12 Okt 2018
Seorang teman tiba-tiba bertanya kepadaku.. kenapa ya, orang kok tega bener, manggunakan agama dalam politik yang kotor?
Aku tidak langsung menjawab. Selain pertanyaan itu terlalu kompleks untuk dijawab, ak juga bingung dari sisi mana aku harus mulai. Dari awal, kalau menyangkut agama, tiba-tiba keberanianku untuk berpendapat berada di titik nadir. Sensitif, dan sangat mudah untuk di "belokan" dari intinya. Aku hanya menjawab. "Yah, segala apa pun yang tercipta baik, bisa di gunakan untuk hal yang tidak baik. Banyak kok contohnya!"
Walau dalam hati, banyak sekali hal yang ingin aku ungkapkan. Bukan hanya dalam politik, agama dimanfaatkan. Di dunia bisnis, hukum dunia, hiburan, bahkan sampai olah raga. Semua menggunakan agama sebagai "daya pikat" dan yang pasti semua hanya akan bermuara pada uang. Ini bukan terjadi pada era sekarang, tapi jauh sebelum agama berkembang.
Dan mengapa menggunakan agama?
Pengkultusan individu dalam agama sering kali menjadi celah bagi kepentingan tertentu bisa masuk ke dalamnya. Tidak harus memberikan pemahaman yang mampu menarik pengikut. Hanya dengan pegang satu kepala, ekor akan mengikuti.
Jadi, agama jelek dong? Tidak ada agama yang tercipta untuk kejelekan. Semua tujuannya mulia dan suci. Hanya saja memang kita harus menjalankan segala perintahNya bukan hanya pada taraf permukaan. Atau hanya pada taraf rutinitas tanpa makna. Tanpa komunikasi langsung. Komunikasi antar pribadi dengan yang maha mengerti. Setiap pribadi harus mengalamai, yang sering orang sebut pengalaman iman. Mengubah diri untuk tidak berorentasi duniawi untuk urusan ilahi. Tidak mengukur pada yang nampak dari indra penglihatan saja, soal kualitas iman seseorang.
Tapi kan penampilan penting?!
Iya, tapi kalau itu mencerminkan isi!
Begini, banyak orang menggunakan agama dalam bisnis dan hiburan. Setidaknya dia tahu, segmen mana yang akan dituju, dan diarah. Agama sering dihargai murah hanya sebaga daya pikat, sekali lagi daya pikat supaya orang tidak lagi memperhitungkan soal hal2 yang tidak mampu "dicover" oleh sang penyedia jasa atau barang. Memaklumi, dan menerima apapun yang dia dapat. Walaupun sampai hak dasarnya tidak terpenuhi.
Dalam dunia olah raga pun demikian. Kehebatan promotor mengubah image masyarakat supaya seakan pertandingan adalah pertempuran antara dua agama. Sehingga perhatian dunia mengarah ke sana. Itu juga terjadi sudah sejak tahun 60 an sampai sekarang.
Perang perebutan kekuasaan, wilayah, dan sumber daya alam. Juga tak luput dari skenario murahan ini.
Seharusnya Agama tetaplah menjadi alat bagi manusia untuk mengatur hidup di dunia, demi menyiapkan kehidupan hakiki setelahnya. Dan seharusnya kita sadari itu. Agar kesuciannya tetap terjaga.
Aku tidak langsung menjawab. Selain pertanyaan itu terlalu kompleks untuk dijawab, ak juga bingung dari sisi mana aku harus mulai. Dari awal, kalau menyangkut agama, tiba-tiba keberanianku untuk berpendapat berada di titik nadir. Sensitif, dan sangat mudah untuk di "belokan" dari intinya. Aku hanya menjawab. "Yah, segala apa pun yang tercipta baik, bisa di gunakan untuk hal yang tidak baik. Banyak kok contohnya!"
Walau dalam hati, banyak sekali hal yang ingin aku ungkapkan. Bukan hanya dalam politik, agama dimanfaatkan. Di dunia bisnis, hukum dunia, hiburan, bahkan sampai olah raga. Semua menggunakan agama sebagai "daya pikat" dan yang pasti semua hanya akan bermuara pada uang. Ini bukan terjadi pada era sekarang, tapi jauh sebelum agama berkembang.
Dan mengapa menggunakan agama?
Pengkultusan individu dalam agama sering kali menjadi celah bagi kepentingan tertentu bisa masuk ke dalamnya. Tidak harus memberikan pemahaman yang mampu menarik pengikut. Hanya dengan pegang satu kepala, ekor akan mengikuti.
Jadi, agama jelek dong? Tidak ada agama yang tercipta untuk kejelekan. Semua tujuannya mulia dan suci. Hanya saja memang kita harus menjalankan segala perintahNya bukan hanya pada taraf permukaan. Atau hanya pada taraf rutinitas tanpa makna. Tanpa komunikasi langsung. Komunikasi antar pribadi dengan yang maha mengerti. Setiap pribadi harus mengalamai, yang sering orang sebut pengalaman iman. Mengubah diri untuk tidak berorentasi duniawi untuk urusan ilahi. Tidak mengukur pada yang nampak dari indra penglihatan saja, soal kualitas iman seseorang.
Tapi kan penampilan penting?!
Iya, tapi kalau itu mencerminkan isi!
Begini, banyak orang menggunakan agama dalam bisnis dan hiburan. Setidaknya dia tahu, segmen mana yang akan dituju, dan diarah. Agama sering dihargai murah hanya sebaga daya pikat, sekali lagi daya pikat supaya orang tidak lagi memperhitungkan soal hal2 yang tidak mampu "dicover" oleh sang penyedia jasa atau barang. Memaklumi, dan menerima apapun yang dia dapat. Walaupun sampai hak dasarnya tidak terpenuhi.
Dalam dunia olah raga pun demikian. Kehebatan promotor mengubah image masyarakat supaya seakan pertandingan adalah pertempuran antara dua agama. Sehingga perhatian dunia mengarah ke sana. Itu juga terjadi sudah sejak tahun 60 an sampai sekarang.
Perang perebutan kekuasaan, wilayah, dan sumber daya alam. Juga tak luput dari skenario murahan ini.
Seharusnya Agama tetaplah menjadi alat bagi manusia untuk mengatur hidup di dunia, demi menyiapkan kehidupan hakiki setelahnya. Dan seharusnya kita sadari itu. Agar kesuciannya tetap terjaga.




0 Response to "12 Okt 2018"
Posting Komentar