18 Nov 2018
Politik Gendruwo yang Sontoloyo
Lah, ngga usah heran dengan pilihan kata gendruwo. Gendruwo banyak dikenal dikalangan anak-anak jaman dahulu. Bukan karena memang mereka akrab dan sering bertemu. Tapi lebih karena ungkapan itu sering dipakai untuk menakut-nakuti teman jika salah satu teman berusaha pulang mendahului saat bermain bersama malam hari.
Yang aku tahu, berdasarkan cerita, gendruwo memang suka menakut-nakuti anak kecil atau pun orang dewasa. Usil dan selalu membuat orang lari terbirit2. Entah dengan lempar kerikil atau membuat pohon menjadi seakan-akan tumbang menghalangi jalan. Tapi anehnya, beda kelakuan buat ibu2. Gendruwo terkenal centil dan suka menggoda. Bahkan sampai-sampai dia melakukan..... ya sudahlah. Itu ngga penting.....
"Politik Genderuwo" politik dimana suasana ketakutan yang terus ditebarkan dengan berharap orang mengambil sikap dan tindakan sesuai dengan arahan orang yang juga menebarkan ketakutan itu sendiri. Lah, kenapa kok ketakutan yang dipilih?
Pernyataan dengan menonjolkan rasa ketakutan atau scaremongering, biasanya menggunakan informasi yang tidak jelas atau desas-desus, berita bohong (hoax), dan fitnah dalam bentuk propaganda. Berharap ketika orang mulai ketakutan, rasionlismenya tidak jalan. Karena tidak berfungsi, maka orang tersebut akan kehilangan rasa percaya diri. Akibatnya dia bingung. Orang yang bingung butuh figur yang kuat sebagai tempat perlindungannya. Butuh harapan baru yang seolah akan mampu melepaskan diri dari ketakutan itu sendiri.
Apakah hanya dalam politik, hal ini diterapkan? Tidak! Dalam Bisnis, hiburan, bahkan dalam menebarkan ajaran-ajaran.
Lihat, semua iklan asuransi, Iklan obat, iklan alat pemadam kebakaran dll. Semua menebar ketakutan.
Tapi apakah itu salah? Tidak sepenuhnya salah. Selama ketakutan didasarkan analisis yang benar dan mempunyai pertanggungjawaban yang akurat. Ya, itu sangat perlu. Karena memang kita tidak tahu, apa yang terjadi di depan. Tapi kalau hanya didasarkan asumsi dan cerita fiksi untuk sebuah pernyataan yang berbicara fakta, itu kan namanya "sontoloyo".
Lah, apalagi sontoloyo itu?
Sontoloyo itu, sebenarnya panggilan buat orang yang suka menggembala bebek dengan jumlah yang banyak. Bebek hanya digiring ke sawah atau tempat2 tertentu. Supaya mencari makan sendiri. Dan biasanya bebek bertelur sembarangan. Dan sontoloyo mengambilnya. Aktivitas bebek2 itulah yang sering kali membawa masalah buat orang2 disekitar. Entah karena makan sembarangan, buang air sembarangan, atau membawa kemacetan ketika dia melewati jalan raya. Lah, itulah awalnya kenapa orang dipanggil sontoloyo jika selalu membawa masalah.
Aktivitas dia yang selalu menimbulkan masalah bagi orang sekitar dengan memanfaatkan apapun yang ada demi segerombolan bebek, yang tanpa bebek sendiri sadari, sedang dimanfaatkan juga telurnya.
Lah, ngga usah heran dengan pilihan kata gendruwo. Gendruwo banyak dikenal dikalangan anak-anak jaman dahulu. Bukan karena memang mereka akrab dan sering bertemu. Tapi lebih karena ungkapan itu sering dipakai untuk menakut-nakuti teman jika salah satu teman berusaha pulang mendahului saat bermain bersama malam hari.
Yang aku tahu, berdasarkan cerita, gendruwo memang suka menakut-nakuti anak kecil atau pun orang dewasa. Usil dan selalu membuat orang lari terbirit2. Entah dengan lempar kerikil atau membuat pohon menjadi seakan-akan tumbang menghalangi jalan. Tapi anehnya, beda kelakuan buat ibu2. Gendruwo terkenal centil dan suka menggoda. Bahkan sampai-sampai dia melakukan..... ya sudahlah. Itu ngga penting.....
"Politik Genderuwo" politik dimana suasana ketakutan yang terus ditebarkan dengan berharap orang mengambil sikap dan tindakan sesuai dengan arahan orang yang juga menebarkan ketakutan itu sendiri. Lah, kenapa kok ketakutan yang dipilih?
Pernyataan dengan menonjolkan rasa ketakutan atau scaremongering, biasanya menggunakan informasi yang tidak jelas atau desas-desus, berita bohong (hoax), dan fitnah dalam bentuk propaganda. Berharap ketika orang mulai ketakutan, rasionlismenya tidak jalan. Karena tidak berfungsi, maka orang tersebut akan kehilangan rasa percaya diri. Akibatnya dia bingung. Orang yang bingung butuh figur yang kuat sebagai tempat perlindungannya. Butuh harapan baru yang seolah akan mampu melepaskan diri dari ketakutan itu sendiri.
Apakah hanya dalam politik, hal ini diterapkan? Tidak! Dalam Bisnis, hiburan, bahkan dalam menebarkan ajaran-ajaran.
Lihat, semua iklan asuransi, Iklan obat, iklan alat pemadam kebakaran dll. Semua menebar ketakutan.
Tapi apakah itu salah? Tidak sepenuhnya salah. Selama ketakutan didasarkan analisis yang benar dan mempunyai pertanggungjawaban yang akurat. Ya, itu sangat perlu. Karena memang kita tidak tahu, apa yang terjadi di depan. Tapi kalau hanya didasarkan asumsi dan cerita fiksi untuk sebuah pernyataan yang berbicara fakta, itu kan namanya "sontoloyo".
Lah, apalagi sontoloyo itu?
Sontoloyo itu, sebenarnya panggilan buat orang yang suka menggembala bebek dengan jumlah yang banyak. Bebek hanya digiring ke sawah atau tempat2 tertentu. Supaya mencari makan sendiri. Dan biasanya bebek bertelur sembarangan. Dan sontoloyo mengambilnya. Aktivitas bebek2 itulah yang sering kali membawa masalah buat orang2 disekitar. Entah karena makan sembarangan, buang air sembarangan, atau membawa kemacetan ketika dia melewati jalan raya. Lah, itulah awalnya kenapa orang dipanggil sontoloyo jika selalu membawa masalah.
Aktivitas dia yang selalu menimbulkan masalah bagi orang sekitar dengan memanfaatkan apapun yang ada demi segerombolan bebek, yang tanpa bebek sendiri sadari, sedang dimanfaatkan juga telurnya.




0 Response to "18 Nov 2018"
Posting Komentar