20 Des 2012

Jikalau kau tanya, "apakah mataku yang indah, atau bibirku yang manis, atau pikiranku yang cerdas, atau suaraku yang merdu ataupun tubuhku yang gemulai yang membuat mu jatuhkan hati tetap padaku?" jawabku bukan apa dari antaranya.  Tapi bagaimana  tatapmu yang mampu teduhkan gerahku dengan senyum bibirmu yang selalu menghiburku, dari positifnya pikirmu yang membangun harapanku dan ucapmu yang mampu menenangkan gundahku serta tubuh yang kau pastikan terjaga dari selainku.

Read Users' Comments (0)

24 Feb 2017

Banyak postingan di media sosial, tentang opini atau pun fakta yang berkaitan dengan lawan politik atau bicara tentang pasangan pilihannya. Postingan yang lunak maupun fulgar semua seakan bernada menjatuhkan. Bukan tidak sengaja, semua memang sudah diatur sedemikian rupa, berharap apapun yang ditulis akan memberikan dampak perubahan pemikiran dari pendukung lawan berbalik ke dukungannya. Semua tulisan, foto, atau pun video dengan disertai data lengkap, atau hanya berupa analisa pribandi yang jauh dari sifat ilmiah begitu gampang kita temui di halaman dinding dan pemberitaan. Semua menjadi senjata untuk saling menyerang. Saling menjatuhkan, dan bahkan terkesan mulai saling mengolok-olok.
Fenomena seperti ini hampir selalu ditemukan dalam setiap moment serupa pilkada di belahan dunia mana pun.
Entah berharap dukungan lawan akan berubah, atau hanya sekedar memperolok kekuarangan lawan, yang pasti semua sudah nampak sebagai perang terbuka untuk saling mengubah tanggapan dan pilihan.
Perubahan tanggapan dan pilihan seseorang memang bisa dipengaruhi oleh data ilmiah dan data yang valid. Setiap orang pasti akan berubah bila melihat kenyataan bahwa apa yang dipikirkan dan diyakini itu ternyata salah. Tapi itu jika kita memilih berdasarkan akal sehat dan pemikiran yang logis.
Dari jaman mulai orang mengenal peradaban dan pengetahuan, pemahaman agama dan ilmu pengetahuan memang hampir tidak sejalan. Terutama tentang apa pun yang terjadi, dan kejadian atas penciptaan dunia. Setiap orang meyakini keduanya benar, tapi bermuara dari hal yang berbeda. Logis dan iman. Logis dimulai dengan teori yang ilmiah, tapi iman tidak butuh pembuktian. Bahkan teori tentang bentuk bumi pun sampai sekarang masih ada yang berkeyakinan berbeda. Ada yang bulat, bahkan ada yang mati-matian mengatakan datar. Banjir yang terjadi baru baru ini pun ada yang beranggapan bahwa itu karena kemarahan sang pencipta atas ciptaanya. Bukan dari dampak kesalahan banyak orang, apalagi tentang siklus lima tahunan.
Seperti yang saya pernah katakan, keyakinan yang tanpa akal sehat, akan menjadi komoditi yang menjanjikan digunakan untuk penggalangan segmen pasar perpolitikan. Terutama di indonesia. Yang sebagian besar masih menggunakan iman kepercayaan tanpa akal sehat. Sehingga apa pun yang mereka yakini benar, ketika menemukan fakta kebenaran baru yang bertolak belakang, iman yang bicara, bukan logika dan akal sehat.
Para elit politik memanfaatkan hal ini sebagai tonggak yang kuat bagi pendukung pasangan yang diusung. Serangan apapun, yang menjelaskan fakta ataupun data, tak akan mampu mengubah pilihan mereka karena ini adalah panggilan iman.
Jadi upaya memberikan opini itu tidak sepenuhnya mampu menjelaskan. Penggunaan data ilmiah tak akan bisa menggoyah apalagi mengoyak selaput kuat yang menyelubungi pikiran mereka.
Jadi percuma kita saling memberikan data ataupn cerita, jika pada akhirnya hanya bermuara pada keretakan satu sama lain. Ini seperti mendebatkan keyakinan masing-masing. Keyakinan yang sudah ditanam dari sejak kita keluar dari rahim bunda. Mustahil dan hampir tak akan berhasil. Percuma jika kita terus memadukan sesuatu yang riil dengan dunia yang masih bayangan dan katanya.
Cacian, fitnah, olokan, dan hal-hal lain akan terus menghiasi dinding-dinding pikiran dan media sosial kita.
Asudahlah, percuma aku lanjutkan tulisan jika logika tak kau gunakan...

