16 Okt 2018
Positive Thinking
Makna yang mungkin semua orang mampu jelaskan artinya. Makna yang bisa diartikan kemampuan seseorang dalam menempatkan segala pikiran atas apa yang kita lihat dan rasakan pada arah yang baik dan benar. Kebaikan dan kebenaran dianalogikan sebagai kutub positif, dan begitu juga sebaliknya.
Memang secara teori dan definisi sangat mudah dipahami. Mudah untuk dijelaskan ulang. Tapi tidak secara praktik dan penerapan. Sangat sulit dan bagi sebagian orang bisa masuk taraf mustahil. Parah kan?
Yah, tahulah! Seperti halnya teori-teori dan petuah tentang sebuah kebenaran yang lain. Semua seakan indah didengar dan mudah dipahami. Namun tetap diperlukan proses yang tidak mudah untuk menerapkannya.
Karena sebenarnya, keburukan pikiran atau pun tindakan orang, hampir semua tidak didasarkan ketidaktahuan. Tapi lebih karena ketidak iklashan melakukan hal yang benar.
Karena kadang kala justru kebenaran atau kebaikan tersebut tidak sesuai dengan keinginan dan tidak memanjankan kenafsuan seseorang.
Cara pandang seseorang mempengaruhi hasil akhir dari pikirannya. Walau obyek sama dengan sudut yang berbeda, akan menghasilkan gambar yang beda juga.
Padahal kita tahu, selalu ada celah keburukan dari segala apa pun yang kita jumpai di dunia ini. Tidak ada yang sempurna. Dan ketika kita terbiasa menggunakan otak dan pikiran kita mencari celah buruk dari apa pun. Niscaya tidak akan kita temui hal yang baik dari apa pun di hadapan kita.
Pekerjaan, rezeki, pasangan hidup, teman, tetangga, bos, ketua RT, guru, bahkan sampai PRESIDEN sekalipun. Harus kita sadari mereka berperan atas perannya bukan karena mereka sempurna. Atau tanpa celah.
Memang, disadari atau tidak, kadang kala kita lebih sering melatih diri untuk lebih jeli melihat kekurangan atau keburukan seseorang dan belajar agar lebih pinter mengabaikan kebaikannya.
Beneran! saya pernah punya teman yang sangat cerdas. Cerdas untuk mencari sebuah kelemahan dari sebuah ide. Dia dengan sigap mampu mengoreksi apapun yang tertuang dari orang lain. Segala penjelasnnya tepat dan beralasan! Bahkan sangking tepatnya, kadang orang hampir berdiri dan tepuk tangan atas segala ilustrasinya. Tapi setelah ada pertanyaan, "lah terus gimana, ada ide lebih baik?" dia diam, dan dari ekspresinya menggambarkan sebuah pernyataan, "LAH, TERSERAH KALIAN! IDE ITU URUSAN KALIAN, KEAHLIANKU ADALAH NGRITIK!"
(Krik, krik,krik..... )
Subyektifitas juga mempengaruhi cara berpikir seseorang terhadap orang lain. Ketika ketidaksukaan menguasai seseorang. Akal sehat juga akan terabaikan. Tidak akan nampak hal yang baik. Semua buruk. Gairahnya bergejolak ketika menemukan kesalahan-kesalahan baru/ atau celah baru yang dia temukan atas orang lain. Terutama pada orang yang tidak disukainya. Dan kalau hal seperti itu terus dibiarkan. Setelah mati rasa kita, akan menyusul mati raga juga. Percayalah!
Makna yang mungkin semua orang mampu jelaskan artinya. Makna yang bisa diartikan kemampuan seseorang dalam menempatkan segala pikiran atas apa yang kita lihat dan rasakan pada arah yang baik dan benar. Kebaikan dan kebenaran dianalogikan sebagai kutub positif, dan begitu juga sebaliknya.
Memang secara teori dan definisi sangat mudah dipahami. Mudah untuk dijelaskan ulang. Tapi tidak secara praktik dan penerapan. Sangat sulit dan bagi sebagian orang bisa masuk taraf mustahil. Parah kan?
Yah, tahulah! Seperti halnya teori-teori dan petuah tentang sebuah kebenaran yang lain. Semua seakan indah didengar dan mudah dipahami. Namun tetap diperlukan proses yang tidak mudah untuk menerapkannya.
Karena sebenarnya, keburukan pikiran atau pun tindakan orang, hampir semua tidak didasarkan ketidaktahuan. Tapi lebih karena ketidak iklashan melakukan hal yang benar.
Karena kadang kala justru kebenaran atau kebaikan tersebut tidak sesuai dengan keinginan dan tidak memanjankan kenafsuan seseorang.
Cara pandang seseorang mempengaruhi hasil akhir dari pikirannya. Walau obyek sama dengan sudut yang berbeda, akan menghasilkan gambar yang beda juga.
Padahal kita tahu, selalu ada celah keburukan dari segala apa pun yang kita jumpai di dunia ini. Tidak ada yang sempurna. Dan ketika kita terbiasa menggunakan otak dan pikiran kita mencari celah buruk dari apa pun. Niscaya tidak akan kita temui hal yang baik dari apa pun di hadapan kita.
Pekerjaan, rezeki, pasangan hidup, teman, tetangga, bos, ketua RT, guru, bahkan sampai PRESIDEN sekalipun. Harus kita sadari mereka berperan atas perannya bukan karena mereka sempurna. Atau tanpa celah.
Memang, disadari atau tidak, kadang kala kita lebih sering melatih diri untuk lebih jeli melihat kekurangan atau keburukan seseorang dan belajar agar lebih pinter mengabaikan kebaikannya.
Beneran! saya pernah punya teman yang sangat cerdas. Cerdas untuk mencari sebuah kelemahan dari sebuah ide. Dia dengan sigap mampu mengoreksi apapun yang tertuang dari orang lain. Segala penjelasnnya tepat dan beralasan! Bahkan sangking tepatnya, kadang orang hampir berdiri dan tepuk tangan atas segala ilustrasinya. Tapi setelah ada pertanyaan, "lah terus gimana, ada ide lebih baik?" dia diam, dan dari ekspresinya menggambarkan sebuah pernyataan, "LAH, TERSERAH KALIAN! IDE ITU URUSAN KALIAN, KEAHLIANKU ADALAH NGRITIK!"
(Krik, krik,krik..... )
Subyektifitas juga mempengaruhi cara berpikir seseorang terhadap orang lain. Ketika ketidaksukaan menguasai seseorang. Akal sehat juga akan terabaikan. Tidak akan nampak hal yang baik. Semua buruk. Gairahnya bergejolak ketika menemukan kesalahan-kesalahan baru/ atau celah baru yang dia temukan atas orang lain. Terutama pada orang yang tidak disukainya. Dan kalau hal seperti itu terus dibiarkan. Setelah mati rasa kita, akan menyusul mati raga juga. Percayalah!




0 Response to "16 Okt 2018"
Posting Komentar