22 Nov 2018
Suatu ketika, saat makan bersama teman-teman kantor, salah satu temanku bertanya, "sir, kenapa emang, kok mr harus makan dengan istri saat di rumah? Katanya mendingan tidak makan kalau tidak makan sama istri?"
Pertanyaan yang wajar. Bukan hanya karena dia belum punya pasangan. Tapi mungkin bagi sebagian orang, makan harus dengan pasangan ketika di rumah itu terkesan aneh, dan terlalu mengada-ada.
Aku sendiri, dulu juga heran. Mengapa ibuku selalu tidak pernah mau makan jika bapak belum pulang dari rumah. Dia selalu menunggu, walau pun kadang melebihi jam makan yang seharusnya. Dalam pikiranku selalu bertanya. Kan bapak sudah gede?! Bisa makan sendiri, mengambil nasi sendiri. Atau bahkan menuangkan segelas air putih sendiri. Tapi semua ibuku yang melakukan. Rutinitas itu sudah menjadi pemandanganku setiap hari. Tapi belum tahu maknanya. Belum memahami, mengapa ibuku melakukan itu semua.
"Setiap pasangan ketika memulai sebuah hubungan atau menjalin hubungan rumah tangga, haruslah matang dalam segala hal. Selain kesiapan menghadapi semua kebutuhan materi dan kebutuhan rohani bersama. Mereka juga harus matang untuk menghadapi dirinya sendiri ketika telah menjadi bagian dari orang lain.
Kesiapan diri dalam hal ini juga menyangkut kesiapan untuk merasa tidak bisa apa pun tanpa pasangannya. Walau sebenarnya kita mampu melakukan sendiri. Lah kok!?
Mensugesti diri, bahwa pasangan adalah separu tubuh kita itu sangat penting. Bukan untuk memanjakan diri, tapi lebih menempatkan pasangan sebagai bagian yang tidak terpisahkan. Menjadikan diri tidak bisa melakukan sesuatu tanpa ada pasangan. Atau setidaknya menciptakan ketidaknyamanan diri ketika tidak dengan pasangan.
"Halaaah, lebay!"
Walau tidak terucapkan, tapi aku rasa penjelasanku akan mengundang reaksi seperti itu di setiap pikiran orang.
Karena biasanya orang justru memilih untuk bersikap mandiri. Bisa melakukan sendiri. Tidak membiasakan dilayani. Atau hal2 yang lain yang lebih logis dari itu.
Bahkan ada yang dalam pikiran dan hatinya justru malah mempersiapkan segala hal, supaya kalau suatu saat terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, dia mampu menghadapi sendiri.
Secara logika memang benar. Logis dan masuk akal. Tetapi ketika diberi pertanyaan. Terus apa bedanya, ada kamu dan tidak saat di rumah? Apa istimewanya kamu kalau pasanganmu bisa melakukan semua yang harus dilakukan. Bahkan sangking ekstrimnya seorang teman yang saat itu sedang retak hubunganya dengan pasangannya berseloroh. " aku bisa mencari semua yang ada di pasanganku di luar. Perhatian, kehangatan, makanan dan apa pun, asal aku punya uang, semua beres!"
Wah parah!
Ketika salah satu pasangan sudah merasa bisa apa pun sendiri. Itulah modal awal untuk kembali sendiri lagu jika terjadi masalah dalam RT.
Itulah yang aku maksud. Segala sesuatu dimulai dari hal kecil. Bukan berarti istri yang terus melayani. Atau suami yang terus meladeni. Tapi menempatkan pasangan sebagai bagian yang tak terpisahkan dari semua aktifitas adalah penting. Tidak harus yang berlebihan. Dari hal kecil, atau paling tidak yang bisa dilakukan saja. Karena ketika alam bawah sadar kita meyakini kita tidak akan terpisahkan. Niscaya akan membawa dampak sesuai yang kita harapkan. Kecuali maut tentunya. Demikian pula ketika kita lebih memilih untuk mempersiapkan diri akan segala kemungkinan buruk. Makan keburukan juga yang akan menimpa kita.
Selain berdampak bagi kelanggengan hubungan. Paling tidak kita juga bisa menjadi inspirasi bagi anak-anak kita bagaimana menempatkan pasangan dalam kehidupan rumah tangga. Hindari merasa bisa sendiri. Merasa bisa tanpa orang lain. Walau pun kenyataanya memang kita bisa.
Sekali lagi bukan untuk memanjakan diri. Tapi justru berusahalan memanjakan pasangan seakan dia tidak bisa tanpa ada kita. Itulah harapanku dan cita-citaku!" Kataku sambil menutup makan siangku yang sudah habis.