Read Users' Comments (0)

17 Maret 2017

.....: Enak jamanku to?
.....: Apa?!
.....: Mbahmu kiper!
Jawaban yang selalu tiba-tiba ingin aku ucapkan ketika mendengarkan istilah perbandingan jaman sekarang dan jaman dahulu, zaman dimana ketika kekuasaan benar-benar dikuasai oleh sebuah rezim.
Masa dimana segala sesuatu penuh dengan manipulasi dan kepura-puraan.
Bagaimana tidak. Masih ingat pada masa itu, hal-hal yang dulu serasa wajar dan dimaklumi, ternyata sekarang menjadi sesuatu yang jauh dari kepantasan. Masa lalu menjadi kenangan indah, hanya pada taraf indahnya masa remaja dan jernihnya sungai yang menjadi satu-satunya tempat kami menghabiskan waktu-waktu yang panjang.
Kesadaran tentang bobroknya sistem dan pelayanan pemerintahan muncul ketika kesadaran itu disuarakan dengan lantang dan mengancurkan dinding penguasa saat itu.
Lagu nina bobo yang terus dinyanyikan untuk rakyat saat itu bener-benar mampu membangun mimpi-mimpi yang tak pernah berhenti. Mimpi yang menidurkan kesadaran rakyat akan hak tentang sesuatu yang layak. Bahkan layak pun sudah dimanipulasi dan dipoles dengan standar yang bersandar pada titik nadir.
Semua nampak tragis dan nelangsa, kalau dibicarakan.
Bagaimana tidak tragis, karena ulah monopoli keputusan pemerintah tentang uang beras bagi pegawai negeri dengan memotong harga beli beras dengan kualitas baik, tapi mengirimkan beras dengan hampir 25%nya berisi kutu, dan bahan pemutih sebagai alat kamuflase supaya terlihat layak untuk dikumsumsi menjadi pemandangan dan pengalamanku dari sejak lahir sampai masuk remaja. Tak aku sadari semua serasa berjalan biasa saja. Dan hampir separuh dari masa pertumbuhanku dipasok dengan protein hewani dari kutu yang mungkin tidak sengaja terkirim oleh bersama beras2 itu.
Masih jelas di benak, bagaimana seluruh air di parit belakang rumah mendadak menjadi putih ketika ibu sedang mencuci beras sebelum dimasak. Warna yang dihasilkan dari banyaknya pemutih yang waktu itupun tak aku sadari bahwa itu adalah pemutih.
Lebih konyol lagi, layaknya istri seorang pegawai negeri di sebuah desa, ibuku dituntut aktif dalam kegiatan yang berkaitan dengan kegiatan desa, atau bahkan sampai kegiatan tingkat kabupaten. Dari kegiatan perkumpulan ibu-ibu PKK sampai kegiatan mempersiapkan skenario konyol bila akan ada kunjungan dari kepala daerah atau setingkatnya. Menyulap kebun kosong warga menjadi apotik hidup dalam semalam. Dengan cara mengumpulkan tanaman yang sudah hidup dalam pot. Menaman se-pot2 nya. Atau membantu membuat kolam ikan dengan melubangi tanah dan melapisinya dengan plastik. Seakan menjadi agenda rutin yang sudah saling dipahami. "asal bapak senang" itulah visi yang dipegang saat orde itu berjalan. Memanipulasi, dan merekayasa itu agenda yang pasti.
Setelah lulus SMA, kuliah hanya menjadi acara untuk mencari status. Toh, nanti lulus kuliah, cukup gampang untuk mencari kerja. Asal ada koneksi dan uang. Posisi langsung kepegang.
Sudah banyak kok contoh!
Tono anak tetangga, sekolah tidak terlalu pitar, bahkan termasuk naik kelas saja sukar. Bisa diterima ke sekolah bergengsi ikatan dinas milik pemerintah karena ada fulus yang dipersiapkan. Semua serba gampang untuk berlaku curang.
Bicara soal kesehatan. Ada puskesmas, gedung yang dipunyai tidak pernah berubah dari saya lahir sampai mau kuliah. Dan praktik bidan beralih di rumahnya. Karena memang lebih layak, karena memang setiap tahun mampu dia renovasi rumah. Dan entah dia dapat dari mana biayanya.
Hiburan, satu-satunya adalah televisi yang hanya mempunyai satu siaran, itu pun berisi tayangan hasil manipulasi sebuah keberhasilan pembangunan. Dengan slogan-slogan tentang tanah kita adalah tanah surga. Tapi surga bagi sebagian yang mampu menguasainya.
Tidak semua mendapatkan surga itu, terutama bagi keluarga teman SD ku. Seluruh keturunan tidak punya hak apapun di negeri ini, karena leluhurnya pernah menjadi simpatisan sebuah partai yang dilarang oleh penguasa saat itu.
Beruntung bapaknya tidak ikut dibantai saat itu. Mungkin Tuhan belum berkehendak. Karena hanya Tuhan yang mampu menyelamatkan nyawa seseorang yang dianggap dan dicap PKI dari pembantaian masal saat itu. Tanpa pengadilan, tanpa penjelasan. Rakyat dipakai menghabisi rakyat. Pikiran mereka yang polos dan tangan mereka yang bersih, dipaksa menumpahkan darah saudaranya sendiri.
Orde yang dimulai dengan tumpahnya bergalon-galon darah. Pasti mampu melaksanakan pemerintahan yang tegas. Sangat tegas. Sehingga mampu menyumbat suara yang sumbang dan tidak senada dengan irama yang pemerintah nyanyikan. Mahasiswa, politikus, pengamat, ulama, atau siapaun akan tiba-tiba hilang jika dia mencoba bernyanyi. Bernyanyi lagu yang tak direstui oleh sang penguasa. Hilang tinggal nama. Dan hilang dengan kisah yang berbeda-beda.
Mana mungkin bisa dibandingkan dengan sekarang. Zaman juga berbeda, kebebasan berbicara kadang malah kebablasan. Masalah rezeki dan penghasilan, adalah hasil dari rencana dan usaha kita masing-masing. Begitu pula masalah keyakinan. Kebahagiaan itu bersumber dari cara kita mengelola rasa syukur dengan apa yang kita punya dan yang ada di sekitar kita. Bukan pada apa yang orang lain atau pemerintah lakukan.
Setiap zaman, ada enak dan tidaknya. Tapi paling tidak, kesadaran hukum dan keterbukaan atas hak dan kewajiban sebagai warga negara, kini sudah mulai ada daripada sebelumnya. (Sebagian teks hilang)

