18 Okt 2018

Ditengah pembicaraan tentang "bully" di ruang guru. Seorang anak kelas 9 yang sedang lewat ikut nimbrung. "Orang merasa dibully itu karena menganggap bullyan sebagai bully, bully atau tidak tergantung kita yang menyikapi".....
Seeperti biasa, ketika kita berbicara satu sama lain, dan mendengarkan sebuah pernyataan dari salah satu rekan yang kita rasa sangat benar, kita dengan sepontan berdiri dan tepuk tangan. Dan saat itu sepontan ak tepuk tangan.
Bagi pemikiran sebagian besar orang dewasa, pernyataan tersebut sudah biasa. Tapi ketika keluar dari seorang siswa bagiku bukan sekedar pernyataan yang harus dilewatkan tanpa apresiasi "tepuk tangan"
Kesadaran tentang managemen pikiran sudah terbentuk sejak dini pada anak tersebut. Managemen pikiran yang akhirnya akan mampu mengontrol perasaan dan hati. Karena hakikatnya, kita tidak sepenuhnya mampu mengontrol orang lain bersikap atau berujar sesuai apa yang kita mau. Kita juga tidak punya hak penuh untuk memaksa orang melakukan apapun dengan gaya seperti gaya kita. Yang mampu kita lakukan adalah memasang filter dalam pikiran supaya hati tidak selalu menerjemahkan apa pun yang masuk menjadi krikil tajam yang mampu melukai dirinya sendiri. Kita harus belajar membuat peredam dalam pikiran agar nada yang tinggi dan sumbang di telinga kita, menjadi lebih nyaman bersemayam di dalam diri. Atau setidaknya belajar untuk menginstal "aplikasi cleaner" dalam hati. Biar sampah tetap menjadi sampah. Dan terbuang tanpa mengendap menebarkan penyakit hati.
Banyak orang lebih berfokus pada upaya penangkalan pelaku. Sering dalam pembicaraan tentang bullying, hanya bermuara pada pengambinghitaman banyak hal atas masalah yang terjadi. Game, internet, hp, pergaulan teman, dan bahkan juga sekolah.
Yah, memang hanya itu yang paling mudah untuk dilakukan. Selain praktis, tapi juga menjanjikan sesuatu solusi yang instant. Walau hanya pada taraf "Nampaknya".
Akan lebih bagus kita membangun jiwa anak yang mempunyai spiritualitas yang benar. Sehingga mampu memandang sesuatu dari berbagai sudut. Mengubah sesuatu dengan bentuk apa pun. Mengubah energi liar yang datang menjadi hembusan yang menyejukan.
Karena tidak mungkin kita akan menyalahkan angin topan atas robohnya rumah kita. Tapi seharusnya perancang rumah yang semestinya memikirkan segala kemungkinan yang terjadi.

Read Users' Comments (0)

0 Response to "18 Okt 2018"

Posting Komentar