16 Des 2019

Ini kontrol pertama sejak istriku operasi. Karena situasi yang sulit, terpaksa aku mendaftar pagi, datang duluan sebelum istriku datang ke RSUD Tangsel. Untung aku sudah libur. Aku sudah hafal situasi maupun prosedur bagaimana mendaftar. Antrian nomor dua ratusan yang aku miliki membuatku bebas dan santai untuk menunggu di lobby. Di dalam dingin, dan kayanya ada yang lebih pantas duduk di ruang tunggu yang memang sengaja disediakan oleh pihak rumah sakit.
Tidak sendirian, banyak yang mengambil posisi seperti yang aku lakukan. Seorang tua, dengan kursi roda mempunyai perban yang cukup besar di lehernya adalah orang yang paling dekat di mana aku duduk. Perbincangan dengan seseorang yang nampakwnya, itu anaknya. Memberikan kesimpulan padaku bahwa mereka bukan yang pertama datang ke sini.
Kegelisahan itu nampak pada muka dan cara bicara anak pendamping orang tua tersebut. Kegelisahan yang sama, yang juga sering aku tangkap pada orang-orang pada situasi dan kondisi seperti ini. Bukan pada kekawathiran atas penyakit orang tuanya. Tapi nampaknya karena dia merasa harusnya tidak di sini. Harusnya dia melakukan kegiatan yang biasa dia lakukan. Keluh-kesah, menyalahkan orang rumah (mungkin saudaranya yang lain). Bicara soal pekerjaannya, dan masih banyak lagi. Apa yang coba dia ekspresikan makin lama makin mengusik perhatianku. Dia terlalu berlebihan menyampaikan apa yang dia rasakan, pikirkan dan kawathirkan, sampai lupa bagaimana perasaan orang tuanya.
“Kalau kamu dan ibumu, pengan bapakmu mati, ya udah ngga usah ngurusin bapak. Biarkan saja. Ngga usah kamu anter kontrol, ngga usah beli obat. Biarkan saja, ngga papa.... Aku stress, ibumu selalu ngomel saat ngrawat aku. Kamu tahu kan...” dan entah apa lagi, aku ngga yakin apa yang dikatakannya lagi. Yang pasti, kata-kata itu membuatku kehilangan ruang nafas dalam tenggorokanku. Mataku nanar, dan tak bisa aku bendung lagi. Ya, aku nangis. Apalagi saat aku tatap lagi orang tua itu, wajahnya tiba-tiba berubah. Imaginasiku mengubah wajah itu menjadi wajahku sendiri. Aku merasa orang tua itu berubah menjadi aku sendiri.
Aku memahami apa yang dirasakan anak pengantar orang tua itu. Tapi aku lebih bisa merasakan apa yang dirasakan orang tua itu.
Aku baru sadar, kenapa beberapa orang memberikan kata-kata “yang sabar ya mas!” Saat tahu istriku sakit dan dirawat di rumah sakit. Mungkin mereka tahu, aku akan mengalami situasi seperti ini. Dimana butuh kesabaran lebih dari biasanya. Setelah Dia yang Maha Baik, bicara lewat doa dan perhatian teman dan saudaraku. Nampaknya dia datang lewat peristiwa yang aku saksikan pagi ini.... Thanks God.
Sesaat setelah orang tua itu mencurahkan persaannya. Anak pengantar itu tak lagi nampak mengeluh. Dia tenang dan lebih menerima situasi. Dia bicara jauh lebih lembut dari sebelumnya. Mungkin sama seperti yang aku rasakan saat ini. Walau air yang terus keluar dari sudut mataku belum sepenuhnya berhenti.

Read Users' Comments (0)

0 Response to "16 Des 2019"

Posting Komentar