Pertanyaan yang wajar. Bukan hanya karena dia belum punya pasangan. Tapi mungkin bagi sebagian orang, makan harus dengan pasangan ketika di rumah itu terkesan aneh, dan terlalu mengada-ada.
Aku sendiri, dulu juga heran. Mengapa ibuku selalu tidak pernah mau makan jika bapak belum pulang dari rumah. Dia selalu menunggu, walau pun kadang melebihi jam makan yang seharusnya. Dalam pikiranku selalu bertanya. Kan bapak sudah gede?! Bisa makan sendiri, mengambil nasi sendiri. Atau bahkan menuangkan segelas air putih sendiri. Tapi semua ibuku yang melakukan. Rutinitas itu sudah menjadi pemandanganku setiap hari. Tapi belum tahu maknanya. Belum memahami, mengapa ibuku melakukan itu semua.
"Setiap pasangan ketika memulai sebuah hubungan atau menjalin hubungan rumah tangga, haruslah matang dalam segala hal. Selain kesiapan menghadapi semua kebutuhan materi dan kebutuhan rohani bersama. Mereka juga harus matang untuk menghadapi dirinya sendiri ketika telah menjadi bagian dari orang lain.
Kesiapan diri dalam hal ini juga menyangkut kesiapan untuk merasa tidak bisa apa pun tanpa pasangannya. Walau sebenarnya kita mampu melakukan sendiri. Lah kok!?
Mensugesti diri, bahwa pasangan adalah separu tubuh kita itu sangat penting. Bukan untuk memanjakan diri, tapi lebih menempatkan pasangan sebagai bagian yang tidak terpisahkan. Menjadikan diri tidak bisa melakukan sesuatu tanpa ada pasangan. Atau setidaknya menciptakan ketidaknyamanan diri ketika tidak dengan pasangan.
"Halaaah, lebay!"
Walau tidak terucapkan, tapi aku rasa penjelasanku akan mengundang reaksi seperti itu di setiap pikiran orang.
Karena biasanya orang justru memilih untuk bersikap mandiri. Bisa melakukan sendiri. Tidak membiasakan dilayani. Atau hal2 yang lain yang lebih logis dari itu.
Bahkan ada yang dalam pikiran dan hatinya justru malah mempersiapkan segala hal, supaya kalau suatu saat terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, dia mampu menghadapi sendiri.
Secara logika memang benar. Logis dan masuk akal. Tetapi ketika diberi pertanyaan. Terus apa bedanya, ada kamu dan tidak saat di rumah? Apa istimewanya kamu kalau pasanganmu bisa melakukan semua yang harus dilakukan. Bahkan sangking ekstrimnya seorang teman yang saat itu sedang retak hubunganya dengan pasangannya berseloroh. " aku bisa mencari semua yang ada di pasanganku di luar. Perhatian, kehangatan, makanan dan apa pun, asal aku punya uang, semua beres!"
Wah parah!
Ketika salah satu pasangan sudah merasa bisa apa pun sendiri. Itulah modal awal untuk kembali sendiri lagu jika terjadi masalah dalam RT.
Itulah yang aku maksud. Segala sesuatu dimulai dari hal kecil. Bukan berarti istri yang terus melayani. Atau suami yang terus meladeni. Tapi menempatkan pasangan sebagai bagian yang tak terpisahkan dari semua aktifitas adalah penting. Tidak harus yang berlebihan. Dari hal kecil, atau paling tidak yang bisa dilakukan saja. Karena ketika alam bawah sadar kita meyakini kita tidak akan terpisahkan. Niscaya akan membawa dampak sesuai yang kita harapkan. Kecuali maut tentunya. Demikian pula ketika kita lebih memilih untuk mempersiapkan diri akan segala kemungkinan buruk. Makan keburukan juga yang akan menimpa kita.
Selain berdampak bagi kelanggengan hubungan. Paling tidak kita juga bisa menjadi inspirasi bagi anak-anak kita bagaimana menempatkan pasangan dalam kehidupan rumah tangga. Hindari merasa bisa sendiri. Merasa bisa tanpa orang lain. Walau pun kenyataanya memang kita bisa.
Sekali lagi bukan untuk memanjakan diri. Tapi justru berusahalan memanjakan pasangan seakan dia tidak bisa tanpa ada kita. Itulah harapanku dan cita-citaku!" Kataku sambil menutup makan siangku yang sudah habis.




0 Response to "22 Nov 2018"
Posting Komentar