19 Maret 2018
Tidak terbantahkan memang, penyesalan selalu datang di saat segala sesuatu telah terjadi. Penyesalan bisa ditimbulkan bukan hanya karena kita mengabaikan sesuatu, tapi juga bisa disebabkan oleh ketidakpedulian atau ketidakpekaan diri atas apa yang sedang dialami atau dijalani.
Entahlah, apakah yang sedang aku rasakan termasuk pada penyesalan yang diakibatkan oleh ketidakpekaan atau hal yang lain. Yang pasti, semenjak kepergian Coolly, aku merasa ada sesuatu yang berubah. Rasanya ada yang kurang, ketika bangun pagi dan membuka pintu rumah. Tak ada lagi yang serta-merta menyambut ku di depan pintu. Semenjak malam itu, ketika aku lupa memberikan makan malam ke padanya, Sabtu pagi tak lagi ku temui mata yang girang menyambutku. Aku sendiri tidak yakin, apakah kepergian dia karena kelalaianku memberikan makan, atau ada sesuatu yang terjadi dengannya. Yang pasti, ketiadaan dia mengubah semuanya. Mengubah kebiasaan pagi dan soreku. Dan yang paling membuatku menyesal, mengubah cara pandangku terhadap kebiasaan Coolly sebagai induk dari delapan anak-anaknya yang masih kecil.
Selama ini aku tidak terlalu peduli, bagaimana repotnya mengurus kedelapan anaknya. Sedangkan kewajibanku hanya memberi makan dia. Hal yang sederhana, tapi hampir selalu lalai dan selalu harus diingatkan. Aku tidak bisa bayangkan, bagaimana repotnya Cooly. Selain menyusui kedelapan anaknya. Dia harus terus menjaga kehangatan dan kebersihan. Yang ajaib dari Coolly. Coolly tidak pernah menyisakan kotoran apapun di lantai. Entah setitik darah pun dalam proses kelahiran sampai lengkap kedelapan anaknya keluar, dia bersihkan darah yang mengotori lantai dengan jilatan-jilatanya. Bahkan selama dua minggu ini, dia tidak pernah lupa membersihkan semua kotoran anaknya yang jatuh kelantai, bahkan yang ada di tubuhnya. Ini hal yang baru yang aku pahami. Walaupun sejak kecil aku mengenal jenis mereka. Setahuku, mereka hanya tidak akan perna membuang kotorannya sendiri di rumah, bahkan kencing. Mereka akan menjauh dari perumahan hanya untuk kencing dan membuang kotorannya. Itu saja. Tapi ternyata...
Saat ku gantikan pekerjaanya atas semua anak-anaknya. Ada perasaan yang tak karuan dalam hati. Dada serasa sesak, bukan karena kerepotan yang harus ku hadapi. Tapi penyesalan atas ketidak pedulianku terhadap kerepotan yang dia alami. Sehari sepeninggalan dia, lantai kotor dengan kotoran anak-anaknya. Basah dengan kencing. Delapan anak adalah delapan kotoran. Terus selama ini ke mana kotoran-kotoran itu? Sebegitu berat yang dihadapi Coolly. Tapi saat dia menuntut hak makan malam, aku Lalai! Aku tidak bisa bayangkan, dia melakukan ini semua dengan perut yang kosong karena kelalaianku.
Jika masih diberi kesempatan, dan dia bisa kembali, aku janji tidak akan pernah melewatkan semua hak mu. Dan kalau pun ada hal lain yang terjadi dengannya, dan tak akan kembali. Ak akan berusaha merawat dan mencarikan perawat dari semua anak-anakmu.
Entahlah, apakah yang sedang aku rasakan termasuk pada penyesalan yang diakibatkan oleh ketidakpekaan atau hal yang lain. Yang pasti, semenjak kepergian Coolly, aku merasa ada sesuatu yang berubah. Rasanya ada yang kurang, ketika bangun pagi dan membuka pintu rumah. Tak ada lagi yang serta-merta menyambut ku di depan pintu. Semenjak malam itu, ketika aku lupa memberikan makan malam ke padanya, Sabtu pagi tak lagi ku temui mata yang girang menyambutku. Aku sendiri tidak yakin, apakah kepergian dia karena kelalaianku memberikan makan, atau ada sesuatu yang terjadi dengannya. Yang pasti, ketiadaan dia mengubah semuanya. Mengubah kebiasaan pagi dan soreku. Dan yang paling membuatku menyesal, mengubah cara pandangku terhadap kebiasaan Coolly sebagai induk dari delapan anak-anaknya yang masih kecil.
Selama ini aku tidak terlalu peduli, bagaimana repotnya mengurus kedelapan anaknya. Sedangkan kewajibanku hanya memberi makan dia. Hal yang sederhana, tapi hampir selalu lalai dan selalu harus diingatkan. Aku tidak bisa bayangkan, bagaimana repotnya Cooly. Selain menyusui kedelapan anaknya. Dia harus terus menjaga kehangatan dan kebersihan. Yang ajaib dari Coolly. Coolly tidak pernah menyisakan kotoran apapun di lantai. Entah setitik darah pun dalam proses kelahiran sampai lengkap kedelapan anaknya keluar, dia bersihkan darah yang mengotori lantai dengan jilatan-jilatanya. Bahkan selama dua minggu ini, dia tidak pernah lupa membersihkan semua kotoran anaknya yang jatuh kelantai, bahkan yang ada di tubuhnya. Ini hal yang baru yang aku pahami. Walaupun sejak kecil aku mengenal jenis mereka. Setahuku, mereka hanya tidak akan perna membuang kotorannya sendiri di rumah, bahkan kencing. Mereka akan menjauh dari perumahan hanya untuk kencing dan membuang kotorannya. Itu saja. Tapi ternyata...
Saat ku gantikan pekerjaanya atas semua anak-anaknya. Ada perasaan yang tak karuan dalam hati. Dada serasa sesak, bukan karena kerepotan yang harus ku hadapi. Tapi penyesalan atas ketidak pedulianku terhadap kerepotan yang dia alami. Sehari sepeninggalan dia, lantai kotor dengan kotoran anak-anaknya. Basah dengan kencing. Delapan anak adalah delapan kotoran. Terus selama ini ke mana kotoran-kotoran itu? Sebegitu berat yang dihadapi Coolly. Tapi saat dia menuntut hak makan malam, aku Lalai! Aku tidak bisa bayangkan, dia melakukan ini semua dengan perut yang kosong karena kelalaianku.
Jika masih diberi kesempatan, dan dia bisa kembali, aku janji tidak akan pernah melewatkan semua hak mu. Dan kalau pun ada hal lain yang terjadi dengannya, dan tak akan kembali. Ak akan berusaha merawat dan mencarikan perawat dari semua anak-anakmu.




0 Response to "19 Maret 2018"
Posting Komentar