25 Nov 2019
Sekitar bulan juli tahun 2003, ak mulai mengajar di sebuah sekolah. Swasta, bukan negeri seperti kebanyakan orang dambakan. Bukan karena tidak mau seperti orang-orang inginkan dan dapatkan. tapi sejak awal, kalau melihat bagaimana perjuangan untuk menjadi guru negeri dengan seluruh pengabdian tanpa pamrih yang “berdarah-darah” dan luar biasa itu, kayanya aku tidak akan sanggup menjalaninya.
Setelah lulus kuliah di tahun 2000 dari fakultas keguruan salah satu universitas negeri di Solo, aku dengan penuh keyakinan berangkat merantau ke Jakarta. Dan anehnya dalam benakku tidak terbesit sedikitpun ingin menjadi guru. Perusahaan atau kantoran. Berdasi dan perlente! Hanya itu fokusku. “Entah apa yg merasukiku” saat itu.
Bertolak dengan keberhasilan dan kemudahan saudaraku mendapatkan pekerjaan itulah yang menciptakan kepedeanku akan mendapatkan nasib yang sama. Nasib dimana dengan mudah Jakarta dia taklukan.
Ternyata, beda! Setiap orang punya nasib dan cara sendiri dalam menjalani hidupnya.
Jatuh bangun aku menjalani pencarian pekerjaan, bahkan menjalani pekerjaan yang saat itu aku rasa memang belum aku rasakan sebuah panggilan hidup. Tertekan. Tidak nyaman. Itu alasan yang paling mendasar. Tekanan atasan. Menekan bawahan. Kerja dengan target yang tidak masuk akal. Dll. Rasanya bukan itu modelku. Aku lelah!
Benar juga, aku jatuh saat aku sendiri belum menikmati ritme pekerjaan yang ak jalani. Ak harus leluar dari pekerjaan. Selain karena suasana kerja yang tidak sejalan, juga karena kecelakaan kecil bersama sebuah truck besar membuat aku harus mengistirahatkan diri. Jari-jari kakiku patah. Aku menyerah! Akhirnya kata-kata itu muncul di kepalaku, seraya muncul kepastian rencana aku kembali ke kampung. Ya, akhirnya aku kembali ke kampung.
Entah apa yg membawa langkahku pergi ke sebuah gereja dekat dengan aku tinggal selama di jakarta. Sebelum ak putuskan pergi dari Jakarta yang “sombong” ini. Yang pasti bukan untuk beribadah atau berdoa saat itu. Mungkin lebih karena kabar tentang tersedianya pengumuman lowongan kerja dari Komsos gereja tersebut.
“Dibutuhkan Guru” tertulis jelas dari beberapa deretan lowongan pekerjaan.
Kenapa tidak aku coba?! Dan akhirnya aku mengirimkan surat lamaranku. Entah yang keberapa kali aku menulis surat lamaran. Tapi yang terakhir ini mengandung begitu berat sebuah “kepasrahan”. Sebuah kepasrahan dalam keputusasaan. Bahkan sampai tak ada waktu sedikitpun aku menunggu kepastian atas pengajuan lamaranku. Dan aku pulang!
Aneh memang, entah apa yang aku rasakan saat itu ketika mendengar kabar panggilan dari surat lamaranku.
Gregetan, sebel, geli, atau mungkin seneng. Yang pasti akhirnya, ak kembali ke Jakarta.
Mulai saat itulah ak menjalani profesiku. GURU.
Ada begitu luas ruang untuk aku berekspresi. Ada begitu lebar dan bebas aku menuangkan kompetensiku. Bertemu banyak jiwa dan pemikiran. Entahlah, mungkin itu yang menjadikanku menemukan suasana lain. Suasana yang tak pernah aku rasakan di pekerjaan lain. Merasa berarti, jauh dari intimidasi dan mengintimidasi. Jelasnya. Aku nyaman. Mungkin benar, memang DNA yang mengalir dalam diriku memang seorang guru. Hal apa sih yg dicari dari apapun selain kenyamanan. Kini aku jalani profesiku. Banyak pembelajaran yang aku berikan, tapi juga pembelajaran hidup yang aku dapatkan. Mengajar dan mempelajari menjadi aktivitas yang harus berimbang. Karena segala sesuatu dinamis. Subyek maupun obyek yang dipelajari terus berkembang. Situasi juga terus berubah. Sebagai guru harus terus mengikuti perkembangan juga. “Wah, Bapak dah pengalaman dong, 16 tahun mengajar?” Seloroh seseorang dan seraya menanti tanggapan dariku. Tapi aku hanya tersenyum. Dalam hati aku berkata, di dunia pendidikan, bagiku tidak ada istilah pengalaman menjamin kesenioran. Aku merasa setiap tahun adalah lembaran baru yang selalu berbeda, dan membutuhkan cara yg berbeda. Aku merasa aku menemukan 16 angkatan siswa yang membawa pengalaman dan penanganan yg berbeda pula. Karena mereka manusia unik dengan lembaran yang menjadi tanggung kawabku menuliskan sesuatu yang berguna bagi mereka juga. SELAMAT HARI GURU teman-teman seprofesi.
