10 Mei 2019


Pandanganku terhenti pada “Bola Dunia” yang sengaja diletakan di atas rak lemari perpustakaan tempatku bekerja. Aku bukan pustakawan, tapi kebetulan pelajaran yang aku ampu kali ini membutuhkan anak didikku beraktifitas di perpustakaan.
Bola dunia, media pembelajaran yang sejak lama menjadi pelengkap hampir seluruh institusi pendidikan. Jarang disentuh. Apalagi digunakan dalam pembelajaran di kelas, terutama aku. Mungkin hanya pelajaran IPS atau bidang yang sama dan berkaitan dengan itu. Tapi tetap saja jarang. Dan wajar kalau berdebu ketika kucoba tarik untuk mengambilnya dari atas lemari.
Tidak lagi disentuhnya media pembelajaran Bola Dunia, bisa jadi dipengaruhi semakin berkembangan teknologi pengganti perangkat tersebut. Berupa aplikasi atau halaman web. Dan lebih lagi, siswa merasa lebih akrab dengan perangkat tersebut.
Apapun bentuknya, memperkenalkan bola dunia, atau gambaran global tentang dunia sangat penting bagi generasi baru. Terutama sejak mulai mengenal bangku sekolah. Banyak hal yang bisa dipetik, ketika kita mulai mengenalkan bahwa dunia itu luas. Mengenalkan dunia yang luas dalam gambaran keci, menciptakan cara dan pola berpikir menjadi luas. Mengajarkan anak bahwa ada kehidupan yang berbeda di belahan dunia lain. Ada banyak orang yang berbeda dan juga mempunyai cara berpikir yang berbeda. Banyak kepercayaan yang berbeda dari apa yang kita percayai. Banyak cara hidup yang berbeda dengan cara yang selama ini anak jalani. Dan yang pasti kesadaran bahwa banyak hal-hal yang berbeda dari apa yang selama ini anak lihat dan kenali.
Tapi yang pasti, pengenalan itu harus dibarengi dengan kesadaran menghargai tentang perbedaan. Menganggap sebuah perbedaan adalah hasil dari sebuah cipta dan karsa dari dasar yang tentunya setiap orang sadari. Perbedaan bukan sesuatu yang memisahkan, dalam golongan ataupun tingkatan. Bahkan lebih parah lagi, perbedaan bukan sesuatu yang menjadikan alasan kita berjuang untuk menyamakannya. Mengenalkan diri tentang dunia sejak dini tidak akan membuat kita meras benar, tanpa tahu kebenaran yang lain. Dan tentunya akan mampu menghindari pemahaman bahwa punya kita lah yang paling benar, atau yang paling baik. Karena hal itu akan menghasilkan pola pikir yang menganggap bahwa orang lain adalah salah dan tidak baik.
Saya ingat, sekitar tahun 2005, saat pertama kali mencoba aplikasi Google Earth. Baru menyadari bagaimana terpencilnya dan kecilnya kampung halaman. Betapa plosoknya daerah yang aku tinggali. Betapa, dan betapa yang lain yang baru aku sadari... Mungkin ini yang juga termasuk kategori “katak dalam tempurung” atau “kelelawar dalam karung”

Read Users' Comments (0)

0 Response to "10 Mei 2019"

Posting Komentar