Read Users' Comments (0)

17 Maret 2017

Bahagia itu Sederhana.
Bahagia itu memang sederhana, tapi tidak sesederhana seperti yang kita bayangkan.
Kalau bicara konsep dan definisi sebuah kalimat seperti di atas. Mungkin memang cukup sederhana. Tapi ketika kita masuk ke ranah pelaksanaan, tidak sesederhana yang kita pikirkan.
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi, makna dari sederhana itu sendiri. Dari dalam mau pun dari luar diri kita sendiri.
Teringat ketika masih duduk di bangku kuliah. Terutama di kost, kebahagianan itu sebatas mie goreng instant, dengan kuah sedikit dan tambahan nasi hangat agar lebih kenyang. Kebahagian ketika kebutuhan yang mendasar terpenuhi, dan tidak terlalu menunggu lama. Kebahagiaan adalah, ketika pulang dari tukang loak, membeli beberapa komponen dari radio rusak, dan mengisi hari-hari dengan berusaha membuat radio kembali menyala. Nyala kembali, itulah kebahagiaan. Kebahagiaan, adalah ketika pulang kuliah, naik bus yang berdesakan, dan kondektur lupa meminta ongkos. Itu pun bahagia. Bahagia yang harus diceritakan ke teman-teman bahkan.
Begitu sederhana, begitu murah, dan begitu gampang untuk ukuran kita yang saat ini mengubah standar kesederhanaan saat ini.
Terus, mengapa kita kadang jarang menemukan kebahagiaan, walau pun kita sudah jauh dari kesederhanaan. Logikanya kalau sederhana aja bahagia, apalagi lebih dari sederhana?
Lah itu kan logika matematika, kenyataanya banyak orang merasa tidak pernah menemukan bahagia, walaupun dia mampu membeli apapun yang dia mau. Karena kebahagian memang bukan hasil dari apa yang mampu kita bayar.
Tapi banyak juga yang berusaha mencari, walaupun dengan cara apapun untuk menemukan kebahagiaan sudah dia lakukan. Karena memang bahagia bukan hasil dari pencarian.
Kebahagian itu hasil ciptaan.
Iya, kita mampu menciptakan bahagia kita sendiri tanpa apapun atau siapapun. Kebahagiaan yang murni. Hasil kolaborasi, rasa syukur dengan bahan dasar apapun yang kita punya. Bahkan kalaupun kita tidak punya apapun, rasa syukur mampu membuat kita bahagia.

