09 Mei 2018
Suatu pagi seorang teman tertarik dengan aroma kopi yang baru saja aku sedu. Seraya mendekat. " buaah..., apaan ini? pahit banget!" Sambil mengekspresikan wajah seakan ingin menunjukan betapa anehnya rasa kopi yang baru saja disruputnya.
"Itu kopi" jelasku. Walau aku tahu tak ada sedikitpun ekspresi dia akan menerima penjelasanku, bahwa itu memang benar-benar kopi. Bahkan dia hampir tak sedikit pun melirik alat penggiling kopi dan sisa biji kopi di meja, dimana tempat aku biasa duduk dan membuat kopi.
"Kopi kok kaya gitu, ngga ada enak-enaknya!"
Tak ada hal yang menarik atau niat buatku untuk menjelaskan lebih lanjut. Apalagi mencoba meyakinkan, bahwa ini benar-benar kopi. Kopi yang aku giling sendiri. Tanpa campuran apapun. Hanya satu hal yang membuat aku bertahan untuk tidak mendebatkan, rasa apa yang pantas bagi sebuah kopi. Karena setiap orang punya pengalaman masing-masing. Banyak orang berfikir, kebenaran adalah sesuatu yang selama ini dia pahami hasil dari yang dia alami. Sebagian besar dari mereka tidak pernah, keluar dari batas dimana dia beraktifitas. Aktifitas yang membuahkan pemahaman. Mengulang dan terus mengulang hal yang sama. Tanpa mampu membandingkan mana citarasa yang sejati dan yang manipulasi.
Pemahaman soal rasa kopi bagi sebagian orang yang tidak pernah mencoba aslinya kopi, pasti menganggap rasa kopi adalah rasa hasil editan campuran dari berbagai rasa yang lain. Konsep bahwa kopi itu seperti layaknya kopi yang bertebaran di toko-toko dalam bentuk sachetan. Yang pada kenyataan sudah menghianati cita rasa sejatinya kopi itu sendiri.
Kopi memang pahit. Dan itulah cita rasanya. Kalaupun bisa terwakilkan kepahitannya oleh manipulasi kopi sachetan. Tapi tidak dengan kemantapannya.
Begitu pun sebagian orang memahami sebuah kebenaran sejati. Kadang kalau kita hanya membiarkan diri terkurung pada zona dimana luas pikiran kita tidak lebih lebar dari batok kelapa. Dan tetap membiarkan pergaulan dan "dolan" kita tak lebih jauh dari ayam tetangga. Bagaimana mungkin kita mampu memahami sebuah kebenaran itu sebuah kesejatian. Kalau kita sendiri salah dalam meyakini. Keyakinan yang mencakup segapa hal. Entah itu ketayakinan berpikir, keyakinan berpolitik, atau pun keyakinan menjalankan urusan agamanya.
Kalau kita meyakini, sesuatu yang ternyata orang lain mentertawakan. Cobalah sesekali lompati batas dimana kamu berdiri dan dimana km selalu memandang segala sesuatu. Bergerak dan masuklah posisi mereka. Siapa tahu, ada pemahaman baru. Siapa tahu ada citarasa baru. Atau pencerahan baru. Atau bahkan kamu ikut tertawa seperti yang selama ini mereka lakukan padamu. Tapi kalau pun memang tempat dimana awal kamu berdiri adalah kebenaran, pasti akan semakin kuat kan keyakinanmu?
"Itu kopi" jelasku. Walau aku tahu tak ada sedikitpun ekspresi dia akan menerima penjelasanku, bahwa itu memang benar-benar kopi. Bahkan dia hampir tak sedikit pun melirik alat penggiling kopi dan sisa biji kopi di meja, dimana tempat aku biasa duduk dan membuat kopi.
"Kopi kok kaya gitu, ngga ada enak-enaknya!"
Tak ada hal yang menarik atau niat buatku untuk menjelaskan lebih lanjut. Apalagi mencoba meyakinkan, bahwa ini benar-benar kopi. Kopi yang aku giling sendiri. Tanpa campuran apapun. Hanya satu hal yang membuat aku bertahan untuk tidak mendebatkan, rasa apa yang pantas bagi sebuah kopi. Karena setiap orang punya pengalaman masing-masing. Banyak orang berfikir, kebenaran adalah sesuatu yang selama ini dia pahami hasil dari yang dia alami. Sebagian besar dari mereka tidak pernah, keluar dari batas dimana dia beraktifitas. Aktifitas yang membuahkan pemahaman. Mengulang dan terus mengulang hal yang sama. Tanpa mampu membandingkan mana citarasa yang sejati dan yang manipulasi.
Pemahaman soal rasa kopi bagi sebagian orang yang tidak pernah mencoba aslinya kopi, pasti menganggap rasa kopi adalah rasa hasil editan campuran dari berbagai rasa yang lain. Konsep bahwa kopi itu seperti layaknya kopi yang bertebaran di toko-toko dalam bentuk sachetan. Yang pada kenyataan sudah menghianati cita rasa sejatinya kopi itu sendiri.
Kopi memang pahit. Dan itulah cita rasanya. Kalaupun bisa terwakilkan kepahitannya oleh manipulasi kopi sachetan. Tapi tidak dengan kemantapannya.
Begitu pun sebagian orang memahami sebuah kebenaran sejati. Kadang kalau kita hanya membiarkan diri terkurung pada zona dimana luas pikiran kita tidak lebih lebar dari batok kelapa. Dan tetap membiarkan pergaulan dan "dolan" kita tak lebih jauh dari ayam tetangga. Bagaimana mungkin kita mampu memahami sebuah kebenaran itu sebuah kesejatian. Kalau kita sendiri salah dalam meyakini. Keyakinan yang mencakup segapa hal. Entah itu ketayakinan berpikir, keyakinan berpolitik, atau pun keyakinan menjalankan urusan agamanya.
Kalau kita meyakini, sesuatu yang ternyata orang lain mentertawakan. Cobalah sesekali lompati batas dimana kamu berdiri dan dimana km selalu memandang segala sesuatu. Bergerak dan masuklah posisi mereka. Siapa tahu, ada pemahaman baru. Siapa tahu ada citarasa baru. Atau pencerahan baru. Atau bahkan kamu ikut tertawa seperti yang selama ini mereka lakukan padamu. Tapi kalau pun memang tempat dimana awal kamu berdiri adalah kebenaran, pasti akan semakin kuat kan keyakinanmu?




0 Response to "09 Mei 2018"
Posting Komentar