29 Okt 2018
Simbol
Simbol berasal dari kata symballo (Yunani) yang artinya melempar bersama-sama, melempar atau meletakkan bersama-sama dalam satu ide atau gagasan objek yang kelihatan, sehingga objek tersebut mewakili gagasan.
Simbol sendiri bisa berupa apa saja. Tulisan, gambar, warna , gerakan, bangunan, atau bahkan patung-patung.
Simbol diciptakan untuk berbagai keperluan, selain bertujuan utama mewakili sebuah gagasan atau konsep, simbol bisa mewakili segala sesuatu yang membutuhkan penjelasan yang kompleks menjadi lebih sederhana. Dengan simbol, kita mampu mencerna atau mewakilkan semua makna lewat sesuatu yang simple dilakukan atau dilukiskan. Mungkin begitulah penjelasan sederhananya. Simbol itu diciptakan dan dibuat bersama untuk bersama.
Tapi simbol tidak akan berarti tanpa kesepakatan semua pihak dan juga tidak untuk orang yang tidak sepakat tentunya. Atau mungkin bukan hanya tidak sepakat. Lebih tepatnya tidak memahami arti simbol itu sendiri. ....
Teringat beberapa tahun lalu. Ketika aku bersama seorang teman membuka album foto kenangan keluarganya. Saat itu fokusku tertuju pada salah satu pria yang selalu muncul di setiap foto. Yah, benar. Ternyata seorang pria tersebut adalah adiknya. Perhatianku bukan pada sosok prianya. Tapi gaya dia berfoto. Hampir semua gaya dia, selalu mengacungkan jari tengah. Hampir semua foto, termasuk foto keluarga. Tapi dengan ekspresi yang penuh kegembiraan.
Dugaan awalku, dengan tetap berpikiran positif, aku berfikir, pasti pria tersebut tidak memahami makna simbol jari tengah yang dia tunjukan di setiap posenya. Dan kepastian itu terungkap saat aku coba bicara dan membicarakan maksud dan makna simbol tersebut langsung kepada dia. Simbol menjadi berarti kalau memang disepakati dan dipahami. Bukan hanya sekedar sering melihatnya. Khasus diatas menurutku wajar saja. Bukan karena dia berasal dari daerah yang mungkin tidak memahami makna akan simbol dan hanya mengikuti saja. Bahkan beberapa waktu lalu, seorang gurbernur saja berfoto dengan gaya yang sama. Aneh kan?
Simbol banyak kita temukan bukan hanya dalam media komunikasi, tetapi di dunia religiusitas atau keagamaan. Ritualitas keagamaan penuh dengan simbol. Semua simbol yang diciptakan di dalam kegiatan ritual keagamaan mempunyai tujuan beragam. Yang tentunya mengarah pada Sang Yang Diagungkan. Atau setidaknya mengarahkan seseorang atau fokus seseorang menuju pada Dia. Bisa berbentuk patung, tulisan, bangunan, atau asesoris. Akan tetapi akan menjadi salah makna ketika sesuatu yg sebenarnya hanya simbol, malah menggantikan tujuan yang sebenarnya . Itu "Sirik" atau menyekutukan, katanya!
Dalam organisasi, banyak pula simbol yang dipakai untuk mewakilkan eksistensinya, misi organisasi, visi yang difokuskan atau bahkan nama kebesarannya.
Simbol bagi organisasi biasanya tertuang lewat logo atau bendera yang dipunya. Keduanya adalah simbol dari apa yang dimau oleh sang pendiri.
Mengultuskan simbol akan menuai banyak hal. Tentunya masalah. Selain kita menjadi lepas kendali atas eksistensi sesuatu yang sebenarnya kita agungkan. Malah hanya fokus pada simbol yang ada.
Dalam ritualitas keagamaan, orang merasa tidak mampu berkomunikasi dengan penciptanya ketika tidak ada simbol-simbol yang biasa menyertai.
Terkesan orang justru menyembah simbol yang dia ciptakan sendiri. Atau yang diciptakan pendahulunya.
Simbol hanya simbol. Soal mewakili apa yang kita pikirkan, itu tergantung pikiran kita juga. Biarkan simbol hanya sebagai jembatan menuju yang sesungguhnya. Biarkan simbol hanya sebagai penunjuk apa yang kita jadikan dasar atas apapun yang kita lakukan atau kita yakini.
Tetaplah kita kuat dalam pendirian atas yang kita yakini, damai dalam naungan Sang Maha Damai. Tanpa bisa diusik dengan segala yang intimidasi atas simbol-simbol yang kita punya.
Mau dirobek, dibakar, dihancurkan, diinjak, dibuang atau diapa pun. Itu hanya benda yang kita sendiri ciptakan bentuk dan definisinya.
Intimidasi hanya mampu menyerang pikiran. Tidak pada yang kita agungkan.
