28 Nov 2019

“Pak, ayo dagingnya di makan, jangan hanya ambil sayur dan tempe” kata pemilik rumah. Kebetulan dia adalah teman lama yang sudah lama tidak bertemu. Dan baru kali ini aku punya kesempatan untuk berkunjung. Sebenarnya sih lebih tepat. Baru kali ini aku niat menyempatkan diri dalam kunjungan. Padahal tidak terlalu jauh, jarak tempat ak tinggal dengan rumah dia.
“Tidak ah. Ak sekarang tidak makan daging.” Jawabku seraya aku mengambil tempe lagi, walau masih ada setengah potong di piringku. Ak hanya mencoba memberikan penghiburan atas penolakan tawarannya. Ngga tega sih sebenarnya. Pasti dari sejak pagi dia sudah siapkan ini semua. Pasti mereka mencoba menghidangkan sesuatu yang berbeda karena kedatanganku. Kedatangan sahabat lama. Sahabat waktu sama-sama masih sekolah.
“Wih, ‘vegetarian’ ya sekarang?”
“Ngga juga” sambil aku mengunyah dan menuangkan air ke gelas. Tuangan yang entah keberapa.
“Atau karena ini daging B2?, wah, sejak kapan haramkan makan daging ini?” B2 biasanya digunakan penghalus kata pengganti nama daging babi.
Aku tidak langsung menjawab. Kucoba masukan suapan nasi ke mulut supaya tidak nampak aku malas menanggapi pertanyaan dia. Pertanyan yang bukan pertama kali ak dapatkan ketika menemukan situasi seperti ini. Malas sih. Karena biasanya deretan pertanyaan lain akan menyusul.
“Kenapa? Kolesterol? Pantang? Sejak kapan? Emang ngga boleh? Siapa yg ngga bolehin? Kasihan ya? dll.
Dan bisa aku tebak. Akan berakhir dengan tanggapan “enak looo!” Dan ternyata benar.
Sejak beberapa tahun lalu, memang aku sudah putuskan untuk tidak makan daging. Terutama daging binatang berkaki empat. Bahkan mulai tahun kemarin, semua binatang berkaki aku berhenti mengonsumsinya. Entahlah hal apa yang mendasarinya. Ak sendiri tidak terlalu yakin. Rasanya pengen aja. Berhenti. Dan melupakan. Yang pasti, tanpa alasan pasti, apalagi berdasar pada ayat atau kitab tertentu. Memang sih, ada beberapa keyakinan bahwa B2 itu haram, bahkan ada juga meyakini bahwa memakan daging sapi itu dilarang. Entah alasannya apa. Yang pasti aku percaya, itu punya dasar yang kuat pada masing-masing keykinan. Mungkin bisa jadi karena memang memakan daging sapi bisa menjadi sebuah wujud dari “ketidaktahuterimakasihan” terhadap binatang yang sangat berjasa. Atau entah apa pun itu. Yang pasti, pokok yang aku pakai bukan dari itu. Ak ngga pengen saja titik. Justru kadang jawaban alasan itu, selalu berakhir dengan ketidakpuasan penanyanya. Ya sudahlah!
Bukan masalah rasa, atau soal kesehatan. Rasa sih enak justru. Apalagi B2. Atau daging kambing. Keduanya punya sensasi rasa yang berbeda.
“Lah, terus istrimu juga ngga makan daging?” Tanya dia. Kali ini kayanya pertanyaan yang benar-benar menunggu jawabanku. Kuhentikan kunyahanku dan kutatap dia agak dalam. “Tetap.. dia makan seperti biasa. Walau dia merasa kehilangan teman makan. Tapi aku tetap biarkan dia membeli, memasak, dan memakannya di rumah.”
“Lah, kalau kamu merasa yakin dengan prinsipmu, kenapa ngga kamu ajak anak dan istrimu seperti kamu?” Ak agak kaget dengan pertanyaanya kali ini. Ini kali pertama. Aku letakan piringku yang kosong di depanku, tapi ak tidak tuangkan lagi air ke gelasku. Mungkin karena aku pengen cepat menjawab pertanyaannya.
“Bagiku keyakinan atau prinsip pribadi yang dijalankan, hanya mengikat ke dalam diri pribadi, bukan ke luar atau orang sekitar. Atau berusaha mengubah aturan atau apapun yang bersifat umum atau prinsip orang dengan dasar dari keyakinanku sendiri. Saat ini, aku biarkan istri tetap memilih rumah makan yang dia inginkan, tanpa harus mempertimbangkan apakah ada makanan yang sesuai dengan aku atau tidak. Walau agak susah dan dia merasa tidak nyaman. Tidak apa, nanti juga terbiasa.
Batasan yang aku ciptakan, tidak boleh membatasi gerak atau ruang orang lain. Rasanya itu ngga adil. Memangkas kebebasan, atas dasar keinginan dan keyakinanku sendiri, apa hebatnya. Walau sebenarnya aku juga tidak mencari “kehebatan” itu sendiri.
Ketika anak cowokku, tiba-tiba pengen makan ‘steak’ setelah menonton video makan yang begitu memggoda (kata dia) di youtube. Aku antar dia ke rumah makan dan aku tungguin. Padahal dia sudah lebih dari setahun mengikuti aku untuk tidak makan daging. Itu pun tanpa harus lewat saran atau argumenku. Dia melakukan harus dengan iklas, begitu pula ketika melepaskan.
Menjalani prinsip atau keyakinan itu harus mendamaikan diri. Cara mendamaikan diri itu jangan melihat ke luar. Jangan melihat orang lain. Membandingkan. Bahkan beradu argumen dan teori. Itu namanya masih taraf pencarian keyakinan. Bukan meyakini. Karena aku yakin, kalau aku menjelaskan apa yang aku jalankan pada orang yang punya dasar yang berbeda. Paling aku hanya akan jadi bahan tertawaan. Percayalah, itu tidak mendamaikan.” Aku tidak akan mengatakan B2 itu haram, atau sapi itu tidak layak dikonsumsi. Atau bahkan mengatakan dengan sinis pada orang yang memakannya. Tidak memakannya itu niatku. Dan itu tetap manjadi prisip bagiku, tapi tidak bagi yang lain. Mungkin bisa jadi, tidak jauh berbeda dengan cara menjalankan keyakinan dalam beragama. Ngga tahulah yang pasti....
“Nih, rokoknya!” Tiba-tiba dia memotong pembicaraanku.
“Bisa aja kamu...sudah lama aku ngga ngrokok” jawabku sambil tersenyum dan menata nafasku karena sangking semangat dan berapi-apinya aku berbicara tadi.
“Sampai kapan kamu menjalani ini?” Tanya dia
“Ini bukan puasa, atau pantang. Puasa dan pantang itu ada target. Menahan dan memulai lagi, tahan lagi dan mulai lagi.... . Itulah prinsip puasa. Tapi ini “melepaskan dan melupakan”. Tidak ada target waktu. Semoga!” Akhirnya kutuang lagi air ke gelasku.
Aku terdiam sejenak, dia juga. Aku hanya berdoa dalam hati, semoga dia tidak tanya, kenapa aku tidak merokok. Ak tetap diam ketika dia menatapku dengan tatapan yang aneh.... (Foto hanya ilustrasi)

Read Users' Comments (0)

0 Response to "28 Nov 2019"

Posting Komentar