11 Des 2017
"Ben dosa dewe" itulah kata yang sering kita ungkapakan saat kecil dulu dimana kita dalam posisi terdzolimi dan tidak mampu berbuat apa-apa.
Ben dosa dewe dalam bahasa indonesia mempunyai arti, "biar dia tanggung dosanya sendiri"
Sebuah kata yang bukan hanya bermakna lugas, tapi juga mempunyai nilai rasa pasrah. Nilai rasa yang begitu meyakin bahwa sistem kehidupan adalah tabur-tuai. Keyakinan bahwa karma berjalan dengan baik. Keyakinan di mana Dia yang di sana, tidak akan tinggal diam ketika melihat hambanya disakiti.
Bukan hanya sekedar lugas. Kepolosan hati kita bahwa kita tidak punya hak untuk membalas apapun dosa yang dilakukan orang lain, bahkan pun dosa pada diri kita. Keyakinan segala sesuatu akan mendapatkan balasannya, karena keyakinan kita dalam posisi yang benar-benar "benar".
Sangat sederhana, tapi justru iman tetap menjadi kuat ketika kesederhanaan masih mendominasi cara berpikir kita tentang hukum, dosa, dan kuasa Yang Esa. Kesederhanaan atas keyakinan hukum yang telah Ia ciptakan.
Justru berbanding terbalik ketika kita perjuangkan kebenaran (menurut versi diri masing-masing) berjuang demi diri kita saat hak kita dirampas. Perjuangan yang dirancang oleh pikiran hanya berbuah dendam dan mematikan iman sejati tentang konsep ajaran yang kita yakini di awal. Meragukan keyakinan bahwa jika kita benar, pasti akan menang dan jika kita baik, pasti akan berakhir senang.
Dan bukan justru memutar otak dengan segala cara, sampai terkesan kita meragukan kekuasaan Dia Yang Maha Kuasa.serta Meragukan keimanan kita tentang kasih Dia yang tidak berkesudahan.
" semua akan indah pada waktunya" sebuah kalimat yang manis untuk diucap, dan merdu untuk di dengar. Tapi sering terabaikan. Bahkan hanya menjadi jargon tanpa kita pegang dalam keseharian.
"Ben dosa dewe" seandainya semua orang masih mempunyai keyakinan sepolos masa lalu. Tidak akan perlu ada konflik terbuka, debat, adu fisik, caci maki, atau pun saling mencurigai, dan hal-hal lain buah dari kebencian.
Seharusnya semua mayakini diri dalam kebenaran dan membiarkan diri pada perlindungan dari Tuhanya sendiri. Biarkan Dia yang kuasa, menggunakan kekuasaaNya.
Percayalah, selain damai di bumi, tak akan adalagi yg mampu memanfaatkan situasi dan warna keimanan yang beragam sebagai komoditi politik dan tujuan duniawi.
Ben dosa dewe dalam bahasa indonesia mempunyai arti, "biar dia tanggung dosanya sendiri"
Sebuah kata yang bukan hanya bermakna lugas, tapi juga mempunyai nilai rasa pasrah. Nilai rasa yang begitu meyakin bahwa sistem kehidupan adalah tabur-tuai. Keyakinan bahwa karma berjalan dengan baik. Keyakinan di mana Dia yang di sana, tidak akan tinggal diam ketika melihat hambanya disakiti.
Bukan hanya sekedar lugas. Kepolosan hati kita bahwa kita tidak punya hak untuk membalas apapun dosa yang dilakukan orang lain, bahkan pun dosa pada diri kita. Keyakinan segala sesuatu akan mendapatkan balasannya, karena keyakinan kita dalam posisi yang benar-benar "benar".
Sangat sederhana, tapi justru iman tetap menjadi kuat ketika kesederhanaan masih mendominasi cara berpikir kita tentang hukum, dosa, dan kuasa Yang Esa. Kesederhanaan atas keyakinan hukum yang telah Ia ciptakan.
Justru berbanding terbalik ketika kita perjuangkan kebenaran (menurut versi diri masing-masing) berjuang demi diri kita saat hak kita dirampas. Perjuangan yang dirancang oleh pikiran hanya berbuah dendam dan mematikan iman sejati tentang konsep ajaran yang kita yakini di awal. Meragukan keyakinan bahwa jika kita benar, pasti akan menang dan jika kita baik, pasti akan berakhir senang.
Dan bukan justru memutar otak dengan segala cara, sampai terkesan kita meragukan kekuasaan Dia Yang Maha Kuasa.serta Meragukan keimanan kita tentang kasih Dia yang tidak berkesudahan.
" semua akan indah pada waktunya" sebuah kalimat yang manis untuk diucap, dan merdu untuk di dengar. Tapi sering terabaikan. Bahkan hanya menjadi jargon tanpa kita pegang dalam keseharian.
"Ben dosa dewe" seandainya semua orang masih mempunyai keyakinan sepolos masa lalu. Tidak akan perlu ada konflik terbuka, debat, adu fisik, caci maki, atau pun saling mencurigai, dan hal-hal lain buah dari kebencian.
Seharusnya semua mayakini diri dalam kebenaran dan membiarkan diri pada perlindungan dari Tuhanya sendiri. Biarkan Dia yang kuasa, menggunakan kekuasaaNya.
Percayalah, selain damai di bumi, tak akan adalagi yg mampu memanfaatkan situasi dan warna keimanan yang beragam sebagai komoditi politik dan tujuan duniawi.




0 Response to "11 Des 2017"
Posting Komentar