13 Juli 2017

Suatu waktu, ketika ak bermain dengan angan dan pikiran. Ku coba mengaitkan dan menganalogikan tentang bagaiman hubungan manusia dengan penciptanya. Seperti selayak hubungan mereka dengan pasangan hidupnya di dunia. Banyak cara mereka mengekspresikan rasa cintanya tersebut. Kedalaman Keduanya cinta itu, bisa saja diukur dari kuantitas waktu yg diberikan pada yg dicintanya. Memberikan sepenuhnya pikiran dan hati. Bahkan melakukan apapun yg dikehendaki oleh sang kekasih. Dan seakan selalu ingin habiskan waktu untuk bermesraan, bercanda, dan tak pernah lupa terus menyapa di setiap waktu yg dimilikinya. Kemesraan yg seharusnya memang dinikmati sendiri, tanpa peduli orang melihat atau tidak. Tak ada keinginan untuk dipuji, apalagi sengaja untuk memamerkannya.
Walau ak pernah juga melihat, ketika salah satu pasangan mencoba menyisakan tanda pada tubuhnya (biasanya tanda merah di leher) atas kemesraan yang dialaminya semalam. Orang akan memandang sinis, dan nyinyir atas apa yg dilakukan. Karena memang seharusnya kemesraan itu milik mereka, dan bukan untuk diperlihatkan.
Begitu juga halnya, ketika ada seseorang yang sengaja menyisakan hasil hub mesra dengan Penciptanya (biasanya di jidat, atau yg lain). Bisa jadi reaksi orang akan sama.
Menurutku, memang seharusnya hanya sampai pada batas mereka berdua yang tahu, bagaimana cara mereka menikmati hub tersebut. Yang terpenting, bagaimana menunjukan hasil positip yang dapat terlihat dan dirasakan orang lain, atas hubungan yang terbina. Seperti halnya berumah tangga. Jaga kamarmu tetap senyap, walaupun seakan kamu ingin berteriak. Walaupun sebenarnya menjerit pun syah bagimu ketika bermesraan. Begitu juga caramu mencintaiNya.

Read Users' Comments (0)

0 Response to "13 Juli 2017"

Posting Komentar