Read Users' Comments (0)

13 Juli 2017

Suatu waktu, ketika ak bermain dengan angan dan pikiran. Ku coba mengaitkan dan menganalogikan tentang bagaiman hubungan manusia dengan penciptanya. Seperti selayak hubungan mereka dengan pasangan hidupnya di dunia. Banyak cara mereka mengekspresikan rasa cintanya tersebut. Kedalaman Keduanya cinta itu, bisa saja diukur dari kuantitas waktu yg diberikan pada yg dicintanya. Memberikan sepenuhnya pikiran dan hati. Bahkan melakukan apapun yg dikehendaki oleh sang kekasih. Dan seakan selalu ingin habiskan waktu untuk bermesraan, bercanda, dan tak pernah lupa terus menyapa di setiap waktu yg dimilikinya. Kemesraan yg seharusnya memang dinikmati sendiri, tanpa peduli orang melihat atau tidak. Tak ada keinginan untuk dipuji, apalagi sengaja untuk memamerkannya.
Walau ak pernah juga melihat, ketika salah satu pasangan mencoba menyisakan tanda pada tubuhnya (biasanya tanda merah di leher) atas kemesraan yang dialaminya semalam. Orang akan memandang sinis, dan nyinyir atas apa yg dilakukan. Karena memang seharusnya kemesraan itu milik mereka, dan bukan untuk diperlihatkan.
Begitu juga halnya, ketika ada seseorang yang sengaja menyisakan hasil hub mesra dengan Penciptanya (biasanya di jidat, atau yg lain). Bisa jadi reaksi orang akan sama.
Menurutku, memang seharusnya hanya sampai pada batas mereka berdua yang tahu, bagaimana cara mereka menikmati hub tersebut. Yang terpenting, bagaimana menunjukan hasil positip yang dapat terlihat dan dirasakan orang lain, atas hubungan yang terbina. Seperti halnya berumah tangga. Jaga kamarmu tetap senyap, walaupun seakan kamu ingin berteriak. Walaupun sebenarnya menjerit pun syah bagimu ketika bermesraan. Begitu juga caramu mencintaiNya.

Read Users' Comments (0)

28 N0v 2017

Seharusnya kalau menjalani dengan tulus, penganut agama itu ;
Tidak akan pernah merisaukan akan urusan dunia. Karena katanya dunia itu fana.
Tidak pernah khawatir dengan hari esok, karena katanya telah dijanjikan hal yang indah esok hari.
Tidak takut akan kepercayaan lain berkembang. Karena harusnya dia yakin, dia dalam kebenaran sejati.
Tenang dengan segala hal, karena dia punya Tuhan yang berkuasa dalam apapun juga.
Memang seharusnya, kedamaian dan ketenangan menjadi bagian hidup mereka di dunia yang fana ini.

Read Users' Comments (0)

04 Des 2017

Boro-boro sempurna ya ma?
Dari kata bagus saja masih belum bisa dibilang pantes.
Tapi dari 13 tahun lalu, kan kita sudah niat dan janjikan di depan altar. Bahwa kita terus harus saling menjaga dan memahami satu sama lain.
Akan terus kita jaga jari kita saling untuk menggengam, dalam tidur dan jaga. Dalam suka atau pun duka. Dalam untung atau malang.
Semua demi mampunya kita memaknai arti kesempurnaan cinta. Wkwkwk muluk ya ma?
Ngga ma, Ngga harus kaya drama korea atau filem-filem cinta. Tapi mensyukuri semuanya, akan membuat kita tak terberaikan. Itu cukup.
Kita bisa ketawa dan menikmati sisa waktu kita. Dan masih bisa melihat buah hati kita riang ria, adalah kesempurnaan yang tak terwakilkan.
Iya kan ma?
Akan aku buang hal muluk yang sering terlintas di kepala kita . Walau kadang susah, dan sering tiba-tiba datang. Tapi kita kan sering diajari bahwa dengan doa segala sesuatu bisa indah pada waktunya. Iya kan ma? Oke ma, i love you ma.

Read Users' Comments (0)