"Tetap damailah, jangan mau dipermainkan"
Simbol berasal dari kata symballo (Yunani) yang artinya melempar bersama-sama, melempar atau meletakkan bersama-sama dalam satu ide atau gagasan objek yang kelihatan, sehingga objek tersebut mewakili gagasan.
Simbol sendiri bisa berupa apa saja. Tulisan, gambar, warna , gerakan, bangunan, atau bahkan patung-patung.
Simbol diciptakan untuk berbagai keperluan, selain bertujuan utama mewakili sebuah gagasan atau konsep, simbol bisa mewakili segala sesuatu yang membutuhkan penjelasan yang kompleks menjadi lebih sederhana. Dengan simbol, kita mampu mencerna atau mewakilkan semua makna lewat sesuatu yang simple dilakukan atau dilukiskan. Mungkin begitulah penjelasan sederhananya. Simbol itu diciptakan dan dibuat bersama untuk bersama.
Tapi simbol tidak akan berarti tanpa kesepakatan semua pihak dan juga tidak untuk orang yang tidak sepakat tentunya. Atau mungkin bukan hanya tidak sepakat. Lebih tepatnya tidak memahami arti simbol itu sendiri. ....
Teringat beberapa tahun lalu. Ketika aku bersama seorang teman membuka album foto kenangan keluarganya. Saat itu fokusku tertuju pada salah satu pria yang selalu muncul di setiap foto. Yah, benar. Ternyata seorang pria tersebut adalah adiknya. Perhatianku bukan pada sosok prianya. Tapi gaya dia berfoto. Hampir semua gaya dia, selalu mengacungkan jari tengah. Hampir semua foto, termasuk foto keluarga. Tapi dengan ekspresi yang penuh kegembiraan.
Dugaan awalku, dengan tetap berpikiran positif, aku berfikir, pasti pria tersebut tidak memahami makna simbol jari tengah yang dia tunjukan di setiap posenya. Dan kepastian itu terungkap saat aku coba bicara dan membicarakan maksud dan makna simbol tersebut langsung kepada dia. Simbol menjadi berarti kalau memang disepakati dan dipahami. Bukan hanya sekedar sering melihatnya. Khasus diatas menurutku wajar saja. Bukan karena dia berasal dari daerah yang mungkin tidak memahami makna akan simbol dan hanya mengikuti saja. Bahkan beberapa waktu lalu, seorang gurbernur saja berfoto dengan gaya yang sama. Aneh kan?
Simbol banyak kita temukan bukan hanya dalam media komunikasi, tetapi di dunia religiusitas atau keagamaan. Ritualitas keagamaan penuh dengan simbol. Semua simbol yang diciptakan di dalam kegiatan ritual keagamaan mempunyai tujuan beragam. Yang tentunya mengarah pada Sang Yang Diagungkan. Atau setidaknya mengarahkan seseorang atau fokus seseorang menuju pada Dia. Bisa berbentuk patung, tulisan, bangunan, atau asesoris. Akan tetapi akan menjadi salah makna ketika sesuatu yg sebenarnya hanya simbol, malah menggantikan tujuan yang sebenarnya . Itu "Sirik" atau menyekutukan, katanya!
Dalam organisasi, banyak pula simbol yang dipakai untuk mewakilkan eksistensinya, misi organisasi, visi yang difokuskan atau bahkan nama kebesarannya.
Simbol bagi organisasi biasanya tertuang lewat logo atau bendera yang dipunya. Keduanya adalah simbol dari apa yang dimau oleh sang pendiri.
Mengultuskan simbol akan menuai banyak hal. Tentunya masalah. Selain kita menjadi lepas kendali atas eksistensi sesuatu yang sebenarnya kita agungkan. Malah hanya fokus pada simbol yang ada.
Dalam ritualitas keagamaan, orang merasa tidak mampu berkomunikasi dengan penciptanya ketika tidak ada simbol-simbol yang biasa menyertai.
Terkesan orang justru menyembah simbol yang dia ciptakan sendiri. Atau yang diciptakan pendahulunya.
Simbol hanya simbol. Soal mewakili apa yang kita pikirkan, itu tergantung pikiran kita juga. Biarkan simbol hanya sebagai jembatan menuju yang sesungguhnya. Biarkan simbol hanya sebagai penunjuk apa yang kita jadikan dasar atas apapun yang kita lakukan atau kita yakini.
Tetaplah kita kuat dalam pendirian atas yang kita yakini, damai dalam naungan Sang Maha Damai. Tanpa bisa diusik dengan segala yang intimidasi atas simbol-simbol yang kita punya.
Mau dirobek, dibakar, dihancurkan, diinjak, dibuang atau diapa pun. Itu hanya benda yang kita sendiri ciptakan bentuk dan definisinya.
Intimidasi hanya mampu menyerang pikiran. Tidak pada yang kita agungkan.
"Tetap damailah, jangan mau dipermainkan"




0 Response to "29 Okt 2018"
Posting Komentar