami : (masih tetap fokus pada sebuah tuliasan) tetap harus ganti presiden!

Read Users' Comments (0)

08 Okt 2018

Seorang teman tiba-tiba bertanya kepadaku.. kenapa ya, orang kok tega bener, manggunakan agama dalam politik yang kotor?
Aku tidak langsung menjawab. Selain pertanyaan itu terlalu kompleks untuk dijawab, ak juga bingung dari sisi mana aku harus mulai. Dari awal, kalau menyangkut agama, tiba-tiba keberanianku untuk berpendapat berada di titik nadir. Sensitif, dan sangat mudah untuk di "belokan" dari intinya. Aku hanya menjawab. "Yah, segala apa pun yang tercipta baik, bisa di gunakan untuk hal yang tidak baik. Banyak kok contohnya!"
Walau dalam hati, banyak sekali hal yang ingin aku ungkapkan. Bukan hanya dalam politik, agama dimanfaatkan. Di dunia bisnis, hukum dunia, hiburan, bahkan sampai olah raga. Semua menggunakan agama sebagai "daya pikat" dan yang pasti semua hanya akan bermuara pada uang. Ini bukan terjadi pada era sekarang, tapi jauh sebelum agama berkembang.
Dan mengapa menggunakan agama?
Pengkultusan individu dalam agama sering kali menjadi celah bagi kepentingan tertentu bisa masuk ke dalamnya. Tidak harus memberikan pemahaman yang mampu menarik pengikut. Hanya dengan pegang satu kepala, ekor akan mengikuti.
Jadi, agama jelek dong? Tidak ada agama yang tercipta untuk kejelekan. Semua tujuannya mulia dan suci. Hanya saja memang kita harus menjalankan segala perintahNya bukan hanya pada taraf permukaan. Atau hanya pada taraf rutinitas tanpa makna. Tanpa komunikasi langsung. Komunikasi antar pribadi dengan yang maha mengerti. Setiap pribadi harus mengalamai, yang sering orang sebut pengalaman iman. Mengubah diri untuk tidak berorentasi duniawi untuk urusan ilahi. Tidak mengukur pada yang nampak dari indra penglihatan saja, soal kualitas iman seseorang.
Tapi kan penampilan penting?!
Iya, tapi kalau itu mencerminkan isi!

Begini, banyak orang menggunakan agama dalam bisnis dan hiburan. Setidaknya dia tahu, segmen mana yang akan dituju, dan diarah. Agama sering dihargai murah hanya sebaga daya pikat, sekali lagi daya pikat supaya orang tidak lagi memperhitungkan soal hal2 yang tidak mampu "dicover" oleh sang penyedia jasa atau barang. Memaklumi, dan menerima apapun yang dia dapat. Walaupun sampai hak dasarnya tidak terpenuhi.
Dalam dunia olah raga pun demikian. Kehebatan promotor mengubah image masyarakat supaya seakan pertandingan adalah pertempuran antara dua agama. Sehingga perhatian dunia mengarah ke sana. Itu juga terjadi sudah sejak tahun 60 an sampai sekarang.
Perang perebutan kekuasaan, wilayah, dan sumber daya alam. Juga tak luput dari skenario murahan ini.
Seharusnya Agama tetaplah menjadi alat bagi manusia untuk mengatur hidup di dunia, demi menyiapkan kehidupan hakiki setelahnya. Dan seharusnya kita sadari itu. Agar kesuciannya tetap terjaga.

Read Users' Comments (0)

12 Okt 2018

Seorang teman tiba-tiba bertanya kepadaku.. kenapa ya, orang kok tega bener, manggunakan agama dalam politik yang kotor?
Aku tidak langsung menjawab. Selain pertanyaan itu terlalu kompleks untuk dijawab, ak juga bingung dari sisi mana aku harus mulai. Dari awal, kalau menyangkut agama, tiba-tiba keberanianku untuk berpendapat berada di titik nadir. Sensitif, dan sangat mudah untuk di "belokan" dari intinya. Aku hanya menjawab. "Yah, segala apa pun yang tercipta baik, bisa di gunakan untuk hal yang tidak baik. Banyak kok contohnya!"
Walau dalam hati, banyak sekali hal yang ingin aku ungkapkan. Bukan hanya dalam politik, agama dimanfaatkan. Di dunia bisnis, hukum dunia, hiburan, bahkan sampai olah raga. Semua menggunakan agama sebagai "daya pikat" dan yang pasti semua hanya akan bermuara pada uang. Ini bukan terjadi pada era sekarang, tapi jauh sebelum agama berkembang.
Dan mengapa menggunakan agama?
Pengkultusan individu dalam agama sering kali menjadi celah bagi kepentingan tertentu bisa masuk ke dalamnya. Tidak harus memberikan pemahaman yang mampu menarik pengikut. Hanya dengan pegang satu kepala, ekor akan mengikuti.
Jadi, agama jelek dong? Tidak ada agama yang tercipta untuk kejelekan. Semua tujuannya mulia dan suci. Hanya saja memang kita harus menjalankan segala perintahNya bukan hanya pada taraf permukaan. Atau hanya pada taraf rutinitas tanpa makna. Tanpa komunikasi langsung. Komunikasi antar pribadi dengan yang maha mengerti. Setiap pribadi harus mengalamai, yang sering orang sebut pengalaman iman. Mengubah diri untuk tidak berorentasi duniawi untuk urusan ilahi. Tidak mengukur pada yang nampak dari indra penglihatan saja, soal kualitas iman seseorang.
Tapi kan penampilan penting?!
Iya, tapi kalau itu mencerminkan isi!

