21 Mei 2019

Ada dua jenis inti kalimat dalam penanggapi hasil rekapitulasi KPU beberapa waktu lalu.
“Keadilan telah mati oleh kecurangan” atau
“Kezaliman tidak akan pernah menemukan kemenangan” atau kalimat lain yang kurang lebih sama maknanya. Tanggapan yang berbeda yang keluar dari kubu yang berbeda ini, tentunya sedikit banyak mempunyai dampak rasa bagi kubu yang menjadi kubu lainya. Apa pun itu rasanya, yang pasti ketidaknyamanan.
Menurut wikipedia, Zalim serapan dari bahasa arab Dzholim kurang lebih mempunyai makna meletakkan sesuatu/ perkara bukan pada tempatnya. Orang yang berbuat zalim disebut zalimin dan lawan kata dari zalim adalah adil.
Jadi makna zalim kurang lebih mempunyau makna hampir sama dengan curang.
Menyebutkan orang lain zalim, tentunya harus mempunyai dasar yang kuat kalau tidak ingin disebut sebagai zalimin itu sendiri.
Meyakini sesuatu yang hanya katanya tentunya tidak akan menjadi bijak. Sama saja mengimani sesuatu dengan membuang semua akal sehat yang sudah ditanamkan sejak kita hidup.
Jangankan bertindak dan bereaksi, berprasangka saja pun kita tidak pantas jika hanya berdasarkan dugaan dan katanya.
Jika tetap kita memang berpegang pada prisnip yang benar-benar “kebenaran”. Tentunya Dia yang menjadi sumber kebenaran tidak akan salah menentukan akhir cerita.
“Sudahlah, semua cerita sudah berakhir, dan lebih baik, tunggu cerita baru lagi nanti!”

Read Users' Comments (0)

0 Response to "21 Mei 2019"

Posting Komentar