Setelah lulus kuliah di tahun 2000 dari fakultas keguruan salah satu universitas negeri di Solo, aku dengan penuh keyakinan berangkat merantau ke Jakarta. Dan anehnya dalam benakku tidak terbesit sedikitpun ingin menjadi guru. Perusahaan atau kantoran. Berdasi dan perlente! Hanya itu fokusku. “Entah apa yg merasukiku” saat itu.
Bertolak dengan keberhasilan dan kemudahan saudaraku mendapatkan pekerjaan itulah yang menciptakan kepedeanku akan mendapatkan nasib yang sama. Nasib dimana dengan mudah Jakarta dia taklukan.
Ternyata, beda! Setiap orang punya nasib dan cara sendiri dalam menjalani hidupnya.
Jatuh bangun aku menjalani pencarian pekerjaan, bahkan menjalani pekerjaan yang saat itu aku rasa memang belum aku rasakan sebuah panggilan hidup. Tertekan. Tidak nyaman. Itu alasan yang paling mendasar. Tekanan atasan. Menekan bawahan. Kerja dengan target yang tidak masuk akal. Dll. Rasanya bukan itu modelku. Aku lelah!
Benar juga, aku jatuh saat aku sendiri belum menikmati ritme pekerjaan yang ak jalani. Ak harus leluar dari pekerjaan. Selain karena suasana kerja yang tidak sejalan, juga karena kecelakaan kecil bersama sebuah truck besar membuat aku harus mengistirahatkan diri. Jari-jari kakiku patah. Aku menyerah! Akhirnya kata-kata itu muncul di kepalaku, seraya muncul kepastian rencana aku kembali ke kampung. Ya, akhirnya aku kembali ke kampung.
Entah apa yg membawa langkahku pergi ke sebuah gereja dekat dengan aku tinggal selama di jakarta. Sebelum ak putuskan pergi dari Jakarta yang “sombong” ini. Yang pasti bukan untuk beribadah atau berdoa saat itu. Mungkin lebih karena kabar tentang tersedianya pengumuman lowongan kerja dari Komsos gereja tersebut.
“Dibutuhkan Guru” tertulis jelas dari beberapa deretan lowongan pekerjaan.
Kenapa tidak aku coba?! Dan akhirnya aku mengirimkan surat lamaranku. Entah yang keberapa kali aku menulis surat lamaran. Tapi yang terakhir ini mengandung begitu berat sebuah “kepasrahan”. Sebuah kepasrahan dalam keputusasaan. Bahkan sampai tak ada waktu sedikitpun aku menunggu kepastian atas pengajuan lamaranku. Dan aku pulang!
Aneh memang, entah apa yang aku rasakan saat itu ketika mendengar kabar panggilan dari surat lamaranku.
Gregetan, sebel, geli, atau mungkin seneng. Yang pasti akhirnya, ak kembali ke Jakarta.
Mulai saat itulah ak menjalani profesiku. GURU.
Ada begitu luas ruang untuk aku berekspresi. Ada begitu lebar dan bebas aku menuangkan kompetensiku. Bertemu banyak jiwa dan pemikiran. Entahlah, mungkin itu yang menjadikanku menemukan suasana lain. Suasana yang tak pernah aku rasakan di pekerjaan lain. Merasa berarti, jauh dari intimidasi dan mengintimidasi. Jelasnya. Aku nyaman. Mungkin benar, memang DNA yang mengalir dalam diriku memang seorang guru. Hal apa sih yg dicari dari apapun selain kenyamanan. Kini aku jalani profesiku. Banyak pembelajaran yang aku berikan, tapi juga pembelajaran hidup yang aku dapatkan. Mengajar dan mempelajari menjadi aktivitas yang harus berimbang. Karena segala sesuatu dinamis. Subyek maupun obyek yang dipelajari terus berkembang. Situasi juga terus berubah. Sebagai guru harus terus mengikuti perkembangan juga. “Wah, Bapak dah pengalaman dong, 16 tahun mengajar?” Seloroh seseorang dan seraya menanti tanggapan dariku. Tapi aku hanya tersenyum. Dalam hati aku berkata, di dunia pendidikan, bagiku tidak ada istilah pengalaman menjamin kesenioran. Aku merasa setiap tahun adalah lembaran baru yang selalu berbeda, dan membutuhkan cara yg berbeda. Aku merasa aku menemukan 16 angkatan siswa yang membawa pengalaman dan penanganan yg berbeda pula. Karena mereka manusia unik dengan lembaran yang menjadi tanggung kawabku menuliskan sesuatu yang berguna bagi mereka juga. SELAMAT HARI GURU teman-teman seprofesi.




0 Response to "25 Nov 2019"
Posting Komentar