08 Mei 2018
Rasanya senang sekali melihat teman, saudara, atau siapapun terlihat bahagia. Kebahagiaan yang di tuangkan dalam tulisan, foto, meme atau pun gambar. Semua simbol kebahagiaan itu selalu muncul di beranda sosial media, hampir tiap saat.
Entah hanya sekedar mencurahkan suasana hati atau ucapan syukur atas pencapaian selama menjalani hidupnya. Dengan kalimat atau dengan berbagai pose foto yang mewakili situasi dan perasaan mereka masing-masing.
Kebahagiaan bisa digambarkan dengan beragam. Media sosial menjadi wadah yang sangat mudah dalam mencurahkan berbagai perasaan.
Rasanya adanya media sosial, kita mampu membagi setiap kegiatan ataupun hasil yang positif sebagai inspirasi bagi orang lain. Menjadi contoh bagaimana memaknai hari. Atau jangka lebih panjangnya, dalam memaknai kehidupan. Iya, kehidupan. Kan kehidupan memang dibangun dari pazel-pazel peristiwa yang kita susun. Bentuk besar dari gambaran yang kita susun ditentukan oleh fokus bagian mana yang kita gunakan untuk mewarnai lukisannya.
Makanya, sekali lagi saya senang ketika melihat pazel-pazel yang ditorehkan oleh teman, saudara atau siapa pun di media sosial. Setidaknya mereka mampu memilah, mana yang harus difokuskan dan layak didokumentasikan dalam sejarah hidupnya. Dalam coretan hariannya. Dalam statu-status facebooknya.
"Halah, itu kan cuman pamer!, itu kan cuman di foto doang! Hih, norak deh pamer kemesraan di medsos!, ngga usah ceramah!, ngga usah pura-pura!"
Mungkin segala respon negatif atas apa yang kita tampilkan akan bermunculan. Karena kita tidak mampu memaksakan orang yang telah berkecimpung dalam "dunia negatif" berpikiran positif pada segala sesuatu yang di depannya. Setidaknya teruslah menebar kebaikan. Teruslah menebar keteduhan. Teruslah bicara yang mencerahkan. Tunjukan kemesraan dengan pasangan, pacar atau teman-teman sekitar. Tapi dalam porsi yang wajar dan seharusnya.
Berhentilah memaki, menghujat, atau bahkan menulis segala kelu-kesah, keputusasaan. Karena segala yang tragis dan buruk. Akan hanya menjadi tontonan bagi orang lain selayak realty show di televisi.
Entah hanya sekedar mencurahkan suasana hati atau ucapan syukur atas pencapaian selama menjalani hidupnya. Dengan kalimat atau dengan berbagai pose foto yang mewakili situasi dan perasaan mereka masing-masing.
Kebahagiaan bisa digambarkan dengan beragam. Media sosial menjadi wadah yang sangat mudah dalam mencurahkan berbagai perasaan.
Rasanya adanya media sosial, kita mampu membagi setiap kegiatan ataupun hasil yang positif sebagai inspirasi bagi orang lain. Menjadi contoh bagaimana memaknai hari. Atau jangka lebih panjangnya, dalam memaknai kehidupan. Iya, kehidupan. Kan kehidupan memang dibangun dari pazel-pazel peristiwa yang kita susun. Bentuk besar dari gambaran yang kita susun ditentukan oleh fokus bagian mana yang kita gunakan untuk mewarnai lukisannya.
Makanya, sekali lagi saya senang ketika melihat pazel-pazel yang ditorehkan oleh teman, saudara atau siapa pun di media sosial. Setidaknya mereka mampu memilah, mana yang harus difokuskan dan layak didokumentasikan dalam sejarah hidupnya. Dalam coretan hariannya. Dalam statu-status facebooknya.
"Halah, itu kan cuman pamer!, itu kan cuman di foto doang! Hih, norak deh pamer kemesraan di medsos!, ngga usah ceramah!, ngga usah pura-pura!"
Mungkin segala respon negatif atas apa yang kita tampilkan akan bermunculan. Karena kita tidak mampu memaksakan orang yang telah berkecimpung dalam "dunia negatif" berpikiran positif pada segala sesuatu yang di depannya. Setidaknya teruslah menebar kebaikan. Teruslah menebar keteduhan. Teruslah bicara yang mencerahkan. Tunjukan kemesraan dengan pasangan, pacar atau teman-teman sekitar. Tapi dalam porsi yang wajar dan seharusnya.
Berhentilah memaki, menghujat, atau bahkan menulis segala kelu-kesah, keputusasaan. Karena segala yang tragis dan buruk. Akan hanya menjadi tontonan bagi orang lain selayak realty show di televisi.




0 Response to "08 Mei 2018"
Posting Komentar