17 Maret 2017
Bahagia itu Sederhana.
Bahagia itu memang sederhana, tapi tidak sesederhana seperti yang kita bayangkan.
Kalau bicara konsep dan definisi sebuah kalimat seperti di atas. Mungkin memang cukup sederhana. Tapi ketika kita masuk ke ranah pelaksanaan, tidak sesederhana yang kita pikirkan.
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi, makna dari sederhana itu sendiri. Dari dalam mau pun dari luar diri kita sendiri.
Teringat ketika masih duduk di bangku kuliah. Terutama di kost, kebahagianan itu sebatas mie goreng instant, dengan kuah sedikit dan tambahan nasi hangat agar lebih kenyang. Kebahagian ketika kebutuhan yang mendasar terpenuhi, dan tidak terlalu menunggu lama. Kebahagiaan adalah, ketika pulang dari tukang loak, membeli beberapa komponen dari radio rusak, dan mengisi hari-hari dengan berusaha membuat radio kembali menyala. Nyala kembali, itulah kebahagiaan. Kebahagiaan, adalah ketika pulang kuliah, naik bus yang berdesakan, dan kondektur lupa meminta ongkos. Itu pun bahagia. Bahagia yang harus diceritakan ke teman-teman bahkan.
Begitu sederhana, begitu murah, dan begitu gampang untuk ukuran kita yang saat ini mengubah standar kesederhanaan saat ini.
Terus, mengapa kita kadang jarang menemukan kebahagiaan, walau pun kita sudah jauh dari kesederhanaan. Logikanya kalau sederhana aja bahagia, apalagi lebih dari sederhana?
Lah itu kan logika matematika, kenyataanya banyak orang merasa tidak pernah menemukan bahagia, walaupun dia mampu membeli apapun yang dia mau. Karena kebahagian memang bukan hasil dari apa yang mampu kita bayar.
Tapi banyak juga yang berusaha mencari, walaupun dengan cara apapun untuk menemukan kebahagiaan sudah dia lakukan. Karena memang bahagia bukan hasil dari pencarian.
Kebahagian itu hasil ciptaan.
Iya, kita mampu menciptakan bahagia kita sendiri tanpa apapun atau siapapun. Kebahagiaan yang murni. Hasil kolaborasi, rasa syukur dengan bahan dasar apapun yang kita punya. Bahkan kalaupun kita tidak punya apapun, rasa syukur mampu membuat kita bahagia.
Bahagia itu memang sederhana, tapi tidak sesederhana seperti yang kita bayangkan.
Kalau bicara konsep dan definisi sebuah kalimat seperti di atas. Mungkin memang cukup sederhana. Tapi ketika kita masuk ke ranah pelaksanaan, tidak sesederhana yang kita pikirkan.
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi, makna dari sederhana itu sendiri. Dari dalam mau pun dari luar diri kita sendiri.
Teringat ketika masih duduk di bangku kuliah. Terutama di kost, kebahagianan itu sebatas mie goreng instant, dengan kuah sedikit dan tambahan nasi hangat agar lebih kenyang. Kebahagian ketika kebutuhan yang mendasar terpenuhi, dan tidak terlalu menunggu lama. Kebahagiaan adalah, ketika pulang dari tukang loak, membeli beberapa komponen dari radio rusak, dan mengisi hari-hari dengan berusaha membuat radio kembali menyala. Nyala kembali, itulah kebahagiaan. Kebahagiaan, adalah ketika pulang kuliah, naik bus yang berdesakan, dan kondektur lupa meminta ongkos. Itu pun bahagia. Bahagia yang harus diceritakan ke teman-teman bahkan.
Begitu sederhana, begitu murah, dan begitu gampang untuk ukuran kita yang saat ini mengubah standar kesederhanaan saat ini.
Terus, mengapa kita kadang jarang menemukan kebahagiaan, walau pun kita sudah jauh dari kesederhanaan. Logikanya kalau sederhana aja bahagia, apalagi lebih dari sederhana?
Lah itu kan logika matematika, kenyataanya banyak orang merasa tidak pernah menemukan bahagia, walaupun dia mampu membeli apapun yang dia mau. Karena kebahagian memang bukan hasil dari apa yang mampu kita bayar.
Tapi banyak juga yang berusaha mencari, walaupun dengan cara apapun untuk menemukan kebahagiaan sudah dia lakukan. Karena memang bahagia bukan hasil dari pencarian.
Kebahagian itu hasil ciptaan.
Iya, kita mampu menciptakan bahagia kita sendiri tanpa apapun atau siapapun. Kebahagiaan yang murni. Hasil kolaborasi, rasa syukur dengan bahan dasar apapun yang kita punya. Bahkan kalaupun kita tidak punya apapun, rasa syukur mampu membuat kita bahagia.




0 Response to "17 Maret 2017"
Posting Komentar