Begini, banyak orang menggunakan agama dalam bisnis dan hiburan. Setidaknya dia tahu, segmen mana yang akan dituju, dan diarah. Agama sering dihargai murah hanya sebaga daya pikat, sekali lagi daya pikat supaya orang tidak lagi memperhitungkan soal hal2 yang tidak mampu "dicover" oleh sang penyedia jasa atau barang. Memaklumi, dan menerima apapun yang dia dapat. Walaupun sampai hak dasarnya tidak terpenuhi.
Dalam dunia olah raga pun demikian. Kehebatan promotor mengubah image masyarakat supaya seakan pertandingan adalah pertempuran antara dua agama. Sehingga perhatian dunia mengarah ke sana. Itu juga terjadi sudah sejak tahun 60 an sampai sekarang.
Perang perebutan kekuasaan, wilayah, dan sumber daya alam. Juga tak luput dari skenario murahan ini.
Seharusnya Agama tetaplah menjadi alat bagi manusia untuk mengatur hidup di dunia, demi menyiapkan kehidupan hakiki setelahnya. Dan seharusnya kita sadari itu. Agar kesuciannya tetap terjaga.

Read Users' Comments (0)

18 Okt 2018

Ditengah pembicaraan tentang "bully" di ruang guru. Seorang anak kelas 9 yang sedang lewat ikut nimbrung. "Orang merasa dibully itu karena menganggap bullyan sebagai bully, bully atau tidak tergantung kita yang menyikapi".....
Seeperti biasa, ketika kita berbicara satu sama lain, dan mendengarkan sebuah pernyataan dari salah satu rekan yang kita rasa sangat benar, kita dengan sepontan berdiri dan tepuk tangan. Dan saat itu sepontan ak tepuk tangan.
Bagi pemikiran sebagian besar orang dewasa, pernyataan tersebut sudah biasa. Tapi ketika keluar dari seorang siswa bagiku bukan sekedar pernyataan yang harus dilewatkan tanpa apresiasi "tepuk tangan"
Kesadaran tentang managemen pikiran sudah terbentuk sejak dini pada anak tersebut. Managemen pikiran yang akhirnya akan mampu mengontrol perasaan dan hati. Karena hakikatnya, kita tidak sepenuhnya mampu mengontrol orang lain bersikap atau berujar sesuai apa yang kita mau. Kita juga tidak punya hak penuh untuk memaksa orang melakukan apapun dengan gaya seperti gaya kita. Yang mampu kita lakukan adalah memasang filter dalam pikiran supaya hati tidak selalu menerjemahkan apa pun yang masuk menjadi krikil tajam yang mampu melukai dirinya sendiri. Kita harus belajar membuat peredam dalam pikiran agar nada yang tinggi dan sumbang di telinga kita, menjadi lebih nyaman bersemayam di dalam diri. Atau setidaknya belajar untuk menginstal "aplikasi cleaner" dalam hati. Biar sampah tetap menjadi sampah. Dan terbuang tanpa mengendap menebarkan penyakit hati.
Banyak orang lebih berfokus pada upaya penangkalan pelaku. Sering dalam pembicaraan tentang bullying, hanya bermuara pada pengambinghitaman banyak hal atas masalah yang terjadi. Game, internet, hp, pergaulan teman, dan bahkan juga sekolah.
Yah, memang hanya itu yang paling mudah untuk dilakukan. Selain praktis, tapi juga menjanjikan sesuatu solusi yang instant. Walau hanya pada taraf "Nampaknya".
Akan lebih bagus kita membangun jiwa anak yang mempunyai spiritualitas yang benar. Sehingga mampu memandang sesuatu dari berbagai sudut. Mengubah sesuatu dengan bentuk apa pun. Mengubah energi liar yang datang menjadi hembusan yang menyejukan.
Karena tidak mungkin kita akan menyalahkan angin topan atas robohnya rumah kita. Tapi seharusnya perancang rumah yang semestinya memikirkan segala kemungkinan yang terjadi.

Read Users' Comments (0)