03 Des 2019

~SAKIT~
Aku heran, semua tertawa, riuh dan rasanya seperti gemuruh. Gemuruh yang kian menyesakkan kepalaku. Pekak sekali. Tawa orang-orang kian menjadi, seakan tak pernah ada ujungnya. Tawa-tawa itu menyelinap di sela setiap kata yang diucapkan oleh dua pelawak di panggung. Kata-kata yang seakan mampu membuat beberapa orang terguling-guling memegang perutnya dan juga wanita memegang pinggulnya selayak orang yang sedang antri di depan toilet sambil terus tertawa dan tertawa.
Aku katupkan mulutku, tak ada sedikitpun aku temukan alasan untuk sekedar menarik ujung bibirku ke belakang. Semua serasa hambar. Dugaan burukku, selalu menguasai akhir dari setiap adegan di depanku. Prediksiku tidak selalu tepat, tapi terus menjadi pedoman bagiku dan begitu aku yakini. Bahwa apapun yang akan terjadi tentunya buruk. Dan aku tetap katupkan bibirku. Semua nampak aneh. Semua terasa menggelikan. Menggelikan?! Tepatnya menjijikan.
Belum selesai rasa muakku atas setiap seloroh yang tak bermakna. Tiba tiba terdengar bunyi berisik tak karuan. Mereka sebut itu musik. Musik? Seingatku musik tak seperti ini. Musik harusnya mambuatku terlena. Entah membawaku ke awan, atau menghempaskan aku pada titian waktu masalaluku. Tapi ini tidak. Tidak sama sekali. Mereka menghoyang-goyangkan seluruh tubuhnya. Mengentak. Bersama dengan tempo yang juga sama. Sekarang bukan hanya isi kepalaku yang serasa penuh. Tapi dadaku makin sesak. Ak hampir kehabisan nafas. Kucoba terus tarik semampuku. Tapi gerakan mereka telah menguasai semua ruang nafasku. Aku kalah. Ak terdiam diantara ribuan orang yang tertawa dan menari. Bergerak dan terus bergerak.
Tapi aku tetap rapatkan bibirku. Dan eratkan pijakkanku. Kini mataku tajam melihat apa yang sebenarnya mereka ikuti. Ak terus mencoba mencari apa yang sedang mereka nikmati dan akan ku coba nikmati.... tak ku temukan.
Kepenatan memuncak, mengaburkan mataku. Kerlipan lampu berubah mencadi serbuk cahaya warna warni. Semakin memudar dan suara gegap berubah menjadi lirih. Buram dan akhirnya gelap.................
..... Cahaya kuat menerpa wajahku, kekuatannya mampu menembus kulit kelopak mataku, walau masih terkatup. Ak mulai menyadari satu per satu setiap bagian tubuhku, kaki, tangan, mulut, dan telinga. Ya telingaku menangkap sayup suara berat dan penuh keyakinan.
“Sejak kapan dia bersikap aneh seperti ini bu?”
“Saya tidak yakin dok.” Aku kenal suara ini. Suara yang sama, nada yang sama, yang selalu memanggil aku sejak aku di kandungan.
“Semanjak dia kehilangan anjing kesayangannya setahun yang lalu. Dia tidak lagi pernah tersenyum, apalagi tertawa dok. Dia juga tidak pernah lagi memainkan gitar kesayangannya. Tolonglah dok. Apa yang harus saya lakukan.”
“Anjing itu pemberian dari siapa, bu?”
“Dari teman wanitanya dok, teman dekatnya”
“Bolehkah saya minta no hp teman wanita itu?”
“Justru itu dok, semenjak anjing itu menghilang, no hp wanita itu tidak lagi aktif. Dan dia tidak pernah lagi datang ke rumah.”
Siapa dia, dia tahu soal anjingku, dia paham soal teman wanitaku?!
Tiba-tiba sunyi, hanya sesekali suara nafas dan isak kecil dari orang itu. Aku tetap jaga rapat kelopak mataku.
“Seperti halnya tubuh, jiwa yang terluka tidak akan mampu menikmati apa pun. Semua akan terasa hambar.” Tiba-tiba suara seseorang dengan panggilan ‘dok’ itu memecah keheningan.
Jiwa yang terluka. Apa maksud dia? Ak merasa baik-baik saja. Ak hanya kehilangan daya nikmatku. Sok tau dia. Ingat, aku baik-baik saja. Tidak ada masalah dengan aku. Jiwaku sehat! Ingin rasanya aku buka mata dan teriak ke orang itu. Tapi aku tak mampu.
Tiba-tiba terdengar suara aneh muncul dari HP. tetap sama. Tidak nyaman dan membuatku muak.
“Nada dering hp nya keren dok, lagu kekinian itu, banyak yang suka.” Kata suara yang seharusnya ak kenal itu....
Sekuat tenaga aku coba membuka mataku. Tetap tak mampu. Dan suara itu mengecil, tidak berhenti tapi mengecil, sayup semakin sayup dan sampai tak terdengar lagi. Cahaya tajam pun meredup dan hilang seiring hilangnya lirih lagu itu.

Read Users' Comments (0)

0 Response to "03 Des 2019"

Posting Komentar